Saturday, July 4, 2020

Menurunkan Ego

Uuuugh rasanya kayak mau muntah.

Dasar tidak mau mengalah.

Lebih baik saya menyerah.

Tuesday, May 26, 2020

Catatan Ibun - My New Blog!

Hi!

Jadi, setelah berbagai pertimbangan, aku memutuskan membuat blog baru.
Karena menurutku, hidup ku udah berubah banget sejak aku menikah apalagi punya anak. Haha yes, kayaknya dari 2009-2017 aku gak berubah sama sekali hahahah, baru setelah punya anak aja aku merasa hmm beda aja hahaha. Mungkin menurutku pembahasan yang mau aku bahas ke dalam blog yang baru itu lumayan jauh berbeda, dan audience nya juga beda. So check it out!


Please please yang follow aku di sini atau ya mungkin suka baca-baca intip-intip, juga baca or follow blog aku di sana yaaa. Hahaha

Dari judulnya, sudah tau lah isinya tentang apa, tentang hidup jadi ibu-ibu! wkwkw dan juga lifestyle-lifestyle baru yang aku jalani. Ohya, aku bakal pindahkan sharing tentang zero waste dan parenting yang pernah aku share di sini, ke blog baru yaa karena itu dimulai setelah aku menikah. Ya intinya blog yang baru itu isinya tentang kehidupanku setelah berkeluarga.

Tentunya blog mychocolateshake kesayanganku ini tidak akan aku hapus, tapi mungkin akan aku samarkan eksistensinya (ya dari dulu udah samar kali wkw), soalnya aku yang di sini itu bocah banget, kalo di sana, emak-emak banget wkwkw. Blog ini akan tetap terisi kok dengan celotehan ku yang sekiranya tidak nyambung dengan tema dan audience di blog Catatan Ibun hehe.

Jangan lupa like comment and subscribe (wkwkwk)

Tuesday, November 12, 2019

Do You Worth a Perfect Life?

Sometimes we dream of a perfect life. Not just a dream, but sometimes you already think of the steps you would do to achieve it. You read, you make list, you plan. You know What, Why, When, Where, Who, How, to make it happen.
Like, you know the perfect way, you get up, pray, take bath, cook healthy for family, do chores, power nap, be productive, make money, sexy time, educate children, inspiring people, change the world!
Perfect body, perfect family, perfect house, perfect bookshelf, perfect vacation. You know exactly the steps, the way. BUT you just don't do it.
You know exactly the dream of perfect life can be achieved. You know it, but you just don't do it.
So how do you deserve that perfect life?

Wednesday, October 30, 2019

Disonansi Ibu-Ibu Millennial

Anak millenial itu pinter2 loh. Wajar soalnya orangtuanya berusaha untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang tinggi baik S1 maupun S2. Pasti lebih kritis, lebih conscious dan berwawasan luas dan terkini.

Masalahnya, saat anak2 millennial ini berubah jadi IBU Millennial, dia malah dicekoki 'ilmu turun temurun" mengenai parenting atau perawatan anak. Salah atau benar nya lihat di mana? Let's see..

Bagi ibu2 millennial yang sudah sekolah tinggi2, pasti gak afdol utk melakukan suatu hal tanpa BACA atau RISET terlebih dahulu. Apalagi soal pengasuhan anak. Apalagi jaman ini canggih, tinggal googling, tinggal beli buku online dikirim besok sampai, atau malah beli e-book aja tinggal click Bayar.
Tapi, bagi orangtuanya ibu2 millennial, pengalaman adalah guru terbaik.

Masalahnya, ilmu yang didapatkan oleh ibu2 ini, di banyak kesempatan tidak cocok dengan ilmu dari pengalaman orangtuanya. Apalagi yang berbau mitos. Tentunya ibu millennial ini mempertanyakan kebenaran dari 'ilmu' yang dipaparkan orangtuanya. Bukan serta merta merendahkan, tapi lebih ke cross-check dari ilmu terkini dan tentunya cross-check dengan hati nurani ibu.

Di sini terjadi disonansi. Alias kegalauan. Hehe
Do i believe this? Will i do it to my child? Is it right?

Nah masalah kemudian, terkadang ketika pihak orangtua ibu millennial merasa ilmunya tidak dipilih/dipakai, jadi malah merasa tersinggung, terhakimi, merasa dibodohi. Ibaratnya "lah berarti selama ini lu blg parenting gw salah?" Jadilah kami, ibu millennial di judge sok tau, gak bersyukur, ga menghargai, dsb dsb. Ujung2nya malah seringkali dipaksa untuk mengikuti 'ajarannya'.

Sebagai ibu millennial yang sayang orangtua, pastinya takut dong kualat kalo melawan orangtua? Akhirnya terkadang melakukan anjuran orangtua yang sebenarnya dalam hati tidak diyakini kebenarannya. Kadang tetep gak dilakukan kalau lagi gak bareng, gitu lah. Jadi, buat nyenengin aja biar ga dosa.

Jadi, siapa yang benar, siapa yang salah? Hmm yaa tergantung perspektif.

Well, itu cerita salah satu disonansi Ibu Millennial, yg kritis dan kebanjiran informasi terkini soal pengasuhan anak, tapi memiliki beban rasa syukur telah disekolahkan dengan baik oleh orangtua sehingga mau gak mau harus nurut dengan orangtua.

NB: Ini Ibu Millennial budaya timur ya hehe.

Wednesday, October 9, 2019

Pak, Bu, Kenapa Sih Ajak Anak Nonton Joker?

Sekarang ini lagi trending film Joker, film tentang kehidupan psikopat yang biasanya muncul di film Batman. Film ini memiliki rating 17+ alias rated R (Restricted). Lalu, banyak yang bilang film ini terlalu 'gelap' dari sisi psikologis sehingga muncul ketidaknyamanan, sehingga ada peringatan tidak resmi dari netizen untuk jangan ditonton oleh orang yang sedang depresi, atau sedang tidak dalam kondisi mental yang baik. Untuk berusia usia 17 tahun pun katanya disarankan untuk dibimbing saat menonton film ini (apalagi di Indonesia yang biasanya Mental Age anak usia 17 tahun masih kayak ABG labil)

Herannya di Indonesia, di studio di mana film Joker ditayangkan, banyak anak kecil dari balita sampai anak SD banyak yang hadir. I was like, please lah bapak ibu, emangnya dipikir anaknya belum ngerti apa2 meski usianya 3 tahun? Emang yakin anaknya yang SMP SMA udang 'mateng' secara mental untuk nonton film tanpa dibimbing? Emang yakin anaknya ga bakal jadi psikopat atau nyerap apapun hal negatif yang ditunjukkan Joker?

