Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, February 19, 2017

"Young Marriage": Will it be Happy Ending?

Dear all,
so I've been planning on my marriage recently. So, "yay!" for me? Um basically, I've been happy for this, because maybe.. I like challenge. Marriage is a challenge, right? I've been dreaming of getting away from my parents and start a new life with a lifetime partner. Struggling together to build my own kingdom. Sounds like a Disney story right?

Image result for wedding ring photography
(source)

The truth is, I've been facing a dilemma, mostly because of other people judgements. You know, these days, "young marriage" has never been that 'fancy' anymore. People nowdays seems to think more of their career or financial fulfillment before they got married. And they think that people that married young, is a foolish (trust me, I heard one say this kind of thing). They think people that have young marriage is dreaming of a happy ending, and not thinking about the struggle, the sacrifice, and other worst situations.

You know what, I'm aware of that, guys!
Even though I'm more like a Disney girl, I don't dream and think like Disney girl. I know how hard it is to maintain a relationship with someone, who is basically a total different from you (re: a guy). I know how hard it is to maintain your financial needs while you're dreaming of travelling around the world or buying fancy lipsticks. I know how hard it is to keep your head sane while your baby is crying and while you need to get your households done. You know what, I know, I'm aware it. 

I'm an overthinker. And moslty, an overthinker got furious and don't want to get married or run away from getting married (you know I've been reading some articles that says it is definately a manifestation of frustration of marriage thinking). They always think that being married will take your freedom forever. You will have financial struggle, you can not travel freely, it's hard to take higher education, you just can't do what you want and become less happy. Especially for a woman! Well, I don't think about what happy things I do when I've got married, but I think about what I CAN do to be happy when I've got married.

I do not want to judge people who don't get married till 30 or above, I don't want to say that people "delaying" marriage. It's about our choices right? But I also don't want people judge me because I will get married "too early", you think I'm 10 years old? And also it's a same thing about having a child. No one has the right to judge people by their choices. 

So, if you guys ever wondering, here are my reasons to have a "young age marriage":

1. Because he asked!
I could've say no, but I have no reason to say no. You know, being married in my religion is one chance to complete half of my religion. I'm not Anna from Disney Frozen who want to get married when meeting a guy for the first time. Of course I've been through that dilemma. "What if this is the worst choice?"/ "what if he's not the one?". But I have this friend that tells me "nikah itu ibadah". Marriage is a part of worshiping God. As long as your will is to Allah SWT, whatever choice you take will be a good way. Well, he is the first one to ask me to get married, and I'm in a proper age, so... :)

2. Because I'm 23!
I'm not young, I'm old, oh God. How do you supposed to think that you're still young when you're already 1/4 of your lifetime (or maybe 1/3? you never know until when you'll be alive right?). Actually I've already made my lifetime plan, including when will I want to have kids. I'm planning to have my first child in age 25 maximum. By that time I will see my first child graduate college at 47, and maybe watching my first child's wedding at 50. And not mentioning the second child or next! I just don't want to get very old before my children can live alone by theirselves (or with their halal partner). Ok then, BUT..... I didn't set when will I get married. (But of course it has to be before having first child! duh!). So I think this age is a good choice I would take to get married.

Well, I have other personal reasons that I don't need to share. But my point is, I'm not getting married because I want a happy ending. Because marriage is not a goal, but it's a beginning of a process. And it will always be a process until you die. 

#roadtomarriage

Friday, October 21, 2016

Nanti Aja di Surga

Postingan ini aku buat saat berada di Taxi menyusuri jalanan di kota Jakarta. Aku sendiri di taxi, apa lagi sih yang bisa aku lakukan selain melihat ke jendela mobil dan melihat jalanan?

Saat aku sedang melalui sebuah kawasan elit di Jakarta, tentu aku mengagumi rumah-rumah besar yang indah dipandang.  Ada yang bertema modern, antik, minimalis, dan natural, tapi semuanya besar dan bagus-bagus. Aku gak pernah iri sama yang punya rumah kayak gitu, karena toh aku tidak tau kerja keras mereka untuk bisa mendapatkannya. Yang aku bisa hanyalah berharap dan meningkatkan semangat menjalani hidupku untuk punya rumah seperti itu.

Tapi tentu aku bukan orang yang sebegitu optimis. Beberapa meter setelah aku keluar dari daerah perumahan elit itu aku juga berfikir, bagaimana jika aku tidak akan pernah mendapatkan rumah mewah itu di dunia ini? Mungkin memang itu bukan rejeki aku? Atau mungkin saja Allah tau kalau aku akan sombong jika punya rumah seperti itu?

Setelah dipikir-pikir, kalau aku terlalu berharap untuk mendapatkan rumah seperti itu dan akhirnya aku tidak dapat, tentu sedihnya bukan main. Namun di saat aku membayangkan bahwa aku akan sedih karena tidak bisa dapat rumah bagus, aku ingat bahwa Allah SWT. menjanjikan kehidupan dan rumah yang indah di Surga. 

Aku ingat hidup ini sementara, kalaupun tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, masih ada kehidupan kekal selanjutnya. Tapi memangnya aku bisa dapat kehidupan enak di akhirat? Aku jadi merinding. Ah, lebih baik saat ini aku fokus beribadah, enak-enaknya nanti aja di Surga. Karena buat apa rumah sebagus itu tapi nantinya kita akan hidup selamanya di tempat lain? Ah, bisa aja sih punya rumah bagus seperti di kawasan elit Jakarta dan punya rumah bagus juga di Surga. Tapi aku akan tetap prioritaskan yang ke-dua, kalau-kalau aku ga sanggup. Bismillah..

Wednesday, October 12, 2016

Agar Tiada Hutang di Antara Kita

Hi bloggers, apa kabar? 

Sudah lama aku terpikirkan mengenai hal ini. Mengenai hutang. Jadi, aku merasa (atau kamu ngerasa juga mungkin?), sekarang sudah tinggal segelintir orang yang bisa dipercaya untuk kita pinjamkan uang/barang. Bukannya aku ga mampu/ pelit, tetapi kebanyakan orang sekarang tidak berpikir untuk segera mengembalikan apa yang ia pinjam kepada kita. Aku sudah sering kali mengalami kejadian ini, mulai dari kehilangan baju, buku, hingga uang karena meminjamkan kepada orang yang bilangnya 'membutuhkan'. Meskipun patut aku syukuri juga aku belum pernah terjerat kasus kehilangan uang berjuta-juta karena penipuan hutang (amit-amit ya Allah), tapi kejadian-kejadian hutang kecil pun banyak merugikan aku.

Normalnya, orang yang berhuntang/meminjam itulah yang bertanggung jawab untuk mengembalikan barang yang dipinjamnya. Seharusnya ia yang aktif untuk mengembalikan barang pinjaman tersebut. Tapi entah kenapa orang-orang jaman sekarang seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali ketika sedang berhutang kepada orang lain. Santai banget. Malah, orang yang meminjamkan yang seringkali mengingatkan hutangnya untuk dibayar. Mungkin kalau barangnya memang jarang dipakai sama pemiliknya ya bisa dimaklumi. Tapi kalau pemiliknya sering menggunakannya, kan jadi repot. Apalagi masalah uang. Haduh. 

Sedihnya, terkadang hal ini dilakukan oleh teman-teman kita sendiri. Apalagi yang sudah merasa dekat dengan kita, jadi malah lebih santai. Padahal yang tadinya aku percaya sama dia, malah jadi ga enakan gara-gara ada hutang itu. Bahkan aku pernah bela-belain ke ATM (jaman ATM masih jauh dari rumah) buat transfer ke seorang teman yang katanya butuh urgent, eh hampir setahun dia gak balik-balikin. Padahal jumlah uangnya itu gak sedikit lho, meski akhirnya dia kembalikan juga setelah aku berkali-kali hubungi dia (yang seringkali di ignore). Sedih rasanya. Bener deh, sekarang gak sedikit orang yang seperti itu. Jangan heran kalau nanti suatu saat ada yang mau berhutang dengan aku, aku mikir-mikir dulu ya, walaupun aku sangat percaya sama orang itu. Sumpah, bukan karena pelit, kalau aku mampu sih aku berikan. Tapi karena sudah banyak hal yang merugikan aku karena hutang-hutang itu, jadi berfikir dua kali dan terkadang aku tolak jika tidak begitu urgent.

