Showing posts with label Random Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Random Thoughts. Show all posts

Thursday, September 26, 2019

Lyfe After Kid

Aku pikir, setelah aku menikah itu hidupku akan berubah. Saat itu, delapan bulan belum dikaruniai anak, ternyata tidak begitu banyak perubahan yang terjadi, tidak ada apa-apanya. Lol, no offense to my husband.

Karena, hidupku baru benar-benar berubah ketika sudah punya anak. I mean, i never changed this much. Mulai dari perilaku, kebiasaan, bahkan perasaan. Waktu baru nikah, ok rasanya seperti new life, new responsibility. Tapi bagiku kayak, yaudah ngekos bareng orang lain gitu (karena aku dulu emang ngekos bareng suami), i have to share everything, share bed, budget, responsibility, etc. Tapi, aku baru sadar, aku baru paham bagaimana makna Responsibility, setelah punya anak.

Waktu baru nikah, iya sih rasanya cinta banget sama suami, but that's it. Tapi ketika punya anak, rasanya melebihi cinta. I would die for love, tapi aku ga akan mati untuk suamiku sih (lol, no offense again, beb), tapi ketika lihat anakku, oh God, i really would die for him. Romeo and Julliet are bullsh**, there's no love like that. Aku baru paham bagaimana yang namanya Love.

Aku mengerahkan semua pikiran, tenaga, dan perasaan untuk anakku. Semua kegembiraan, kekhawatiran, sayang, sebal, semua karena anakku. Pilihan bajuku, pilihan makananku, pilihan furniturku, pilihan filmku, bahkan pilihan jam tidurku, semua untuk anakku. Aku bisa egois terhadap suamiku, tapi aku ga bisa (atau gak boleh ya) egois terhadap anakku.

My life changed, my parents changed, my friends changed, even my previlages changed. Tidak pernah ada perubahan sebesar ini di dalam hidupku. And that's kinda freaks me out.

Membuatku berpikir, sebenarnya seluruh hidup kita ini untuk anak, ya gak sih? Meskipun kita belum punya anak.
Dari kecil kita disuruh sekolah agar bisa kerja dan menghidupi anak dengan layak.
Saat menikah, bukannya ditanya kabar malah ditanya anaknya mana alias "udah hamil belom?"
Abis punya anak, ya wis, bahkan eksistensi kita kalah sama eksistensi anakmu yang baru lahir ke dunia. Bahasan tentang anak akan lebih panjang daripada soal kabar kita.

Kadang aku iri sama anak-anak. Apa coba kontribusi mereka di dunia ini, tapi semua orang begitu sayang dan peduli dengan mereka, bahkan saat mereka belum ada di dunia?

Thursday, November 2, 2017

Sorry, Old Me

Aku ini orangnya penyayang. Maksudnya teh suka "sayang" sama hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan atau sejarah hidup. Jadinya, anaknya suka hoarding, mengumpulkan barang-barang lama sampai bulukan dan gak tau gunanya buat apa, karena sayang untuk dibuang. Akupun juga merasa tidak rugi untuk menyimpan semua barang itu, toh semuanya berkesan, menyimpan cerita dibaliknya, mengingatkan pada memori.

Image result for writing diary.png
(source)

Aku punya diary kecil, dulu namanya orji, dan hits banget di kalangan anak SD. Orji yang kertasnya bagus-bagus lucu-lucu aku koleksi dan ditukarkan dengan teman-teman aku. Tapi kertas yang biasa saja dan banyak, aku jadikan buku diary. Jangan salah, dulu aku rajin sekali menulis diary. Meskipun dulu aku bodoh dan lugu (tapi tetap imut), dan gak bisa mengambil insight dari apa yang terjadi dalam hidup, aku begitu tulus dalam menuliskan hal-hal yang terjadi dalam sehari-hariku. Saat kubuka kembali orji masa kecilku, terkadang aku tertawa sendiri "bodoh, begini doang ditulis". Aku lebih banyak menulis bagaimana kegiatanku dari bangun pagi sampai tidur, dibandingkan apa yang aku alami hari itu. But hey, bebas toh? namanya juga anak kecil. Ya meskipun dulu aku anak kecil bodoh, aku ingat kok dulu ada teman aku yang lebih rajin lagi setiap hari nulis diary nya panjang banget kayak novel. Tapi, menulis diary itu menyenangkan sekali.