Emang siapa sih yang salah, orangtua atau pihak bioskop yang tidak tegas terhadap aturan rating film?

Aku bilang, dua duanya dong! Jangan asal nyalah2in pihak lain.

Pasti, akan lebih mudah bila adanya aturan yang tegas dari pihak berwenang yakni bioskop untuk menolak apabila ada yang belum cukup umur. Kalo perlu mah sampai nunjukkin KTP kalau yang dirasa ga sesuai usia (kalo di luar negeri gitu tuh soalnya kadang mukanya tua tapi ternyata belom 17 taun wkwk)

Tapi, ya sudah kalo negara ini belum maju, orangtua lebih maju dong. Tegas sama anaknya sendiri. Jangan asal ajak2 anak karena ga pingin ketinggalan film, tapi mengorbankan perkembangan psikis anak. Serius lho kalau anak ga bisa nangkap dengan baik, kalo ga dibimbing, bener2 bisa jadi psikopat kayak Joker! Anak2 itu pintar, jangan anggap anak bakal lupa atau tinggal dibilangin aja "jangan ditiru ya nak", tidak semudah itu Ferguso!

Hal ini sebenernya ga hanya terjadi saat ini aja di film Joker. Udah dari duluuu film film dewasa bisa ditonton anak kecil. Aku ngalamin loh, pas SMP diajak nonton sama temen2 film horor sexy Indonesia gitu (guilty i know). Anyway, bukan salah orangtuaku, karena mereka ga tau, aku yang bandel ga bilang2 kalau aku ke bioskop. Padahal dulu ke bioskop masih pake rok SMP, tapi segitu gak ada larangannya di bioskop.

Ga usah jauh2 di bioskop deh, di TV di rumah juga sering. Sinetron-sinetron yang rating 17+ atau tayangan lain dengan rating Bimbingan Orangtua. Bahkan film dewasa juga tayang malam2 di TV. Tinggal tugas orangtua yang gimana mendidik anaknya.

Dulu sih waktu kecil (kayak usia SD-SMP gitu) aku udah disuruh bobo jam 9, kalaupun ga bisa tidur, aku nonton film box office di TV macem Titanic gitu bareng orangtua-ku. Pas adegan2 ciuman atau sexy chanel dipindahin, atau disuruh tutup mata, atau ketika film terlalu sadis. Ya well, not the best way tapi, aku jadi tau, mana yang tabu mana yang sadis atau engga, dan bagaimana reaksi yang wajarnya. Misalnya ketika nonton film yang sadis ya meringis, gak tega, bukannya jadi excited lihat orang dibunuh. Karena ya pas nonton bareng orangtua, orangtuaku bilang kayak "aduh jangan dilihat nak, serem." Atau "jahat banget ya", bukan hanya diam saja.

Lalu kemudian aku jadi tau, kalo aku lagi nonton suatu film di TV bareng adikku, aku tau mana bagian yang harus dihindari mana yang tidak, mana yang harus diberi penjelasan mana yang tidak. I'll do the same way to my kids, probably better, karena aku gak mau tertutup saat bicara soal seks dan kekerasan, tidak seperti orangtua generasi X (hehe semoga).

Aku gak tau kalau orangtua lain bagaimana, tapi banyak sih anak2 skrg yang di kamarnya ada TV sendiri. Bahkan punya smart gadget di mana bisa streaming film di gadget ya kan. Udah ga ke filter lagi itu film2. Pantas lah Indonesia ga maju2. Anak2nya keburu berpikiran 'dewasa', bahkan mungkin secara gak langsung terdidik jadi anak yang tidak stabil secara mental, karena ditontonin film2 atau tayangan yang bukan usianya, meskipun cuma sekali!

Buat kasus di bioskop ini. Please, kepada pemerintah, tegaskan, beri sanksi pada bioskop yang membolehkan penonton yang bukan usianya.
Kepada orang tua, tolong lebih bijak. Pahami rating film dan alasan kenapa anak kecil harus dibimbing saat menonton SETIAP film.

Wednesday, October 2, 2019

Privilage is Luxury

Aku punya kenalan. Aku gak bisa bilang dia siapanya aku karena pasti obvious banget. Dia bukan dari kalangan berada dan berpendidikan tinggi memang. Intinya dia punya cucu berumur 4 tahun. Anak dan menantunya harus gali lubang tutup lubang untuk kehidupan sehari-harinya, tapi yang lebih berat adalah cucunya ini tidak mau makan, hanya mau minum susu dan snack seperti wafer atau biskuit. Jadi lah setiap hari orangtuanya harus mengeluarkan 50ribu untuk membeli susu Dan*ow, dan beli snack2. Itu cuma buat anaknya aja lho. Padahal menantunya hanya tukang ojek online dan anaknya ibu rumah tangga. Dia rela hanya makan nasi dan kerupuk atau bakwan agar cucunya minum susu. Gigi cucunya sudah gripis (aku nyebutnya gitu), rusak karena sering makan makanan manis.

Wow. Jujur, ilmu tentang memberi makan anak baru aku pelajari saat babyA lahir. Ilmunya memang banyaaak sekali. Banjir. Tapi semua ilmu itu make sense. Bagaimana sebaiknya anak makan, bagaimana mengatasi kesulitan makan, dan bagaimana membiasakan anak makan bersama keluarga, makan makanan keluarga dan justru menjauhi snack dan susu yang tidak diperlukan. Dan pastinya, berdasarkan yang aku pelajari, pola makan kayak di atas itu udah salah banget. Well, mamak milenial pasti udah tau kan seharusnya yang benar gimana?

And i can do nothing about it. (Well beside a little of extra money, dan obrolan2 kecil tentang gimana membiasakan anak makan)

Bagiku, 50rb perhari itu lumayan banget, bahkan kadang bisa untuk makan aku dan suami siang dan malam, plus makan anakku. I think i'm blessed. Dengan ilmu, informasi, dengan privilage, aku justru bisa menjangkau makanan yang justru lebih murah dari cucu kenalanku itu, padahal tingkat ekonomi keluargaku jauh lebih tinggi (alhamdulillah).

Aku juga sebenernya masih struggle dengan kebiasaan makan anakku. Karena babyA BLW, jadi aku kadang masih suka stress kalau makannya berantakan, sedikit, atau buang2 makanan. Tapi aku bersyukur banget, aku punya banyak akses informasi, akses ilmu, sehingga aku tau bagaimana yang baik, bagaimana step by step, bagaimana cara agar mengatasi masalah makan, aku juga mudah untuk konsultasi ke dokter apabila ada masalah.