Padahal yah, untuk aku pribadi, aku itu sensitif banget sama yang namanya berhutang-piutang. Aku akan selalu punya catatan lengkap, aku berhutang apa/berapa kepada siapa. Meskipun hanya 500 rupiah! Bahkan walaupun aku jarang ketemu dengan orang yang aku pinjam barang/uangnya, eventually aku akan tetap bayar hutang kecil itu meski dia sudah lupa, itupun gak bakal sampai berbulan-bulan. Karena aku sendiri takut, kalau tiba-tiba aku mati di jalan dan belum bayar hutang. Minimal catatanku bisa dibuka oleh keluargaku dan keluargaku bisa bayar hutangnya. Lah kalo gak dibayar-bayar nanti aku yang masuk neraka :(

Tapi, kenapa yah orang-orang rasanya tidak melakukan hal yang sama kepada aku. Misalnya punya hutang uang/meminjam barang, tapi udah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun juga gak ada omongan untuk mengembalikan barang. Awalnya aku merasa hal itu fine-fine aja, pada akhirnya aku mengikhlaskan barang/uang yang aku pinjamkan tersebut. Lagipula, kalau aku tagih dan sudah lama juga nanti aku dikira pelit dan perhitungan toh? Tapi, suatu saat aku juga merasa rugi banyak. Awalnya mungkin aku hanya lebih menitikberatkan pada hutang uang. Mulai saat itu aku mulai membuat catatan barang/uang apa yang dipinjam oleh siapa. Terkesan pelit yah? 

Setelah kupikir-pikir, gak apa-apa lah. Toh itu barang/uang ku, hak aku. Justru aku bantuin orang-orang toh biar mereka gak kena dosa berhutang? *lah kenapa aku gak ikhlasin aja?* Well, terkadang ikhlas itu gak gampang. Terkadang ucapan sudah berkata ikhlas, tapi di hati masih ada setitik ketidak ikhlasan, nanti masih ada dosa yang ditanggung oleh seseorang. Biar kata aku dianggap pelit/cerewet seperti debt collector, tapi agar tiada hutang diantara kita, aku rela 'ngurusin' hutang kamu dan aku. 

Buat yang merasa malu buat nagih hutang, jangan malu ya. Itu hak kamu kok. Kalau ada hutang, jangan segan untuk remind orang yang berhutang secara berkala (jangan ingetinnya pas udah berbulan-bulan). Kamu harus pinter-pinter berkata asertif sebagai 'debt collector'. Kasih aja alasan kalau kamu butuh segera (biasanya ini manjur). Jangan ragu buat agresif dan sedikit modal, misalnya langsung bilang "eh kemarin buku aku masih di kamu ya? Aku mau ambil lagi ya hari ini, aku udah pesan ojek onlinenya, nanti kamu kasih aja ya?" (mendingan bayar ojek online daripada kehilangan barang itu selamanya)

Buat yang suka ngutang, please banget kembalikan hutangnya sesegera mungkin. Manatahu orang yang memilikinya benar-benar butuh uang/barang tersebut namun segan untuk memintanya dari kamu. Kalau pelupa, catat saja hutangnya di HP / notes yang sering dibaca. Ingat, hutang itu akan tetap ada sampai di akhirat.

Buat kamu yang punya teman yang hutang sekecil apapun langsung dibayar, please keep that friend. You just need to be with that one friend in your whole life.

Keep honest and responsible! *wink

NB: jangan heran kalo habis aku posting ini banyak komen dari penyedia jasa kredit random. Haha

Thursday, August 25, 2016

Jangan Hidup Kayak Babi

Sebuah iklan di jalan yang saya lewati bertuliskan seperti ini:


"Jika Hidup Sekedar Hidup, Babi Di Hutan Juga Hidup"

Awalnya saya tertawa, karena iklan tersebut adalah iklan sebuah apartemen baru di dekat tempat saya tinggal. Tapi kemudian saya merenung, bahwa quotes ini ternyata bagus sekali maknanya. 

Do you really live your life??

(source)
Satu kata kunci yang bisa mengawali pembahasan quotes ini : Tujuan Hidup.
Apa tujuan hidupmu?

Aku merasa kita ini sedang hidup di sebuah lingkaran yang monoton, dan kurasa sebagian besar orang di dunia ini melakukan hal yang sama.

Bangun-kerja-dapat uang-makan-tidur. (kadang-kadang ditambah bersenang-senang)

Sebenernya sih, pada dasarnya tentunya manusia lebih oke daripada babi, pake kerja dulu baru dapet uang. Tapi apakah hidup seperti itu yang benar-benar diinginkan? Hmm..

Aku tidak ingin berpanjang lebar di postingan ini. Hanya ingin berbagi quotes. Bloggers bisa renungkan sendiri maknanya, hehe. Salam, oink!



Sunday, July 31, 2016

Siap

Saat aku mengunjungi sebuah kantor perusahaan e-commerce di Indonesia untuk melakukan interview kerja, aku cukup lama menunggu di sebuah ruang tunggu yang menurutku, cukup menginspirasi. Tentu aku tidak bisa menyebutkan tema warna perusahaan tersebut. Di sebuah kursi panjang dengan banyak kandidat lain di sampingku, aku menghadap ke tembok yang penuh dengan pigura berisi pedagang-pedagang sukses yang menginspirasi, sehingga  patut untuk dipajang di tembok itu. Aku terpaku pada satu gambar pria tua memegang hasil usahanya, di bawahnya tertulis kalimat quotes pesan darinya. Aku lupa kalimat depannya, tapi akhirnya bertuliska

 "Orang yang tidak siap miskin, maka dia juga tidak siap kaya."

Intinya begitu. Berhubung aku tidak cukup jelas melihat jauh dengan mata minusku yang bertambah parah ini, quotes itu yang paling menohok yang bisa aku baca dari titik tempat dudukku. Sebenarnya sih, aku ingin ada seseorang yang penting di hidupku membaca quotes itu, karena ia selalu memberitahuku bahwa kemiskinan itu banyak mudharatnya dibandingkan kekayaan. Namun aku sendiri berpikir keras pada diriku, apa sebenarnya aku juga takut miskin?

Sebelum aku menjawab pertanyaanku sendiri, aku setuju bahwa miskin (kadang-kadang terlihat) banyak mudharatnya. Tapi, aku masih berpikir, lebih banyak mana dengan mudharat kekayaan. Kalau yang kebanyakan orang lihat, orang miskin bisa saja mencuri, memalak, atau membunuh untuk mendapatkan harta. Insting manusia lah untuk survive dalam hidup, sehingga orang berusaha sekeras mungkin dengan cara apapun untuk tetap hidup, walaupun dosa.

Tapi betulkah kemiskinan paling banyak mudharatnya? Buktinya, justru orang-orang kaya yang banyak merugikan masyarakat di Indonesia. Orang kaya makin serakah dan makin korupsi, artis-artis kaya memamerkan kekayaan hingga 'penontonnya' jadi konsumtif. Aku percaya apa yang dibilang Uncle Ben-nya spiderman itu benar.

"Great power comes with great responsibility"

Artikan power itu adalah kekayaan. Dengan begitu banyak kekayaan, tentunya tanggung jawabnya begitu besar dengan kekayaan tersebut. Kalau dalam islam, seharusnya sedekah lebih banyak untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Tapi, entahlah apakah orang-orang kaya banyak yang melakukan hal itu atau semua kekayaannya dikonsumsi sendiri. Toh aku gak akan pernah tau, kalau sedekah kan harus diam-diam, iya kan? Intinya kalau gak sedekah, dosa juga.

Kalau dipikir-pikir, miskin dan kaya sama-sama menyeramkan bukan? Jadi, apakah aku takut miskin? Atau apakah aku takut kaya? Intinya aku tetap ingin seperti yang aku tuliskan di blog ku sebelumya, bahwa aku ingin hidup sederhana. Sehingga miskin dan kaya tidak begitu peting. Pada akhirnya aku, semua orang, harus bertanggung jawab dengan apa yang dimiliki. Intinya aku harus selalu bersyukur dengan apa yang kudapat dengan usaha yang wajar dan halal, intinya aku ingin bahagia apa adanya. Aku berharap, idealisme ini bertahan hingga aku bertambah tua dan bisa mengajarkan kesederhanaan pada anak cucuku nanti.