Disamping kebodohan itu aku melihat di sekeliling orjiku, begitu banyak tempelan-tempelan kolase yang menghias buku orjiku. Bahkan aku sampai kagum sendiri, "dulu aku bisa ya bikin begini?". Begitu detail dan rapi karayaku di orji itu. Aku jadi ge-er, ternyata aku ada bakat kreatif (tsaah). Yah, ga nyangka aja dulu aku bisa bikin prakarya seperti itu, kepikiran dari mana gitu. 

---

Hari ini aku sedang membersihkan file laptopku. Kebetulan laptopku baru saja sembuh dari rusak yang cukup lama dan sekarang sudah kembali bisa digunakan seperti laptop baru (caiillaaah). Aku melihat file-file lamaku. Aku dulu suka menulis cerpen, tidak banyak yang aku publish di blog, kebanyakan cerpen-cerpen gagal menang lomba di koran atau blog competition. Pada intinya, banyak yang aku simpan sendiri. Tapi entah mengapa aku heran sendiri, iseng aku baca satu dua cerpenku, aku merasa tidak pernah menulis itu. Aku merasa membaca tulisan orang lain, tapi yang gaya bahasa dan penulisannya sama denganku. Kadang bahkan aku terharu atau tertawa sendiri membaca yang katanya tulisanku itu.

---
Bahkan aku baru ingat, aku punya blog yang lain selain ini, yang merupakan kumpulan puisi-puisi buatanku. Lagi-lagi, aku tak percaya kalau aku pernah membuatnya. Aku seperti, "apa ya yang dulu aku pikirkan?". Kubaca satu dua, tak menyangka bagus juga. Ada juga sih yang aneh dan terlalu dipaksakan, tapi ternyata kumpulan puisi itu bisa dibilang cukup banyak untuk memenuhi suatu blog yang sepi. Kalian bisa lihat halaman itu di dashboard My Other Pages.

---
Sungguh aku heran. Pertama, apakah dulu aku memang orang yang cukup kreatif dan produktif sehingga bisa membuat karya-karya yang bahkan diriku sekarang tidak percaya aku bisa membuatnya.
Kedua, apakah diriku yang dulu tidak kecewa dengan aku yang sekarang? Pemalas, tidak termotivasi, mudah menyerah, dan paling penting, tidak produktif. Plakk.

Duh ada yang bisa tampar aku?

Hehe.. maaf ya aku yang dulu, aku yang sekarang terlalu sibuk, seakan semua badan digerakkan bukan oleh otak, tapi oleh dengkul. Otaknya hampir mati, mengerjakan rutinitas, yang juga tidak terlalu ia cintai. Semoga kamu tidak kecewa ya, aku yang dulu.

Friday, October 21, 2016

Nanti Aja di Surga

Postingan ini aku buat saat berada di Taxi menyusuri jalanan di kota Jakarta. Aku sendiri di taxi, apa lagi sih yang bisa aku lakukan selain melihat ke jendela mobil dan melihat jalanan?

Saat aku sedang melalui sebuah kawasan elit di Jakarta, tentu aku mengagumi rumah-rumah besar yang indah dipandang.  Ada yang bertema modern, antik, minimalis, dan natural, tapi semuanya besar dan bagus-bagus. Aku gak pernah iri sama yang punya rumah kayak gitu, karena toh aku tidak tau kerja keras mereka untuk bisa mendapatkannya. Yang aku bisa hanyalah berharap dan meningkatkan semangat menjalani hidupku untuk punya rumah seperti itu.

Tapi tentu aku bukan orang yang sebegitu optimis. Beberapa meter setelah aku keluar dari daerah perumahan elit itu aku juga berfikir, bagaimana jika aku tidak akan pernah mendapatkan rumah mewah itu di dunia ini? Mungkin memang itu bukan rejeki aku? Atau mungkin saja Allah tau kalau aku akan sombong jika punya rumah seperti itu?

Setelah dipikir-pikir, kalau aku terlalu berharap untuk mendapatkan rumah seperti itu dan akhirnya aku tidak dapat, tentu sedihnya bukan main. Namun di saat aku membayangkan bahwa aku akan sedih karena tidak bisa dapat rumah bagus, aku ingat bahwa Allah SWT. menjanjikan kehidupan dan rumah yang indah di Surga. 