Privilage is a luxury.

Bersyukur sebanyak2nya apabila kita tahu informasi meski sedikit. Karena banyak di luar sana (bahkan di dekat kita) yang gak tau, karena ga punya previlage.

Tuesday, October 1, 2019

You Don't Have to Explain Anything to Anyone

Maaf ya lagi-lagi ngomongin soal ibu2. Haha maklum emang udah jadi ibu2. Melihat fenomena ibu2 milennial sekarang ini yang semua punya instagram, belum lagi hobby sharing di Instagram, social media sekarang sudah banjir sekali ilmu soal parenting. Bahkan bukan hanya ilmu sih, lebih ke pengalaman juga. Aku sebagai netizen pun kadang tertarik dengan konten yang di share beragam ibu2 mulai dari yg terkenal sampe temen sendiri.

Ketika membaca konten yang dikemukakan ibu2 sharer itu, yang aku tangkap kesannya adalah, mereka selalu menjelaskan kenapa anaknya begini, kenapa anaknya begitu, kenapa keputusannya begini, kenapa begitu. Namun dalam kesan yang bukan free-sharing, tetapi explaining. Kesan yang kutangkap itu lebih seperti, "aku melakukan hal-hal ini karena seribu alasan, so don't judge me"

Ibu-ibu sekarang kayak takut di judge karena pilihannya dalam membesarkan anak, soalnya sekarang semacam ada "standar sosial" dalam mengasuh anak yang gaktau asal mulanya dari mana. Itulah yang jadi beban ibu-ibu milenial. Kayaknya ngasuh anak harus sesuai teori, harus perfect, dan... harus dishare di sosial media. Wkwkw. Emang social media itu isinya yang perfect2 aja yakan?

Mari balik lagi ke topik. Jadi, isi dari sebagian besar ibu2 sharer itu lebih kayak pembuktian2, bahwa 'ini lho aku sudah melakukan parenting sesuai teori'. Jadi lah muncul musuh dalam selimut ya kan, yang katanya sharing jadi rada shaming. Lalu timbul mom-competition secara tidak langsung. Jadi toxic lah intinya. Auto unfollow deh, haha.

Jujur aku lebih suka sharer yang genuine, benar2 sharing pengalamannya, pembelajarannya, bahkan berani menceritakan penyesalannya dan perasaannya. Bacanya juga jadi lebih free bukan malah tertekan. Lagipula, setiap anak, setiap orangtua itu berbeda2 dan tidak semuanya harus sama dengan teori.

You are the best parent for YOUR child.

bukan anak orang lain, jadi orang lain tidak berhak menjudge kamu, keputusanmu dsb. Apalagi kalo gak ditanya! Wkw. Be free, be you.

Thursday, September 26, 2019

Lyfe After Kid

Aku pikir, setelah aku menikah itu hidupku akan berubah. Saat itu, delapan bulan belum dikaruniai anak, ternyata tidak begitu banyak perubahan yang terjadi, tidak ada apa-apanya. Lol, no offense to my husband.

Karena, hidupku baru benar-benar berubah ketika sudah punya anak. I mean, i never changed this much. Mulai dari perilaku, kebiasaan, bahkan perasaan. Waktu baru nikah, ok rasanya seperti new life, new responsibility. Tapi bagiku kayak, yaudah ngekos bareng orang lain gitu (karena aku dulu emang ngekos bareng suami), i have to share everything, share bed, budget, responsibility, etc. Tapi, aku baru sadar, aku baru paham bagaimana makna Responsibility, setelah punya anak.

Waktu baru nikah, iya sih rasanya cinta banget sama suami, but that's it. Tapi ketika punya anak, rasanya melebihi cinta. I would die for love, tapi aku ga akan mati untuk suamiku sih (lol, no offense again, beb), tapi ketika lihat anakku, oh God, i really would die for him. Romeo and Julliet are bullsh**, there's no love like that. Aku baru paham bagaimana yang namanya Love.

Aku mengerahkan semua pikiran, tenaga, dan perasaan untuk anakku. Semua kegembiraan, kekhawatiran, sayang, sebal, semua karena anakku. Pilihan bajuku, pilihan makananku, pilihan furniturku, pilihan filmku, bahkan pilihan jam tidurku, semua untuk anakku. Aku bisa egois terhadap suamiku, tapi aku ga bisa (atau gak boleh ya) egois terhadap anakku.

My life changed, my parents changed, my friends changed, even my previlages changed. Tidak pernah ada perubahan sebesar ini di dalam hidupku. And that's kinda freaks me out.

Membuatku berpikir, sebenarnya seluruh hidup kita ini untuk anak, ya gak sih? Meskipun kita belum punya anak.
Dari kecil kita disuruh sekolah agar bisa kerja dan menghidupi anak dengan layak.
Saat menikah, bukannya ditanya kabar malah ditanya anaknya mana alias "udah hamil belom?"
Abis punya anak, ya wis, bahkan eksistensi kita kalah sama eksistensi anakmu yang baru lahir ke dunia. Bahasan tentang anak akan lebih panjang daripada soal kabar kita.

Kadang aku iri sama anak-anak. Apa coba kontribusi mereka di dunia ini, tapi semua orang begitu sayang dan peduli dengan mereka, bahkan saat mereka belum ada di dunia?

Wednesday, September 25, 2019

Membandingkan Anak

Dear moms,
Tidak perlu khawatir apabila anak belum bisa merangkak, tidak perlu khawatir apabila anak belum bisa berjalan, belum bisa tepuk tangan, atau mengucapkan kata tertentu.

Begitu pula yang lain, tidak perlu sombong apabila anaknya berjalan duluan, tidak perlu pamer apabila anak bisa makan sendiri duluan, bisa bernyanyi duluan.

Nanti saat dewasa, anak ibu tidak akan ditanya oleh bos nya, atau karyawannya atau teman2nya, pada usia berapa ia bisa berjalan, pada usia berapa ia bisa makan sendiri.
None of it matters.

Mungkin memang ada kebanggaan tersendiri sebagai orangtua apabila anaknya sudah mencapai milestone tertentu. Tapi jangan sampai, perbedaan milestone anak ibu dengan anak yang lain membuat ibu memberikan "standar" nilai terhadap anak ibu. Dengan membiarkan diri ibu membuat standar tersebut, itu akan menanam kebiasaan pada diri ibu sendiri untuk selalu membanding2kan anak hingga ia besar.
Please break the chain. Anak bukan ajang lomba, ia adalah individu indipenden.