Maaf ya kalau ngablu, malem-malem ngetiknya soalnya, hehe

Saturday, July 16, 2016

You Only Live Once

Sebagai orang yang relijius, pastinya sudah pada tau bahwa ada afterlife setelah kita meninggalkan Bumi ini. Namun terlepas dari urusan relijius terkait ibadah dan hal-hal wajib lainnya, tentu kita seharusnya menikmati hidup di bumi ini toh?

Pada suatu saat, aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk menikmati hidup ini? Secara, gak mungkin satu orang bisa menjelajahi semua yang ada di bumi ini, mencicipi semua makanan yang ada di bumi ini, menjalani semua profesi yang ada di bumi ini, dalam satu masa hidupnya. Ah, aku jadi teringat buku fiksi The Alchemist tentang manusia abadi yang bisa hidup selamanya. Dalam sejarah hidupnya ia telah menjalani berbagai profesi dihidupnya, berpindah tempat tinggal di banyak negara, dan menguasai banyak bahasa. Ah, aku sangat ingin bisa seperti itu. Tapi aku tidak ingin hidup abadi. Aku tau tidak ada yang abadi. You only live once. A SHORT ONCE.

Iya, hidup ini pendek banget. Bagaimana kita bisa memaksimalkan hidup kita sebagai manusia di bumi ini? Memaksimalkan semua nikmat dari Allah swt yang berlimpah-limpah di bumi? Awal sekali, aku berpikiran untuk mendedikasikan hidup untuk traveling, menarik bukan bisa menapakkan kaki ke seluruh penjuru bumi ini? Namun tentu hal itu sulit, secara materi dan waktu pastinya. Kemudian untuk saat ini khususnya, aku sedang menikmati hidup sebagai pekerja yang belum berkeluarga dengan mencoba banyak makanan dan mencoba berbagai jenis make up. Iya, karena dua hal itu yang kusuka. Tapi, rasanya konsumtif sekali ya?

Pada suatu saat aku berfikir, sebenarnya tidak selamanya jika kita harus "menikmati" hidup ini. Menikmati dalam arti yang konsumtif. Memang iya, banyak yang bisa kita nikmati dengan konsumtif karena Allah menciptakan bumi ini dengan kaya. Tapi apakah dengan itu kita menjadi manusia yang sebenarnya? Dengan cara seperti itu, apa gunanya kita bagi orang lain? Aku jadi berfikir ulang, akan lebih baik jika kita menggunakan hidup kita dengan memberikan manfaat bagi orang lain? Tidak semua orang bisa makan enak, bisa traveling, bisa dandan pakai make up. Bahkan ada orang yang menganggap hal-hal itu "buat apa?" karena yang mereka pikirkan hanyalah survive. Survive dari kehidupan yang sangat kurang, bahkan survive dari perang. 

Ketika ada saatnya aku iri dengan orang lain, yang bisa memposting makanan enak, mencoba make up mahal dan traveling kemana-mana, aku jadi teringat bahwa bukan itu tujuan hidupku. Mungkin itu bisa membuatku senang, tapi apa yang mengalahkan rasa senang jika sudah mampu membantu orang lain? Ya, aku ingin bermanfaat. Aku ingin menjadi sejarah bagi orang lain. Because I only live once.


Monday, March 7, 2016

Go Green: Sayang Anak Cucu

Hi bloggers, do you love your earth?

Dari dulu, sudah banyak kampanye-kampanye mengenai perlindungan untuk Bumi. Save the Earth, katanya. Banyak orang yang mendukung, banyak juga yang tidak. Sekarang juga lagi cukup hot tentang pemberlakuan biaya untuk plastik belanja di Indonesia. Ada yang dukung (seperti saya, meski Rp. 200 itu dikit banget), ada juga yang mendukung setengah-setengah. Anyway, memangnya kenapa sih alasannya melindungi Bumi? Karena global warming, polusi, kekurangan sumber daya alam?


Gw sebenernya orang yang cukup concern sama kehidupan di Bumi ini. Menurut gw, sekarang orang-orang sudah sangat kurang kesadaran dengan keberlangsungan dan kenyamanan di bumi ini. Gw sering melihat postingan-postingan tentang binatang-binatang yang mati karena gak sengaja (atau sengaja) makan sampah. Jauh dari itu, di jalanan kota mobil dan motor sekarang banyak banget, selain bikin macet, polusi juga makin menjadi-jadi. Serba salah, di laut mati karena sampah, di jalan mati karena polusi.

Gw sendiri orangnya aneh, secara tidak langsung gw ini kolektor plastik bekas, kertas bekas, kardus-kardus, hanya karena gw merasa sayang kalo dibuang begitu saja, padahal bisa didaur ulang (meski gak pernah sempat mendaur ulang sendiri). Gw juga agak concern sama AC dan lampu. Gw seringkali tidak pakai AC di kamar, apalagi kalau hari hujan, ngapain gitu, kan udah dingin. Gw sering ngingetin mama gw yang orangnya gerahan, buat ga boros-boros pake AC. Lalu gw emang belum bisa bawa kendaraan sendiri sih, jadi sampai sekarang sih alhamdulillah masih pakai kendaraan umum ketika berpergian. Sebenernya sih udah bisa bawa mobil, tapi gw juga naik kendaraan umum, jadi gak pernah kepake skillnya. Hehe

Anyway, kenapa sih gw repot-repot kayak di atas,  sebenernya cuma karena satu alasan: Gw sayang sama anak dan cucu gw. Iya, meskipun gw belum punya anak, apalagi cucu (boro-boro, suami aja belom)  tapi gw udah segitu sayangnya sama anak-anak dan cucu gw nanti. Gw pingin mereka hidup aman, nyaman, dan bahagia. Gw pingin mereka bangga sama gw. Gimana caranya? Menyelamatkan lingkungan hidup mereka.

Gw gak pengen, anak gw gak bisa menikmati udara yang sejuk. Gw gak pengen nanti anak gw gak tau yang namanya lautan biru. Gw gak mau anak gw nanti takut megang pohon karena pohon langka banget. Gw cuma mau, anak gw bisa selalu bersyukur, akan keindahan dan kekayaan yang diberikan secara alami oleh Allah. Gw pengen anak gw semakin dekat dengan Allah dengan melihat ciptaan-ciptaannya yang indah dan bermanfaat. Bukan hanya menggunakannya dengan cuma-cuma, egous sampai habis.

Suatu hari saat saya sedang menjalankan liqo, pembahasan saat itu salah satunya menyerempet ke manusia dan alam. Hal yang menjadi insight di hari itu adalah bahwa semesta alam itu ditundukkan oleh Allah swt kepada manusia. Iya, tanaman, hewan, udara, semua tunduk sama manusia. Makanya kita bisa hidup di bumi, gak kebakar matahari atau kedinginan. Bisa ambil sumber daya alam semaunya. Tapi semakin ke sini, manusia semakin serakah dalam mengambil sumber daya alam, bahkan sampai merusak bumi itu sendiri dengan sampah, polusi dan sebagainya.  Right?

Al Quran Surat Al-Qashash [28], ayat 77
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dari ayat itu kita tahu bahwa memang sudah dianjurkan untuk menjaga bumi ini. Go green itu bukan kampanye semena-mena, idealisme anak muda atau hipster. Tapi tuntutan Allah swt. sang pencipta alam dan manusia. Ga perlu repot2 dulu. Cukup lakukan hal2 kecil seperti hemat air dan listrik. Kelola sampah di dalam rumah, kurangi transportasi dengan kendaraan pribadi, dsb. Kalau suatu saat kamu bertanya kenapa kamu repot2 melakukan semua ini, jawaban dari gw adalah "Untuk anak dan cucu". Buatlah mereka bangga dengan perilaku kamu yang sekarang, perilaku yang dicintai Allah swt.


Go green!

Friday, August 7, 2015

Aamiin

Ya Allah… janganlah engkau memberikan kepada hamba dari kenikmatan dunia yang terlalu banyak, agar hamba tidak melampaui batas akan larangan-Mu.

Jangan pula terlalu sedikit, sehingga hamba lupa kepada-Mu. Sesungguhnya yang sedikit tetapi mencukupi, lebih baik bagi hamba dari pada yang banyak tapi melalaikan. Aamiin..

Berdakwah @ LINE

Wednesday, July 1, 2015

Berasal Dari Orangtua

Rebloged from "Gemes" - hastinmelur.blogspot.com

Kali ini mau cerita tentang hal-hal yang buat saya gemes. Bukan tentang hal-hal lucu. Tapi gemes tanda kutip. Hasil pengamatan belum lama ini. 

1. Di angkot dari UI ke Cimanggis
Anak laki-laki (sekitar 7 tahun) : Ma, geser. Kasian penumpang yang masuk kalau kita gak mau geser. 
Ibu : Ngapain sih kamu nyusahin diri sendiri. Urusan dia kalo susah masuk apa gak. Yang penting kita duduk dipinggir biar turunnya nanti cepet.

2. Di stasiun Tanah Abang
Bapak : Woi cepetan jalannya! *teriak-teriak gak mau antri* Udah buruan kenapa sih!! 
Anak laki-laki (sekitar 10 tahun) : Sabar dong Pak. Kan kita lagi antri banyak yang baru turun dari kereta. 
Bapak : udah kamu ikutin Bapak aja. Biar kita duluan masuk keretanya.

3. Di warung makan sekitar Kober
Anak : *Ambil minum dan gak sengaja tumpah. Nampak tidak panik. Berusaha membersihkan pelan-pelan* 
Ibu : Kamu ini yah. Malu-maluin aja pake tumpah segala!! Mending kita pulang aja kalo kamu kaya gitu. cks%^@(@&@^@K 

Saya : *dalam hati* yaelah bu. anaknya udah bener gak panik. udah bener tanggung jawab bersihin. Masalah kecil aja Ibu nya marahnya gitu bgt. 

Tidak bermaksud menjeleknya orangtua. Saya sendiri belum tau jelas karena belum jadi orangtua. Namun sayang aja. Ketika anaknya udah paham sama hal-hal baik, bukannya didukung malah dapat didikan berbeda dari orangtua nya. Harusnya orangtua nya sadar, tobat, dan bangga sama anaknya. Untuk kasus ketiga, saya paling gemes. Apalagi itu di ruang publik. Pesan saya sederhana, mari sering-sering nonton gimana Song Il Gook mendidik Daehan, Minguk, Manse. Semakin banyak menonton, maka semakin tahu cara efektif mendidik anak :D :p"

---------------------------------------------------------------------------------------------

Ada satu titik dari selama ini saya belajar Psikologi, di mana saya menemukan minat saya di  suatu bidang, yakni parenting dan keluarga. (Iya, psikologi itu gak hanya ngurusin orang stres). Saya percaya, kalau sebagian besar permasalahan yang ada di dunia, khususnya di Indonesia sih, karena saya cinta Indonesia (<3) itu disebabkan oleh didikan di rumah. Contoh simpelnya, ya yang hasil reblog di atas itu. Contoh saja, bayangkan setelah berkali-kali orangtua melakukan hal seperti di atas itu, anaknya nanti akan jadi seperti apa? Misal, kasus 1 dan 2, anak jadi egois, mementingkan diri sendiri, ini yang bikin jadi bakal-bakal koruptor, karena gak peduli sama orang lain, hanya mementingkan diri sendiri, kesejahteraan sendiri, tidak mau "menyusahkan" diri sendiri. Kasus 3, kira-kira apa? Anak jadi tidak percaya diri, padahal nih dia bakal-bakal jadi Einstein selanjutnya dari Indonesia. Tapi karena takut salah, dia tidak berani mengungkapkan ide-ide gilanya.

Mungkin ada yang merasa contoh saya aneh, but no, itu semua nyambung, bisa saja terjadi, dan masih banyak ada kemungkinan lain. Tentunya saya tadi hanya mengambil contoh. Kan bisa aja di luar contoh yang di atas, ternyata orangtuanya paling baik sedunia. Belum lagi keadaan lain misalnya orangtuanya memang sedang buru-buru karena kerabatnya ada yang meninggal atau apa. Terkadang memang orang bisa lepas kontrol. Tapi anda bisa mencari jurnal-jurnal yang berkaitan dengan pola asuh orangtua, dan hasilnya sudah pasti parenting yang baik menghasilkan child outcomes yang baik. 

Saya tidak memaksakan keyakinan kepada bloggers semua. Ini keyakinan saya bahwa nasib bangsa kita ditentukan oleh didikan orangtua. Meski banyak faktor lain seperti perkembangan internet, pemerintahan dan kebijakan gak beres, pertemanan dll., namun menurut saya, hasil didikan orangtua lah yang akan mampu membuat anak "menyaring" segala pengaruh-pengaruh buruk dari luar. Dengan keyakinan seperti ini, saya cuma ingin selalu berdoa semoga saya bisa jadi contoh yang baik bagi anak-anakku kelak. Serta anak-anak saya nanti menjadi generasi yang baik. Aamiin Ya Rabb.

NB: Nonton Return of Superman yuuk. Serial TV Korea tentang parenting. Bisa belajar dari situ nih biar menghasilkan benih-benih bangsa berkualitas (azik). Daripada ngeliatin pernikahan artis, atau persalinan artis, mending nonton artis mendidik anaknya, dengan BENAR. Bahkan sampai dipuji oleh psikolog anak di sana lho. Ya iyalah, saya aja amazed, ngasuh anak kembar tiga bisa sesabar itu. Kalau yang saya lihat mah, anak satu aja nyanyi sedikit disuruh diem, salah ngitung sedikit dimarahin. Hehe.

Refleksi Diet 2: Makan Itu Asal Sehat, Bukan Asal Kenyang!

Masih berkaitan sama postingan saya tentang diet, soalnya lagi semangat banget sama diet hehe. Jadi saya dapat link video yang tulisan di jarkomannya "Salah Kaprah Pola Makan Orang Indonesia". Berikut di bawah ini videonya. Wajib banget ditonton, sebelum lanjut baca! :D


Video ini menurut saya cukup menampar. Memang pola makan orang Indonesia itu tidak sehat. Coba kalau beli makan di tempat makan, yang banyak apanya, nasi putihnya kan? Iklan saja ngajarin makan nasi pakai kuah doang biar murah (if you know what i mean). Iklan juga ngajarin makan pakai nasi yang digoreng pakai mentega doang. Atau banyak abang bubur ayam yang bikin ketagihan padahal bubur ayam isinya cuma nasi dan kecap, ditambah vetsin. Udah gitu kalau pun menunya pakai salad, saladnya sedikit banget. Jadi gak ada serat, gak ada protein. Nasi itu hanya karbohidrat padahal, dan harusnya kebutuhan protein manusia itu "setelapak tangan orang yang makan dalam sekali makan." Belum lagi serat yang seharunya menjadi kebutuhan setiap hari, bukan seminggu sekali makan buah/sayurnya.


Terus miris juga sih. Ya.. hampir semua tempat makan dari warung sampai restoran Indonesia pun menu makannya begitu. Minyak di mana-mana, santan di mana-mana, nasi di mana-mana. Meski enak dan tujuannya menarik pelanggan ya iya. Tapi ya, bikin orang-orang jadi gemuk. Ya maklum aja, mana ada ahli gizi yang jual makanan di pinggir jalan. Yang ada, kita yang ngerti gizi dan mampu pilih makanan dengan bijak. Semenjak saya diet, saya jadi susah banget cari tempat makan, kebanyakan juga makan di rumah, atau menunya itu-itu aja. Karena saya jadi tau bahaya-bahayanya makan ini itu. Bukannya saya paranoid, tapi memang betul ternyata kandungan makanan di rumah makan.