Anak ibu belum bisa jalan dari teman seusianya bukan berarti dia bodoh, anak ibu belum bisa bernyanyi seperti teman2nya bukan berarti dia tidak bisa.
Anak ibu sudah bisa berlari lebih dahulu bukan berarti ia pasti jadi bos dari teman2 lainnya, anak ibu sudah bisa bicara duluan bukan berarti ia akan selalu juara kelas.

Biarkan anak ibu, tumbuh sesuai fasenya sendiri, sesuai keinginannya sendiri. Anak ibu tidak peduli apabila ia belum bisa merangkak, atau sudah bisa berjalan. Yang ia pedulikan adalah apakah ibunya, ayahnya, orang2 sekitarnya sayang padanya, dapat ia percaya, dan selalu ada untuknya?

Sunday, September 22, 2019

Gemuk Tidak Selalu Sama Dengan Sehat

Udah lumrah banget di Indonesia. Bayi dan anak kalau gemuk itu dibilang sehat. Semakin gemuk, semakin baik, semakin sehat.

Ibu ibu pun berlomba-lomba untuk menaikkan BB anak. Anak orang gemuk langsung cari tips makanan booster berat badan anak dan stres kalau anak makannya tidak sesuai standar mereka. Padahal anaknya, normal. Masih sesuai kurva pertumbuhannya, tidak gizi buruk atau apa.

Gemuk itu bisa berarti baik, apabila, masih dalam batas tertentu. Yang dikhawatirkan, apabila orang tidak tahu atau tidak sadar ia telah melewati batas. Obsesinya begitu tinggi sehingga membutakan.

Angka obesitas anak2 selalu meningkat tiap tahunnya. Salah kaprah yang menyatakan bahwa gemuk adalah sehat sudah marak sekali. Dibilang tulangnya besar lah, hobi makan lah. Padahal, overfeeding, atau pemberian makanan tinggi lemak dan gula yang tidak baik.

Mungkin ibu bisa berbangga hati anaknya gemuk dan "sehat". Tapi anaknya mungkin saat besar akan tersesat, kesulitan mengontrol makannya, berusaha mati2an ngegym agar tubuh menjadi ideal, berusaha meningkatkan kepercayaan diri karena tubuhnya yang semakin buruk, dan lebih lagi berusaha "survive" dari segala penyakit yang menyertai kegemukannya. Diabetes, jantung, liver, belum lagi penyakit musiman yg seringkali menyerang org kegemukan. Semua itu untuk kebanggaan sementara si ibu selama si balita kecil dan gemuk.

Gemuk itu obesitas, bukan sehat.

Aku tau, kita harus mencintai diri kita apa adanya. Tapi jangan cintai diri kita yang rusak.

Gemuk itu karena apa? Kelebihan apa yang kita masukkan ke dalam tubuh. Allah swt. tidak suka manusia yang berlebih2an dan melewati batas kan?
Ya salah satunya batas Index Massa Tubuh kali ya. Huhehe

Saturday, September 21, 2019

Bye, Social Media! (Well, Most of It)

Sudah lama, aku ingin jauh dari social media. Bukan karena keinginan tapi tuntutan kali ya, jaman sekarang harus punya social media. Dulu, aku begitu FOMO (Fear of Missing Out), jadi aku punya semuaaa social media dari friendster, myspace, FB, twitter, linkedin, plurk, sampai skrg instagram. But they drove me crazy. Aku baca, terlalu banyak social media menimbulkan potensi depresi. Jadilah mulai satu persatu aku tinggalkam social mediaku. Tapi kembali lagi, karena aku FOMO, akun2 yang kutinggalkan kubiarkan saja. Manatau, akan terpakai lagi.

Aku mulai memfokuskan diri di satu sosial media, Instagram. Aku pikir ini yang paling cocok olehku, aku bisa sharing banyak tentang..apapun. Akupun baru sadar ternyata aku orangnya cenderung oversharer. Apa saja aku bisa share. Mostly unek2 sih, ya kayak isi blog ini.
Suatu hari, aku muak juga dengan instagram. Aku kepikiran untuk meninggalkannya (tapi masih sayang karena aku mulai menyukai sharing yang lebih serius), jadi aku kepikiran untuk Deactivate Account.

Singkat cerita, accidently Instagramku malah ke Delete. Hmm diceritain aja deh, jadi tuh aku minta tolong suami yang punya laptop untuk Deactivate Instagram, karena kan cuma bisq dari laptop. Eh suami ngiranya di delete. Salah aku juga karena aku dari dulu suka curhatnya kalk aku pgn delete social media, dan ga ngingetin kalau cuma Deactivate,  bukan Delete.

Tapi, yaa kok ga sedih gak kehilangan gitu ya. Tandanya mungkin memang Instagram tidak begitu spark joy. Ada sih bosan dan rindu, gak takut FOMO, cuma greget ga bisa banyak sharing apapun. Yah mungkin nanti kubuat lagi beberapa bulan ke depan.

Anyway, social media lain yang kutinggalkan sudah dihapus. Soalnya udh  gak pernah dipakai, dan takut malah bumi makin panas. Ngerti gak?
Kalo ga ngerti, googling aja kenapa database kita yang ke save di dunia maya bisa bikin bumi makin panas.

Positive nya, aku bisa produktif ngeblog lagi, ngeluarin unek2 di sini. Bagiku blog adalah sahabat tanpa syarat. Jadi tempat curhat, ditinggalin, balik lagi, tapi tetap setia dan mau mendengarkan. (Kalo di dunia nyata jangan begitu, jahat namanya, datang kok kalau butuh aja)

Gula Membunuhmu

Gak banyak yang tau, kalau pembunuh yang paling kejam itu bukan yang terlihat seperti racun. Bukan rokok, bukan alkohol, bukan narkoba. Tapi adalah sesuatu yang manis, yang selalu bikin kita happy. Percaya diri, bahagia, puas. Gak pernah kita sangka.

Gula.

To the point aja. Sugar kills you.
Di semua makanan dalam kemasan. Di nasi. Di kecap. Di saos. Di susu. Di mana manaa ada. Gula mempunyai kekuatan adiktif 4x lebih besar daripada narkoba.
And it breaks your body.

Asli. Kalau udah ngerasain lama ga makan gula, tiba2 lemah iman di hadapan kue kue dan coklat, dijamin: lemes, pusing, pegel, bahkan sampai kayak mau flu.