"Kita hidup di Dunia Leyeh-leyeh"

Dari makanan yang nyeremin itu, ditambah lagi orang Indonesia sudah makin "Mager" alias malas gerak. Inginnya diet yang instan, tanpa olahraga. Tanpa makan malam juga dianggap bikin kurus. Makanya makin banyak orang Indonesia yang obesitas. Karena "inputnya tetap, tapi outputnya semakin kurang". Kemudian kalau dari yang saya baca, tingkat hidup orang Indonesia semakin pendek. Coba deh liat kakek nenek dan engkong masih ada aja di dunia ini, om tante udah ada yang meninggal atau sakit-sakitan. Sebab ya itu, pola hidupnya sudah beda, orang dulu doyan makan sayur. Sekarang sayur jadi menu kalo lagi gak punya duit. Dulu orang apa-apa jalan dan berkeringat, sekarang seharian duduk dan gak berkeringat.

Terus orang Indonesia juga makin bergantung sama obat-obatan. Flu sedikit langsung ke dokter dan dikasih obat banyak banget. Udah gitu dikasih makan banyak tapi isinya karbohidrat doang. Padahal, kata pak Shinya dari buku revolusi makan, tubuh bisa menyembuhkan diri sendiri lho, asal cukup vitamin dan proteinnya. Saya dari dulu kalau sakit flu-flu cuma minum madu, makan buah yang banyak vitamin C, sama makan ikan/daging. Murahan beli buah dan madu daripada beli obat sumpah deh.

Di video di atas menyarankan bahwa lebih baik kita memakan yang "mendekati bentuk aselinya" serta "plant based". Saya selalu ingat banget kata-kata dokter gizinya kalau "Sosis itu gak ada, Tuhan tidak pernah membuat sosis, apalagi masuk kaleng." Soalnya saya ngakak pas si ibu bilang begitu. Benar juga. Bayangkan daging bisa awet dua tahun di dalam kaleng, itu dikasih apa coba. Udah gitu dimakan lagi, masuk ke dalam tubuh kita. Hiii. Jangan sering-sering lah. Bukannya gak boleh, tapi dilihat juga kadarnya. Sekarang saya udah lama banget gak beli jus-jus kardusan, karena isinya gula semua. Saya mending menyisihkan uang saya untuk beli buah aseli. Jauh lebih worth it.

Lalu juga portion controls. Tubuh manusia itu cuma, iya cuma, butuh 2000 kalori. Yang butuh lebih mungkin semacam olahragawan. Gimana kita coba yang kerjanya naik mobil dan duduk di sekolah/kantor, harusnya kurang dong kebutuhan energinya. Tapi kayak gitu malah makan 3 kali sehari dengan porsi full, ditambah cemilan, susu, jus, dll. Wah bisa 3000an kalori yang masuk. Dipertimbangkan lagi kalau mau makan, kayak saya sejak diet, saya tau banget saya itu males orangnya, jadi saya setiap makan cuma setengah porsi, atau makan cuma 2 kali sehari, sisanya makan buah dan kenyang-kenyangin perut pakai air putih. Wah udah sehat, hemat juga kan gak perlu makan berlebihan. Gak perlu juga repot hitung-hitung kalori, tampakan makanan bisa keliatan kok berapa kalorinya. Kayak, gorengan yang cerah gemilang indah dipandang itu tentunya bisa dibayangkan ia berteriak, "Hai makan aku dong, aku kalorinya setara dengan satu porsi makan lho."

Saya percaya banget dan berusaha menerapkan sunnah nabi yang disebut "Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang," meski kadang susah untuk menyesuaikan. Tapi menurut saya kebutuhan porsi makan kita bisa dilihat dari situ, batas kenyang dan lapar kita. Kalau kita kenyang pasti berarti sudah lebih dari cukup kebutuhannya. Lalu kalau lapar, pasti akan kecenderungan untuk makan berlebih dan jadinya gak sesuai dengan kebutuhan. Coba deh kalau diterapin pasti tubuh kita akan selalu ideal. Tentunya dengan aktivitas yang normal ya, gak leyeh-leyeh, hehe.

Pada akhirnya, kembali lagi ke kesadaran diri masing-masing. Memang makan makanan enak itu ya enak banget, tapi apa itu sehat? Jadi, buat bloggers nih, yang pastinya lebih tau isi kandungan makanan, yuk diubah lagi pola makannya. Berkorban sedikit gak sering makan yang enak-enak gak apa-apa yang penting sehat. ;)

"Kenyang itu harus, tapi kenyang  dengan baik, dengan kenyang asal makan itu beda banget"

Tuesday, June 30, 2015

Refleksi Diet 1: Jangan Bingung Pilih Jenis Diet

Hai bloggers. Sudah beberapa bulan saya menjalankan diet makanan. Sejak saya dirawat di rumah sakit, berat badan saya bertambah banyak dan saya jadi gemuk! Ditambah berapa bulan setelah sakit, saya masih belum boleh beraktivitas berat dan harus makan yang banyak dan tentunya sehat. Alhasil setelah itu, saya mulai memasuki masa-masa depresi karena berat badan saya bertambah dan lemak di badan meleber. Selain memperburuk penampilan, gemuk juga gak sehat! Saya pun mencari-cari cara diet untuk menurunkan berat badan. Ternyata begitu banyak cara-cara diet dan olahraga yang beragam, bahkan tak jarang yang bertentangan. Berikut ini saya mau ceritakan kronologis diet saya.

NB: Diet yang akan saya jelaskan di bawah ini PASTI ADA OLAHRAGAnya. Tidak ada diet tanpa olahraga, diet itu tidak semudah itu. Orang sehat dan kurus pun tetap harus olahraga, oke? :)



(source)
1. OCD
Saya memulai diet dengan OCD. Obsessive Corbuzer Diet. Iya itu buatannya pak Dedi Corbuzer. Pada intinya diet ini adalah mengurangi asupan makanan dengan berpuasa dengan interval waktu tertentu, namun tetap minum. Hal ini ditambah dengan olahraga selama 7 menit. Olahraga ini bisa tergolong cukup berat karena gerakannya terus menerus (setiap gerakan 30 detik) dan hanya diberi jeda istirahat selama 10 detik setiap gerakan. OCD ini cukup menurunkan berat badan saya yang tadinya 53kg menjadi 50kg. Tapi membuat saya sangat kelaparan dan selalu ingin makan, atau malah makan banyak sekali saat jamnya makan. Jadinya saya sudah batal OCD, meskipun berat badan saya sekarang cukup stabil di 50kg. Hal ini terbantu dengan rutin berolahraga 07W. Meski begitu, kebanyakan waktu saya kecapekan berolahraga ini saya mah gitu orangnya), jadi sampai sekarang ini saya hanya ambil beberapa gerakan dan saya lakukan dengan intensitas sedang.

2. Diet Mayo

Selanjutnya, saya mulai ditawari diet mayo. Diet mayo ini cukup booming karena sudah banyak penyedia jasa catering mayo yang harganya juga gak sesuai sama mahasiswa yang budget makannya Rp. 8000 di warteg. Diet ini adalah diet dengan meniadakan asupan garam. Karena garam itu menghalangi air masuk ke tubuh dan memperlambat metabolisme #cmiiw. Setuju. Namun susah sekali melakukannya. Pasalnya, hampir semua masakan mengandung garam. Jadi, saya hanya berhasil melakukannya beberapa hari, lalu batal karena lidah saya craving for garam. Saya juga baca ada artikel lain yang menyatakan bahwa tubuh memang butuh garam, bukan tidak ada sama sekali. Jadi, kalaupun kita makan garam pun bisa diseimbangkan dengan minum yang banyak agar metabolisme lancar.

3. Diet Less Carbo (Sebenernya gak tau namanya apa)
Selanjutnya, diet yang saya jalani adalah makan tanpa karbohidrat sederhana seperti, nasi, mie dan roti putih.  Wah, ini sih susah sekali, karena pada dasarnya, saya suka ketiga makanan itu karena rasanya enak banget. Saya saja bisa bertahan hidup dengan nasi putih plus kecap atau hanya bawang goreng, hehe. Tapi gak ada gizinya! Nasi putih dan kawannya itu mengandung karbohidrat sederhana yang membuatnya lama dicerna oleh usus, dan akhirnya cepat membuat jadi lemak. Diet ini menyarankan untuk beralih ke karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan roti gandum. Diet ini oke banget, masalahnya adalah di rumah saya jarang ada stok nasi merah dan gandum. Lalu biasanya harganya juga lebih mahal. Kemudian susahnya juga karena asupan gizi saya masih dikontrol oleh ibu saya, jadi di rumah ya isinya masih nasi putih-roti putih-mie. Akhirnya saya sebisa mungkin mengurangi porsi nasi putih menjadi seperempat piring, dengan lauk tetap. Hasilnya cukup ampuh, plusnya adalah, tidak menjadi gampang mengantuk karena energi untuk mengolah karbohidratnya berkurang. Lagipula, sebenarnya lauk-lauk yang ktia makan itu sudah mengandung karbohidrat. Apalagi buah dan sayuran itu sudah mengandung karbohidrat, sehat pula. Nasi itu cuma apalah atuh, gak usah banyak-banyak. Haha.

4. No Minyak
Teman saya, Hamidah, Lulusan terbaik MIPA UI *penting banget ditulis wkwk* menjalani diet ini selama sekitar 6 bulan. Dia tidak mengkonsumsi makanan berminyak dan mentega. Dia hanya makan dari hasil olahan rebusan dan panggang (soalnya kalau bakar bikin cepet kanker). Hasilnya dia turun 25 kg! Tapi tentu di setiap hari ditambah pula olahraga kecil seperti lari ditempat. Diet ini tentu ampuh, karena di setiap artikel diet yang saya baca, minyak itu memang sangat bahaya. Selain membuat gemuk, tidak sehat pula. Saya pun sebisa mungkin mengurangi asupan minyak. Kalaupun ibu saya menggoreng makanan, biasanya saya ambil tissue, lalu memeras makanan tersebut hingga minyaknya sebagian besar terserap oleh tissue. Hehe.

5. Diet Usus Versi Pak Shinya
Teman saya rela mengeluarkan sisa uangnya untuk beli sebuah buku yang berjudul "Revolusi Makan" yang ditulis oleh Bapak Hiromi Shinya. Saya dengan enaknya meminjam bukunya secara gratis (hehe). Kata bapak dari Jepang ini, rahasia sehat dan kecantikan itu terletak dari usus. Jika usus sehat, maka tubuh akan sehat dan lebih cantik. Poin-poin penting dari pak Shinya ini adalah:


a. Hanya makan Buah dan Air di pagi hari.
Sarapan itu masih menjadi perdebatan. Ada yang bilang ga boleh sarapan karena bikin gemuk dan ngantuk. Ada yang bilang kalau sarapan itu wajib soalnya menjadi asupan otak untuk menjalankan aktivitas. Nah, dengan baca buku bapak ini, saya menjadi lega karena sudah dapat solusinya. Sarapan hanya makan buah dan air, sehingga tidak gendut dan asupan otak pun terjaga! Diet yang dianjurkan ini adalah dengan makan pisang. Karena kandungan gula dan gizi dalam pisang cukup untuk membuat kita kenyang di pagi hari. Nah kalau dari saya, khususnya untuk memperlancar kinerja usus nih, lebih baik tambah minum perasan lemon hangat. Selain bisa membakar lemak-lemak perut, usus pun jadi lancar. Disarankan nih buat yang belum BAB kemarin, hehe, tapi jangan setiap hari juga ya karena lemon mengandung asam yang bsia merusak gigi dan juga kalau kebanyakan, bukannya lancar, malah mencret. :(

b. Makan yang sehat-sehat
Nah, ini merangkum semua diet di atas. Jangan makan yang berminyak, lalu beralih ke nasi merah dan gandum, dan yang baru nih, coba makanan mentah. Makan makanan mentah ini sih yang saya masih belum terbiasa. Makan lalap aja masih mikir-mikir. Meski suka sayur tapi lebih suka yang sudah diolah jadi sop dsb. Padahal sayuran yang mentah itu yang sangat maksimal kandungan gizinya. Kemudian pak Shinya Juga bilang kalau mie lebih baik daripada roti, dan nasi lebih baik daripada mie. Karena lihat saja roti itu isinya tepung doang sebagian besar, sedangkan mie lebih banyak karbohidratnya, namun tetap saja tepung. Namun memang yang cukup pas kandungan karbohidratnya adalah nasi. Jadi kalau ada pilihan nasi, ya pilih nasi di menu mu ya :)

c. Jangan olahraga dengan intensitas tinggi, lakukan intensitas rendah
INI. YANG BIKIN. SAYA. SANGAT LEGA. Semenjak diet, saya melakukan olahraga dengan berbagai macam gerakan yang intensitasnya cenderung tinggi. Alhasil saya kebanyakan masa istirahatnya daripada masa olahraganya. Padahal ternyata, olahraga tingkat rendah hingga sedang dengan waktu 30 menit justru yang ampuh membakar lemak. Ternyata, jika melakukan olahraga intensitas tinggi justru karbohidrat yang baru kita makan yang terbakar, dan lemak pun tetap berada pada tempatnya. Saya pun sampai sekarang merutinkan jalan ditreadmill selama minimal 30 menit, dan hasilnya cukup oke. Badan tidak lelah, malah segar, dan tentunya merasa lemak terbakar.

d. Mengunyah makanan pelan-pelan
Gak terasa kan ternyata kalau kita makan, cuma habis 3 menit saja *saya sih yang gitu*. Menurut pak Shinya, agar usus sehat, makanlah secara perlahan. Maksudnya, kunyah makanan hingga halus, baru ditelan. Dengan mengunyah lama, enzim dalam mulut lebih terpicu untuk keluar dan membantu pencernaan.  Saya cukup setuju dengan hal ini. Selain itu, berdasarkan yang telah saya baca sebelumnya, menelan makanan yang lama ini juga akan membuat kita cepat kenyang, karena makanan yang sudah ditelan lebih dulu masuk ke usus halus yang mengirimkan sinyal ke otak kalau kita sudah kenyang. Dengan merasa cepat kenyang, kita akan mengurangi porsi makanan. Setelah saya mencoba teknik ini saya merasa tidak 'begah' ketika makan karena biasanya makan cepat. Saya juga tidak cepat buncit ketika makan secara perlahan.

Setelah membaca buku itu, saya menjadi cukup lega dan tercerahkan, karena selama ini, itu adalah masalahku. Kenapa perutku gampang buncit, dari dulu sulit buang air besar, dan segala macam. Setelah melakukannya sekitar seminggu, telihat bahwa saya lancar buang air besar dan rasanya perut enak dan lega. Dan tentunya, lebih kurus!


(source)

Kesimpulan dan Refleksi
Dari segala diet yang pernah saya jalani, sebenarnya semua diet itu benar. Inti diet itu sebenarnya untuk sehat. Karena gemuk itu gak sehat, makanya menguruskan badan. Jadi orang yang kurus pun tetap harus diet makanan agar sehat. Ini yang menjadi motivasi saya untuk diet. Inti diet untuk menguruskan badan itu tetap makan dan makan makanan sehat, serta memperbanyak pembakaran kalori dengan beraktivitas/olahraga yang tidak berlebihan. Kalau kata Hastin "Kamu tetap makan aja asal olahraga. Makannya jangan banyak-banyak." Gak perlu menyakiti diri sendiri dengan puasa 24 jam, atau olahraga sampai pingsan, atau repot cari aplikasi bagus untuk menghitung kalori. Pada intinya, sama kayak yang ada di Al-Qur'an: jangan terlalu berlebihan.


Diet apa saja terserah, asal komitmen. Pada akhirnya toh saya tidak terpatok pada satu nama diet. Tapi saya mengambil beberapa poin dan menggabungkan semuanya, misalnya, saya tetap olahraga sesekali seperti OCD, saya selalu mengurangi porsi nasi, minum lemon kadang-kadang, seberusaha mungkin kalau bisa gak pakai garam dan minyak pun dijabanin. Pilih saja diet yang buat kamu semangat dan mudah untuk dijalankan. Seperti saya nih, karena saya sudah punya "paket diet", saya masih bisa makan makanan kesukaan seperti cokelat dan kue. Tentunya dengan batasan porsi, jadi tidak terlalu menyiksa dietnya. Hasilnya? Sekarang berat saya 46kg. Itu pun selama hampir 6 bulan karena saya banyak mencoba cara diet. Bagaimana jika saya komitmen dari awal, mungkin bisa kayak teman saya, turun 25 kg! hehe. Yeah, pokoknya next target: 43kg.