Tubuh kita begitu kerja keras selama ini mengolah makanan "kotor", dan kita dengan percaya dirinya bilang "saya jarang sakit". Ya, karena tubuh kamu berbaik hati bekerja keras untuk mengolah makanan kotor itu sementara kamu leye2 sambil makan terus.

Tapi kamu gak tau berapa lama lagi tubuhmu kuat melakukan itu.

Sampai akhirnya.

Crack.

Nyamuk

Nyamuk berdenging melewati telingaku.
Hiiih.
Ah.
Kemana perginya sih?

Harus kucari atau kubiarkan saja?
Berkeliling ruangan menghisap darah kami?
Harus berapa kali menghisap sampai kenyang dan berhenti mengganggu kami?

Ck.

True Friend

Ternyata,
Yang true friends ternyata bukan true friends.
Malah yg not expected lah yang menjadi true friends.

Hidup dgn suami dan anak itu beda emg. Bisa berubah duniamu dan sekelilingmu. Tanpa kamu kehendaki, seberapa besarpun kamu berusaha.
Bisa tau yang baik baik tapi juga yang buruk2 dunia.
Bisa lebih memahami dunia, buat anakmu.

Aku ingin anakku menjadi true friend-ku.
Dan aku true friend-nya.

Yang pastinya.
Seberapa banyak buruk2nya suamimu yang bikin kamu jengkel.
Cuma dia ternyata yang paling true friend.
Sayang deh.

Yang lainnya mah.
Bullshit.
Bahkan kalau ku mati, aku ragu mereka datang.

Apa sih artinya true friend dalqm bahasa Indonesia?
Aku gamau ngartiin jadi "teman sejati"
Karena yang kumaksud adalah "teman beneran"
Tapi pasti tidak ada dalam kamus.

Thursday, November 2, 2017

Untung Saja Menikah

Aku berfikir, melihat fenomena jaman sekarang ini, banyak anak-anak muda yang begitu dekat sekali terjerumus dalam bahaya virus merah jambu. Virus merah jambu memang wajar, tapi pasti ada bahayanya, dan mereka begitu dekat dengan hal itu. Jadi, kalau aku melihat ada anak-anak yang sudah pacaran lama, bermesra-mesraan lama, lalu menikah, saya sendiri entah kenapa merasa lega begitu, "untung mereka menikah". Bisa jadi kan salah satu ada yang sudah dirugikan lalu mereka tidak jadi menikah? Bisa jadi pula keduanya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya sebelum menikah? Makanya saya berfikir, "Untung saja mereka menikah".

Image result for children couple photography

Di satu sisi aku sangat bersyukur sekali mereka sudah menikah, sudah halal. Namun di lain sisi aku memikirkan kalau mereka punya anak, duh, kayaknya jangan dulu deh. Aku merasa mereka belum matang, belum siap, masih labil. Aku tidak berhak menjudge, tapi tentunya dari postingan-postingan mereka di medsos aku bisa menilai seperti apa mereka kan? Seawam-awamnya aku sebagai anak psikologi, pasti mengerti 'usia mental' seseorang dari postingan media sosialnya.

Bingungnya, sudah jadi budaya orang Indonesia kalau ada orang menikah langsung ditanya "sudah isi?". Tak jarang pula yang menjudge "jangan menunda anak, nanti sulit punya anak". Seakan Tuhan jahat banget kalau nunda anak apapun alasannya, jadi dipersulit. Jadinya orang yang baru menikah merasa tidak nyaman, dan siap ga siap mereka memutuskan punya anak. Aku sebenarnya kasihan, mereka dipaksa melakukan sesuatu yang mereka sendiri belum paham resikonya.

Memang, dalam agama kita memang tidak boleh takut punya anak, karena Allah akan menjamin rezekinya. Tapi bukan masalah keuangan, toh biasanya anak-anak itu juga sudah mapan, bahkan lebih mapan daripada orangtuanya, tapi ini masalah tanggung jawab agama, moral, dan pendidikan anaknya. Aku melihat anak zaman sekarang begitu ingin eksis di sosial media, ingin berkeliling dunia, masih belum mengerti jati diri. Jadilah banyak anak-anak yang ditelantarkan (secara emosi), tidak memiliki kedekatan emosional dengan orangtuanya, karena orangtuanya begitu workaholic atau sosialita. Meskipun, anak-anak itu hidup dalam kecukupan dan pendidikan yang baik, namun ia menjadi bully di sekolah atau bergaul dengan anak-anak yang kurang baik, tidak paham moral dan agama. Ketika mereka dewasa mereka juga menjadi anak-anak yang aku bilang "untung saja mereka menikah". Cycle-nya jadi berputar-putar.

Tapi, besides all of that. Lagi-lagi, untung saja mereka sudah menikah. Daripada punya anak tapi belum menikah. Hehe.

Sorry, Old Me

Aku ini orangnya penyayang. Maksudnya teh suka "sayang" sama hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan atau sejarah hidup. Jadinya, anaknya suka hoarding, mengumpulkan barang-barang lama sampai bulukan dan gak tau gunanya buat apa, karena sayang untuk dibuang. Akupun juga merasa tidak rugi untuk menyimpan semua barang itu, toh semuanya berkesan, menyimpan cerita dibaliknya, mengingatkan pada memori.

Image result for writing diary.png
(source)

Aku punya diary kecil, dulu namanya orji, dan hits banget di kalangan anak SD. Orji yang kertasnya bagus-bagus lucu-lucu aku koleksi dan ditukarkan dengan teman-teman aku. Tapi kertas yang biasa saja dan banyak, aku jadikan buku diary. Jangan salah, dulu aku rajin sekali menulis diary. Meskipun dulu aku bodoh dan lugu (tapi tetap imut), dan gak bisa mengambil insight dari apa yang terjadi dalam hidup, aku begitu tulus dalam menuliskan hal-hal yang terjadi dalam sehari-hariku. Saat kubuka kembali orji masa kecilku, terkadang aku tertawa sendiri "bodoh, begini doang ditulis". Aku lebih banyak menulis bagaimana kegiatanku dari bangun pagi sampai tidur, dibandingkan apa yang aku alami hari itu. But hey, bebas toh? namanya juga anak kecil. Ya meskipun dulu aku anak kecil bodoh, aku ingat kok dulu ada teman aku yang lebih rajin lagi setiap hari nulis diary nya panjang banget kayak novel. Tapi, menulis diary itu menyenangkan sekali.