NB: Maaf ya, anaknya gak bisa nulis pendek-pendek (^,^)v

Friday, May 8, 2015

Mesin Waktu

Hi guys, sudah lama sekali gw gak ngeblog. Well, ceritanya gw lagi bergulat dengan yang namanya....jengjengjengjeng.....SKRIPSI ! Yaaayy. Doakan saya ya bloggers semoga segera jadi Syakira Rahma, S.Psi. Anyway, selain skripsi, gw juga baru ngerti yang namanya pengangguran itu rasanya kayak gimana. Yaa..gimana ya, biasanya gw cuma tahan ngerjain skripsi itu 2 x 2 jam perhari, itupun ga setiap hari gw MAU ngerjain skripsi. Haha. Biasanya gw nonton film atau baca novel aja. Postingan ini terbesit di kepala gw saat sedang nonton suatu film seru.

Hermione's Time Turner (source)
Filmnya tentang time machine, mesin waktu. Gini lho, gw suka banget sama film-film tentang mesin waktu dan perjalanan waktu. Like, time travel story never dies, right? Suka mind blowing gitu ceritanya, bisa lucu kayak Click, menyenangkan kayak Doraemon, sedih kayak kartun A Girl Who Leap Through Time, romantis kayak About Time, seru, dan lain-lain. Terus, yang seru itu, bentuk  mesin waktu itu sendiri juga unik-unik. Bisa sebuah bak atau bilik biasa, bisa pesawat, remot, kalung, kotak biola, laci, dan lain-lain. Cerita mesin waktu ini kadang berakhir baik maupun tidak, misalnya ternyata adanya mesin waktu menghancurkan nasib manusia. Atau menyenangkan, misalnya pemeran utama berhasil mengubah masa lalu, bahkan ada yang ceritanya berputar kembali. Gw sendiri juga tidak jarang memikirkan tentang mesin waktu, konspirasi-konspirasi yang bisa dihasilkan darinya, dan apa yang akan gw lakukan kalo mesin waktu beneran ada.  Hal ini membuat gw berpikir seperti, siapa yang berpikiran pertama kali tentang mesin waktu? Kenapa dia berpikir seperti itu?

Gw mikir, gw rasa semua orang bisa jadi pencipta mesin waktu! Denger nih gw mau bikin quote. Human always wonder because they think! (Rahma, 2015) *itu gw haha* Yap, manusia itu punya akal, berpikir, dan jadi selalu ingin tahu. Dia ingin tahu masa depan dia seperti apa, atau, dia ingin tau apa yang terjadi jika kemarin dia melakukan hal yang berbeda. Itulah yang membuat ide mesin waktu muncul. Manusia juga mungkin pernah benar-benar sangat ingin mengubah masa lalu, karena tak jarang juga manusia membuat kesalahan. Juga terkadang bingung harus memilih apa, karena mereka gak bisa sepenuhnya betul memprediksi apa yang ada di masa depan. Terkadang perasaan seperti itu membuat hilang harapan, dan akhirnya terpikir "Andai ada mesin waktu." 

Di postingan ini gw cuma mikir, kenapa sih butuh mesin waktu? 

Demi masa. Sesunguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (Q.S. Al-Ashr:1-3)

Kesabaran. Ya, menurut gw, itulah yang menjadi inti permasalahan kita tadi di atas. Adanya kalimat "Andai ada mesin waktu", gw rasa karena manusia merasa ingin segera mengetahui apa yang ada di depannya agar ia bisa menyelesaikan kebingungannya di masa kini, segera menentukan pilihannya. Atau manusia menjadi sangat menyesali masa lalu sehingga terpuruk dalam kesengsaraan dan tidak sabar menanti hikmah yang bisa diambil dari masa lalunya. Manusia hanya kurang sabar. Terlarut dalam kebingungan dan penyesalan, manusia lupa untuk meminta petunjuk dan kekuatan kepada yang Maha Kuasa. Mungkin perlu diingat kalau ada yang Maha Kuasa yang telah menentukan semua yang terjadi di dunia. Banyak bukan film tentang mesin waktu yang menceritakan kekacauan karena keberadaan mesin waktu?
Time machine If i could found one, i would destroy it.

Question of the Day: Orang yang berpikiran untuk bikin mesin waktu, lebih banyak yang alasannya ingin tahu masa depan atau yang ingin mengubah masa lalu?

Friday, January 30, 2015

Aku Ingin Hidup Sederhana

Salah satu temanku di F. Psikologi, semester lalu mempresentasikan materi pada kelas Psikologi Konseling. Ia mendapatkan tugas mengenai konseling pada Lansia. Kebetulan, ia mewawancara seorang kakek tua yang berprofesi sebagai tukang ojek di daerah Kampus. Teman saya tersebut berulang kali menyampaikan pesan penting yang kelompok teman saya dapatkan, yang katanya selalu diucapkan berulang kali oleh bapak tua tersebut.

"Hiduplah sederhana"

Sederhana. Sederhana itu tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Tidak terlalu kaya, tidak juga miskin, tidak terlalu berbahagia dan tidak terlalu bersedih. Hidup di tengah-tengah. Kenapa? Teman saya mengutip dari bapak tua tadi. Hiduplah sederhana, ibarat sebuah garis vertikal, hidup sederhana berarti berada di tengah-tengah garis tersebut. Jika kita berada di atas, ketika kita 'terjatuh', hidup akan jauh terpuruk. Jika kita berada di bawah, ketika mendapatkan keuntungan, akan lebih mudah untuk sombong atau takabur. Hidup sederhana membuat kita tidak terlalu sakit ketika sedang terjatuh, dan tidak tinggi hati ketika kita berada di puncak kejayaan.

(source)
Seringkali kita berusaha melakukan sesuatu, untuk mencapai puncak, mencapai kejayaan, kekayaan, dan yang katanya, kebahagiaan. Tapi tahukah, apakah kebahagiaan hanya bisa didapatkan di 'puncak'? Seringkali dengar kalimat "Bahagia itu sederhana?" Iya, sesederhana berkumpul dengan keluarga, teman-teman, orang yang dicintai, mengelus kucing, memakan coklat. Seperti kutipan di gambar yang saya tempel di atas, kesederhanaan memberikan pada kita ruang untuk berpikir lebih dalam tentang kehidupan. Buat apa kita terus mencari kekayaan tapi tidak mengerti makna dari segala proses yang kita lewati setiap harinya? Tanpa sadar, kita kehilangan makna hidup, kehilangan kebahagiaan karena terlalu sibuk mencari kekayaan, mencari yang katanya kebahagiaan itu sendiri.

Aku ingin hidup sederhana. 

Aku tidak mau punya terlalu banyak harta, yang membuatku menjadi sombong, menjadi selalu was-was akan kehilangan hartaku, selalu pusing membeli ini itu agar orang lain memandangku berduit, mencari respek orang lain. Bukan berati aku juga ingin jadi miskin, yang membuatku pusing memikirkan usaha apalagi yang harus aku lakukan untuk bisa makan, berhutang sana sini untuk hidup.  Buat apa uang banyak, jika hanya disimpan di dalam bank, padahal banyak orang lain membutuhkan, atau membeli produk bukan atas dasar kebutuhan, tapi mencaci kenapa biaya sekolah mahal. Bukan berarti aku mau punya uang yang hanya cukup untuk membeli makan.

Buat apa rumah besar, jika membuat orang di dalamnya harus teriak-teriak untuk hanya memanggil nama, boro-boro meneriakkan kata sayang, gengsi keleus. Bukan berarti aku ingin rumah kecil, yang membuat aku dan keluarga tak nyaman untuk berselonjor. Buat apa mobil banyak, jika mobil malah membuat anak cucu keturunan kita tidak bisa merasakan segarnya oksigen, hanya ada asap kotor. Bukan berarti aku ingin hidup tanpa transportasi, apa-apa berjalan kaki, meski 100 kilometer, jalan kaki sampai mati.