Disamping kebodohan itu aku melihat di sekeliling orjiku, begitu banyak tempelan-tempelan kolase yang menghias buku orjiku. Bahkan aku sampai kagum sendiri, "dulu aku bisa ya bikin begini?". Begitu detail dan rapi karayaku di orji itu. Aku jadi ge-er, ternyata aku ada bakat kreatif (tsaah). Yah, ga nyangka aja dulu aku bisa bikin prakarya seperti itu, kepikiran dari mana gitu. 

---

Hari ini aku sedang membersihkan file laptopku. Kebetulan laptopku baru saja sembuh dari rusak yang cukup lama dan sekarang sudah kembali bisa digunakan seperti laptop baru (caiillaaah). Aku melihat file-file lamaku. Aku dulu suka menulis cerpen, tidak banyak yang aku publish di blog, kebanyakan cerpen-cerpen gagal menang lomba di koran atau blog competition. Pada intinya, banyak yang aku simpan sendiri. Tapi entah mengapa aku heran sendiri, iseng aku baca satu dua cerpenku, aku merasa tidak pernah menulis itu. Aku merasa membaca tulisan orang lain, tapi yang gaya bahasa dan penulisannya sama denganku. Kadang bahkan aku terharu atau tertawa sendiri membaca yang katanya tulisanku itu.

---
Bahkan aku baru ingat, aku punya blog yang lain selain ini, yang merupakan kumpulan puisi-puisi buatanku. Lagi-lagi, aku tak percaya kalau aku pernah membuatnya. Aku seperti, "apa ya yang dulu aku pikirkan?". Kubaca satu dua, tak menyangka bagus juga. Ada juga sih yang aneh dan terlalu dipaksakan, tapi ternyata kumpulan puisi itu bisa dibilang cukup banyak untuk memenuhi suatu blog yang sepi. Kalian bisa lihat halaman itu di dashboard My Other Pages.

---
Sungguh aku heran. Pertama, apakah dulu aku memang orang yang cukup kreatif dan produktif sehingga bisa membuat karya-karya yang bahkan diriku sekarang tidak percaya aku bisa membuatnya.
Kedua, apakah diriku yang dulu tidak kecewa dengan aku yang sekarang? Pemalas, tidak termotivasi, mudah menyerah, dan paling penting, tidak produktif. Plakk.

Duh ada yang bisa tampar aku?

Hehe.. maaf ya aku yang dulu, aku yang sekarang terlalu sibuk, seakan semua badan digerakkan bukan oleh otak, tapi oleh dengkul. Otaknya hampir mati, mengerjakan rutinitas, yang juga tidak terlalu ia cintai. Semoga kamu tidak kecewa ya, aku yang dulu.

Wednesday, April 19, 2017

Jadi Ibok yang Baik

Salah satu pertimbangan yang muncul berbarengan dengan pertimbangan ketika akan menikah pastinya berhubungan dengan anak. Iya, sudah paket namanya ketika akan menjalani suatu pernikahan, pasti juga harus memikirkan tentang anak. Entah itu insyaAllah diberikan rezeki cepat, maupun nanti, intinya pasti suatu saat ada rencana untuk memiliki anak.

Bagi anak-anak (jjiaaah anak-anak, hehe) zaman sekarang, rasanya ideal banget nikah muda dan langsung punya anak sehat pintar macam Kirana gitu. Pasti pada pengen bisa cepet-cepet ngasuh anak, jadi ibu yang baik yang bisa nerapin psikologi keluarga. Tapi kok aku engga ya. Aku emang dari dulu anaknya biasa aja sama yang namanya ngelihat anak, ngelihat bayi. Kalo orang bilang mungkin "kurang luwes" sama anak-anak. Meskipun aku suka ngajar anak-anak, itu ya karena aku cukup aware sama pendidikan anak, buka serta-merta suka anak-anak. Aku sebel juga kadang sama anak-anak kenapa begini begitu, tapi aku sadar kalau mereka memang masih anak-anak. Kadang heran yang bilang kalau Syaki itu keibuan banget orangnya. Aduh salah deh kayaknya, tapi di-Aamiin-in aja deh, hehe.

Image result for return of superman triplet
(source)

Kenapa ya, apa aku yang emang kelainan, atau kurang tereksposure sama media sosial. Habisnya aku melihat anak-anak jaman sekarang begitu mengidolakan Iboknya Kirana, atau bapak Song-Il di Return of Superman. Bagus memang sih, mereka bisa memberikan contoh parenting yang baik, jadi orang-orang ikut belajar. Mungkin orangtua lain jadi bersemangat, untuk jadi orangtua yang baik juga untuk anaknya nanti, jadi punya rencana juga apa yang baik-baik dilihat di media, akan diterapkan juga.

Namun di lain sisi, kayaknya aku cukup skeptis sama media. Habis, yang dipampang yang bagus-bagus doang. Kenapa sih engga ada acara atau media/akun parenting yang menampilkan anak yang diasuh oleh keluarga muda yang masih tinggal di kontrakan kecil gitu. Ga banyak mainan-mainan bagus untuk tumbuh kembang anak, ga ada apartemen luas untuk lari-larian anak dan yang punya banyak kaca dengan pemandangan langit dari atas. Kenapa engga ada akun yang menampilkan gimana usaha orangtua menengah ke bawah untuk mengasuh anak-anaknya. Gak perlu kok pake acara sedih-sedihan dan nangis-nangisan, emangnya orang kayak gitu harus selalu dikasihani? Atau mungkin akun orangtua dengan anak berkebutuhan khusus?

Entahlah, menurutku malah agak kejam, menampilkan video pengasuhan anak yang sebenarnya orangtuanya sudah memiliki banyak kemudahan, seperti anak sehat, apalagi pintar, dan juga cukup dari segi materi. Jadinya, anak-anak muda jaman sekarang, termasuk eyke kayaknya, jadi merasa harus bisa memiliki banyak hal agar anaknya bisa bahagia, bisa pintar. 

Ada, masa-masa aku overthinking, negative thinking.. "gimana kalau aku ga bisa jadi Ibu yang baik?", "Gimana kalau aku ga bisa memberikan apa yang terbaik untuk anak dan keluarga karena masalah finansial?" Bahkan aku itu orangnya paling sering menghilangkan aplikasi sosial media di gadget, biar itu, ga down dan ga takutan ga bisa seperti orang-orang bahagia di medsos. Lebih baik ga update kan daripada ga bahagia? hehe. Yasudahalah, kita bisa hanya ambil baik-baiknya saja kan? Soal nanti nasib kita akan bagaimana, itu urusan Allah SWT. Ambil dan lakukan yang positifnya aja, jangan ngiri, hehe.

Mau bagaimanapun nanti, semoga aku bisa jadi Ibok yang baik. Aamiin.

Sunday, February 19, 2017

Selingkuh

Eits, jangan salah dulu. Ini bukan aku yang cerita tentang selingkuh. Bukan juga tentang aku yang diselingkuhin. Baca dulu sampai akhir, karena plotnya akan berubah. Peace.

Image result for unhealthy relationship photography
(source)
Dari kecil, aku ga pernah begitu percaya sama yang namanya laki-laki. Makanya aku pacaran aja baru sekali itupun pas kuliah, pas aku udah agak "sadar sama kehidupan". Kedua kalinya sama orang yang bakal jadi calon suami aku nanti (aamiin). Sejak kecil, aku merasa seharusnya laki-laki itu tidak boleh dekat-dekat dengan perempuan. Meskipun di agamaku memang dianjurkan untuk seperti itu,  namun dalam lingkungan keluargaku tidak begitu mengekang aku untuk bergaul dengan laki-laki. Tapi aku sendiri juga sudah tidak ingin berdekatan dengan laki-laki. Aku merasa laki-laki itu sangat berbeda dengan perempuan, laki-laki itu menyebalkan, memiliki jalan pikir yang berbeda. Walaupun begitu, tetap saja terkadang aku bisa suka sama seorang laki-laki. Bahkan sama pacarku sekarang, aku masih merasa sebal dengan dia, ya karena dia laki-laki, tapi toh kenapa aku masih ingin menikahi dia? Padahal kalau dengar ceritaku selanjutnya, akan membuatku tidak habis pikir.

Aku tuh ngga habis pikir. Cerita tentang perselingkuhan begitu seringnya terjadi, bahkan bukan cuma cerita, tapi tindakan nyata, di lingkungan sekitarku bahkan lingkungan keluargaku. Dan hal ini membuat aku semakin tidak percaya dengan yang namanya: laki-laki. Bukan berarti aku merasa bahwa 'kaumku' adalah kaum yang paling baik diantara kaum laki-laki dan perempuan, tapi buktinya, banyak disekitarku wanita yang tersakiti karena suaminya selingkuh bahkan ketika sudah memiliki anak. Well, kalau yang selingkuh itu laki-laki, berarti ada juga pihak wanitanya kan? Berarti ada juga dong wanita yang selingkuh? Benar!

Tapi kok gini ya, kebanyakan laki-laki yang selingkuh itu yang sudah beristri, beranak, atau terkadang istrinya sudah tidak cantik lagi menurut suaminya. Dan bisa-bisanya, kebetulan sekali ya, perempuan yang menjadi selingkuhan itu perempuan muda (atau terlihat muda), sudah bercerai atau belum menikah, atau memang sudah punya anak tapi dia ada pembantu buat ngurusin. Jarang kan ibu-ibu dewasa madya yang selingkuh sama laki-laki seumurannya apalagi lebih muda? Mungkin ada aja sih, tapi jarang kan?? *ngotot

Maksud aku, how could you?? Apakah itu karena kita kaum wanita yang kalau semakin tua semakin buruk rupa dan tidak mempesona sedangkan kalian kaum laki-laki semakin tua semakin kaya dan bisa memperdaya wanita muda nan cantik jelita? (jago banget gue bikin irama cem dangdut). Maksud aku, apa salah istrimu? Kalau masih muda belum kawin, ya gapapa deh, meski jahat juga sih namanya. Tapi ini kan udah beristri, sah, di mata Tuhan, beranak, memiliki tanggung jawab. 

Apakah kalian memang ingin memperbanyak keturunan, atau membuat keturunan yang beda mukanya dengan yang sudah kalian miliki? Kalau kalian ngerasa istrinya ngga cantik lagi, udah dikasih uang belum ke istrinya untuk ke salon dan beli skin care?  Apa istrinya segitu cerewetnya hingga kalian ga tahan lagi diatur biar rumah tangga beres? Apakah istrinya tidak penurut untuk melakukan semua hal yang kalian mau sedangkan istrinya juga harus melakukan banyak hal agar rumah tangga beres dan anak terasuh dengan baik disaat kalian kerja? Jujur sedih banget setiap mendengar ada kerabat-kerabat wanita yang tersakiti karena diselingkuhi suaminya. Padahal mereka masih sayang dengan suaminya, tapi suami mana yang masih sayang dengan istrinya kalau dia sudah tega untuk selingkuh. 

Actually, penelitian sudah banyak menjelaskan. Coba buka di sini. Yah, kenyataannya men cheat more than women karena memiliki dorongan seksual lebih tinggi. Banyak juga yang mengatakan bahwa pasangannya kurang menarik lagi. Ada juga karena kebutuhan emosionalnya kurang terpenuhi. But is this life is only about sex? Have you think about the women side? Penelitian juga mengatakan bahwa jika wanita selingkuh itu lebih karena kurang kebutuhan emosionalnya, dan merasa kesepian. Tapi secara kuantitas, sudah terbukti kalau laki-laki yang lebih banyak selingkuh daripada perempuan. So, it's not only about you guys.. Lagipula laki-laki bisa lebih mudah selingkuh karena bisa lebih beraksi duluan terhadap wanita kan? 

Aku sedih membayangkan jika aku nantinya yang akan ditinggal oleh suami karena ia bertemu wanita yang lebih dariku. Aku ga habis pikir sih, aku kira pernikahan itu janji. Why don't people just be loyal? Toh di penelitian disebutkan selingkuh itu bukan karena bosan akan rutinitas, tapi karena memang mencari kesenangan baru aja. Tapi kenapa sih ngga cari kesenangan baru sama pasangannya aja? Oke! Aku memang belum mengerti karena aku belum menikah, makanya wajar dong kalau aku ngga habis pikir?

Aku berpikir apakah memang itu kodrat laki-laki? Bahkan menikahi lebih dari satu istri diperbolehkan di agamaku. Apakah aku harus meminta suamiku nanti jujur saja apakah dia ingin menikah lagi atau tidak? Daripada dia selingkuh, mending dinikahin aja iya kan? Tapi, apakah aku akan rela dimadu? Jujur aku masih tidak memahami mengapa Tuhan menciptakan jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Berarti agar aku adil, aku harusnya memperbolehkan suamiku untuk menikahi wanita lain toh? Kan boleh, asal suami aku adil kan? Mungkin itu mulia, tetapi...apa aku sanggup?

Apakah aku juga nanti akan tergoda untuk selingkuh, jika suamiku tak sesuai harapanku? 