Aku ingin hidup sehat.

Menurutku, hidup sederhana itu juga salah satu pola hidup sehat. Baik sehat fisik maupun sehat mental. Secara fisik, hidup sederhana membuat kita tidak berlebihan dan tidak kekurangan pula dalam makan. Hidup sederhana tidak membuat kita banyak menyediakan makanan di rumah. Membuat kita membeli segala macam makanan, bahkan sampai belum habis dan malah basi dan mubazir. Sederhana tidak membuat kita terus menyuapi nafsu kita, membuat kita sakit jantung karena obesitas. Tapi bukan juga hidup sederhana hanya dengan memakan nasi, sehingga malah kekurangan gizi. Contoh hidup sehat lainnya yakni hidup sederhana dengan kendaraan. Misalnya, pergi ke warung depan jalan rumah dengan berjalan kaki, itu lebih sehat daripada naik motor kan? Tidak perlu gengsi "pejabat kok jalan kaki?" Syukuri kaki dan tanahmu. Gunakan tanah untuk berpijak, sebelum kamu kembali ke tanah.

Tentang kesederhanaan ini, mungkin ada yang bingung dan bertanya, "Tapi bagaimana jika kita sakit? Nanti kalau sederhana, malah gak bisa bayar untuk rumah sakit." Mungkin kita perlu tahu bahwa Allah itu memberikan cobaan pada hambanya sesuai dengan kemampuan. Lagipula tadi kan dibilang, siapa bilang hidup sederhana itu artinya punya duit? Kalaupun kurang juga masih ada BPJS dan bantuan lain sebagainya, bantuan pasti ada, Allah itu ada.

Terus ada juga yang bilang, "Tapi saya sudah hidup sederhana masih saja dapat cobaan dari Allah. Lama-lama saya miskin juga." Allah itu memberikan cobaan agar hambanya bersimpuh, meminta ampun pada Allah, merefleksikan diri. Mungkin teman-teman lupa sama Allah, belum ikhlas, belum sabar. Pilihan hidup ini cuma dua, bersukur atau bersabar. Jika belum rejeki, bersabar, jika sudah ada, bersyukur. Jika masih diberikan cobaan, mungkin saat sehat kemarin kamu kurang bersyukur, maka bersabarlah, mungkin masih ada kecacatan dalam ibadah, amal dan akhlak (dikutip dari sebuah seminar yang lupa kapan, di mana dan oleh siapa ._.)

Aku pernah dengar kata orang, "Hiduplah dan dapatkan rejeki lebih, agar kita masih bisa memberi dan memberi manfaat pada orang lain." Ya, mungkin nasehat orang itu benar. Bukan berarti hidup sederhana itu punya rejeki yang kurang. Sebut saja rejeki itu uang ya. Kita juga perlu punya uang cukup, untuk menghidupi keluarga dan juga membantu orang lain. Tapi bukan berarti kita terus orientasinya punya uang banyak. Punya uang banyak itu bahaya lho, nanti aku jelasin. Intinya, gak perlu uang banyak untuk bisa memberikan manfaat. Seorang tukang semir sepatu di Amerika aja bisa menyumbang sebuah Yayasan Yatim Piatu senilai 2 miliyar lho! Siapa bilang harus kaya untuk bisa memberi kebaikan, memberi manfaat?
 
Sayangnya, saat ini di dunia ini, uang adalah segalanya. Mendengar kata "rejeki" aja pikirannya uang, bukan? Padahal uang itu buatan manusia, rekayasa manusia, ya kan? Dulu orang bikin benda yang 'sengaja' diberi nilai biar bisa tukar-tukaran barang. Sekarang benda yang 'dinilai' itu jadi rebutan semua orang. Kenapa orang gak berebutan untuk mendapatkan apa buatan Allah, surga gitu misalnya? Mungkin kalau uang bukan segalanya saat ini, kalau semua orang mau hidup sederhana, hidup akan jadi lebih enak. Gak ada orang bunuh-bunuhan karena uang, gak ada orang yang korupsi, gak ada pencurian, masuk penjara, bunuh diri karena hutang, dan lain-lain. Benar kan, uang itu bahaya?

Nah ini, yang maksudku bahwa hidup sederhana itu pola hidup sehat untuk mental. Mungkin aku belum jadi orang dewasa yang harus cari uang menghidupi keluarga dan diri sendiri. Mungkin pada bilang aku sok tau, tau gimana. Tapi ini harapanku. Aku tidak ingin hidup karena uang, atau dihidupi hanya dengan uang. Aku tidak ingin stres, sedih, marah karena uang. Bahkan aku tidak ingin bahagia karena uang. Aku ingin bahagia karena hidup sederhana. Aku ingin bahagia ditemani oleh orang-orang tercintaku, melakukan apa yang senang kulakukan. Menjadi manusia yang seutuhnya, mengaktualisasikan diri, beriman, betakwa. Aku yakin, jika kita hidup sederhana, tentunya ditambah dengan dua pilihan tadi, 'bersabar dan bersyukur', uang hanya menjadi benda yang 'diberi nilai' yang mengalir saja untuk membuatku hidup di dunia, bukan harta karun yang harus selalu dicari lalu disimpan hingga bertumpuk-tumpuk. Karena hidup kita sebenarnya itu di akhirat, buat apa pusing-pusing mikirin benda dunia.

Aku ingin bahagia.

Sekian dulu, ocehan saya. Semoga bisa menjadi sebuah renungan. Semoga berbahagia ;)

Tuesday, October 28, 2014

Kebahagiaan

Kebahagiaan itu mungkin ibarat pakaian, bukan tujuan. - Febrianto Ramadhan

Saya cukup setuju terhadap status dari teman sekampus saya di atas. Kebahagiaan itu bisa jadi merupakan pakaian, yang kita pakai sehari-hari. Bukan hanya sebagai tujuan akhir hidup. Jika kebahagiaan ada di tujuan akhir hidup, selama hidup kita, kita merasakan apa? Sengsara? Kasihan sekali jika hanya merasakan kebahagiaan di ujung usia. Padahal, kita bisa berbahagia setiap hari setiap detiknya. Tersenyum, tertawa, menangis terharu.

#BahagiaItuSederhana

Sesederhana makan coklat kesukaan kita. Sesederhana bertemu dengan orang-orang tersayang atau orang-orang yang asyik. Sesederhana melakukan hobi setiap minggunya. Sesederhana mensyukuri nilai mata pelajaran yang bagus dan menertawai nilai yang jelek. Sesederhana melakukan pekerjaan yang kamu sukai dan belajar yang kamu minati.

#FollowYourPassion

Kenapa ada yang namanya passion atau minat pribadi? Bayangkan, ketika semua orang berlogika bahwa pekerjaan yang menghasilkan banyak uang seperti dokter harus ditekuni, dan semua orang akan menjadi dokter. Tidak ada psikolog, guru, misalnya. Dunia ini penuh dengan dokter, dan semua bertanya "kamu sakit ga?" Dan semua menjawab "enggak".

Allah swt. menciptakan passion yang berbeda-beda pada manusia untuk saling mengisi, saling melengkapi. Dan tentunya untuk berbahagia. Percaya deh, jabatan seperti petugas tiket TOL aja ada orang yang benar-benar passion dengan pekerjaan tersebut. Pernah dengar bapak-bapak petugas TOL yang selalu ramah dengan pengguna TOL? Beliau berbahagia dengan pekerjaannya tersebut. Apalagi kita dong orang yang mungkin mampu untuk melakukan pekerjaan yang lebih..'bergengsi' kalo kata mama.

#DoWhatYouLovenLoveWhatYouDo
*panjang amat

Lakukan apa yang kamu suka dan sukai apa yang kamu kerjakan. Sesederhana itu berbahagia, yang bisa kita pakai sehari-hari, dan bisa membuat kita menebar senyuman setiap hari. 

Berbahagialah. Kamu tidak tahu umur kamu sampai kapan, dan lebih baik mati dalam kondisi bahagia ;)

Popular Posts