Naudzubillah.. mari luruskan niat. Menikah itu untuk ibadah.

"Young Marriage": Will it be Happy Ending?

Dear all,
so I've been planning on my marriage recently. So, "yay!" for me? Um basically, I've been happy for this, because maybe.. I like challenge. Marriage is a challenge, right? I've been dreaming of getting away from my parents and start a new life with a lifetime partner. Struggling together to build my own kingdom. Sounds like a Disney story right?

Image result for wedding ring photography
(source)

The truth is, I've been facing a dilemma, mostly because of other people judgements. You know, these days, "young marriage" has never been that 'fancy' anymore. People nowdays seems to think more of their career or financial fulfillment before they got married. And they think that people that married young, is a foolish (trust me, I heard one say this kind of thing). They think people that have young marriage is dreaming of a happy ending, and not thinking about the struggle, the sacrifice, and other worst situations.

You know what, I'm aware of that, guys!
Even though I'm more like a Disney girl, I don't dream and think like Disney girl. I know how hard it is to maintain a relationship with someone, who is basically a total different from you (re: a guy). I know how hard it is to maintain your financial needs while you're dreaming of travelling around the world or buying fancy lipsticks. I know how hard it is to keep your head sane while your baby is crying and while you need to get your households done. You know what, I know, I'm aware it. 

I'm an overthinker. And moslty, an overthinker got furious and don't want to get married or run away from getting married (you know I've been reading some articles that says it is definately a manifestation of frustration of marriage thinking). They always think that being married will take your freedom forever. You will have financial struggle, you can not travel freely, it's hard to take higher education, you just can't do what you want and become less happy. Especially for a woman! Well, I don't think about what happy things I do when I've got married, but I think about what I CAN do to be happy when I've got married.

I do not want to judge people who don't get married till 30 or above, I don't want to say that people "delaying" marriage. It's about our choices right? But I also don't want people judge me because I will get married "too early", you think I'm 10 years old? And also it's a same thing about having a child. No one has the right to judge people by their choices. 

So, if you guys ever wondering, here are my reasons to have a "young age marriage":

1. Because he asked!
I could've say no, but I have no reason to say no. You know, being married in my religion is one chance to complete half of my religion. I'm not Anna from Disney Frozen who want to get married when meeting a guy for the first time. Of course I've been through that dilemma. "What if this is the worst choice?"/ "what if he's not the one?". But I have this friend that tells me "nikah itu ibadah". Marriage is a part of worshiping God. As long as your will is to Allah SWT, whatever choice you take will be a good way. Well, he is the first one to ask me to get married, and I'm in a proper age, so... :)

2. Because I'm 23!
I'm not young, I'm old, oh God. How do you supposed to think that you're still young when you're already 1/4 of your lifetime (or maybe 1/3? you never know until when you'll be alive right?). Actually I've already made my lifetime plan, including when will I want to have kids. I'm planning to have my first child in age 25 maximum. By that time I will see my first child graduate college at 47, and maybe watching my first child's wedding at 50. And not mentioning the second child or next! I just don't want to get very old before my children can live alone by theirselves (or with their halal partner). Ok then, BUT..... I didn't set when will I get married. (But of course it has to be before having first child! duh!). So I think this age is a good choice I would take to get married.

Well, I have other personal reasons that I don't need to share. But my point is, I'm not getting married because I want a happy ending. Because marriage is not a goal, but it's a beginning of a process. And it will always be a process until you die. 

#roadtomarriage

Monday, January 2, 2017

Resolusi 2017

Finally, it's here.
Image result for 2017 image
(source)

Sungguh cepat tak terasa tahun ini, 2017, sudah hadir. Oke, aku harap semua akan mengalami hal-hal baik, lebih baik daripada tahun sebelumnya. Kayaknya ini pertama kali aku menulis resolusi awal tahun (kalau gak salah, habis sudah terlalu lama nggak ngeblog). Berdasarkan postingan galau aku sebelumnya, daripada menyesali yang sudah berlalu, lebih baik aku membuat perencanaan kedepannya 

1. Travelling
Baik itu keliling Indonesia, maupun ke luar negeri, aku ingin melakukannya, minimal 1 kali dalam setahun. Meskipun aku anggap itu merupakan jumlah yang sangat minim, tapi aku ingin melakukannya. Sebelum aku mati, aku ingin melihat dunia, itu cita-citaku.

2. Menikah
Hihi. I've been planning this with my partner since 2 years ago. Sekarang tinggal menunggu hitungan bulan, semoga di hari H akan lancar. Aamiin. Anyway aku sedang sangat menikmati masa-masa persiapan pernikahan, menurutku semua adalah hal baru bagiku. Tahu sendiri, aku ini orangnya suka dengan tantangan, dan menurutku persiapan pernikahan ini adalah tantangan yang menyenangkan. Hehe.

3. Memiliki berat tubuh Ideal
Sejak aku menjalani hidup sehat, makan sayur dll serta olahraga, jujur aku ketagihan. Ketagihan karena hidup sehat itu enak. Secara aku merasakan betapa indahnya lemak-lemakku terbakar, aku merasa aku masih setengah jalan untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Ya, minimal pahanya kayak Ariana Grande gitu deh (lah?) haha. Hidup sehat!

4. Rutin menulis blog
*Peluk terharu untuk Mychocolateshake*. Maaf ya blog, padahal kamu yang suka aku curhatin dengan curhatan-curhatan sampah, tapi kamu yang paling gampang aku lupain. Aku ingin aku lebih rajin menulis blog, minimal 1 postingan 1 minggu (itupun sudah sangat minim). Bismillah!

5. Mengaktifkan kembali Keluarga Bahagia Indonesia
Mungkin beberapa orang ada yang sudah tahu. Aku dan temanku, Hastin, merintis komunitas Keluarga Bahagia Indonesia (KBID). Awalnya kami buat dalam media Sosial Twitter, kemudian kami buat halaman di Facebook. Tapi, itu semua sudah tidak aktif! Semua karena kami mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan kami. Namun di tengah kesibukanku, aku tak hentinya memikirkan KBID, begitu banyak draft-draft postingan yang aku buat namun tak selesai. Aku ingin lebih banyak mengeluarkan pemikiranku di bidang Parenting & Pernikahan. Oh ya, saat ini KBID sudah ada versi Weebly. Cek di sini.

Lagu ini masih hits di kepala aku seperti zaman-zaman hitsnya lagu Frozen, hehe. Best movie & song in 2016.

Popular Posts