Aku ingat hidup ini sementara, kalaupun tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, masih ada kehidupan kekal selanjutnya. Tapi memangnya aku bisa dapat kehidupan enak di akhirat? Aku jadi merinding. Ah, lebih baik saat ini aku fokus beribadah, enak-enaknya nanti aja di Surga. Karena buat apa rumah sebagus itu tapi nantinya kita akan hidup selamanya di tempat lain? Ah, bisa aja sih punya rumah bagus seperti di kawasan elit Jakarta dan punya rumah bagus juga di Surga. Tapi aku akan tetap prioritaskan yang ke-dua, kalau-kalau aku ga sanggup. Bismillah..

Thursday, November 26, 2015

Tentang Air Mineral

Beberapa hari yang lalu, aku berdebat dengan seseorang terkait khasiat sebuah air mineral. Aku seringkali tidak percaya dengan beberapa jenis air yang katanya berkhasiat, atau lebih sehat dari yang lainnya. Jaman sekarang semakin banyak merk-merk air minum, khususnya air mineral yang dijual lebih mahal dibandingkan dengan air biasanya, dengan embel-embel pH yang lebih seimbang, lebih banyak oksigen, dan sebagainya. Entahlah mungkin saja air-air itu benar khasiatnya, tapi tentu tidak hanya dengan minum 1 botol sehari. Mahal, hal ini pula lah yang membuatku tidak bisa membuktikan kebenaran khasiat air-air mineral tersebut, karena tidak sanggup untuk membelinya setiap hari, hehe.

Saya itu pecinta air mineral. Meski di restoran mahal, kalau minum pun aku lebih sering memesan air mineral dibandingkan jus, float, atau bahkan air teh. Memang terkadang saya seringkali diledek oleh keluarga atau teman saya di restoran tersebut, dibilang malu-maluin cuma minum air mineral/ air putih, dikira gak punya duit. Haha (tapi memang benar biar hemat juga). Sejak diet, aku jadi lebih sering minum air putih. Air putih itu sering diremehkan, bahkan ada teman saya yang bangga dan bilang kalau dari kecil tidak suka minum air putih. Kalau lihat banyak artikel kesehatan, air putih itu sangat dianjurkan, untuk diet, untuk proses penyembuhan, seperti flu, diare, bahkan bisa menyembuhkan demam berdarah. Intinya, tubuh memang memerlukan pergantian cairan tubuh terus menerus dan air putih itu lebih baik dari air manapun yang sudah dicampur apapun, bahkan buah. Kalau mau makan buah pun, lebih baik langsung dalam bentuk buah karena vitaminnya juga akan sedikit hilang ketika sudah dijadikan jus.

Intinya, minum air putih itu penting, terserah mau percaya air mineral manapun, mau air akua, air rindu, bahkan air zam-zam, asal minumnya banyak: 8 gelas, atau  2 liter perhari, baru deh sehat. Aku pernah baca artikel di mana ada seorang wanita dewasa madya yang mulai minum satu galon air setiap hari (atau mungkin setengah, tapi emang iya, selebay itu.), magically kulitnya jadi kencang, tampak muda, dan tentunya sehat. Ya, intinya kebanyakan minum air mineral itu ga bikin kamu jadi sakit tapi makin sehat. Kalo haus, minum air mineral ya ;)

Saturday, November 22, 2014

Thank You Facebook

"Yaelah, paling dia inget ultah lo gara-gara liat Facebook."

Itu kata-kata dari salah satu teman saya. Tapi menurut saya, gak apa-apa tuh orang ngucapin ulang tahun gara-gara lihat di facebook. Ya masa satu orang bisa inget sih ulang tahun sebanyak itu temannya. Harusnya malah berterima kasih karena banyak orang yang tahu kalau sedang berulang tahun. Malah baik kan kalau banyak yang mengucapkan dan mendoakan?

Mau terima kasih dulu sama Mark Zuckerberg, pencipta Facebook yang bisa bikin orang diingatkan akan ulang tahun teman, keluarga dan sahabatnya. Lebih mending mana, ingat karena Facebook atau tidak ingat sama sekali? Yang parah itu kalau sudah diingatkan Facebook tapi tetap gak mengucapkan dan gak mendoakan.

Mungkin memang esensi mengingat hari ulang tahun ini jadi sedikit tereduksi karena kecanggihan teknologi. Jaman dulu bahkan gw dan teman-teman sebaya suka mengumpulkan tanggal ulang tahun teman-teman gw di binder atau orji (masih jamannya orji), terus diurutkan selama satu tahun. Tapi, sekarang lebih dimudahkan dengan adanya Facebook atau jejaring sosial lainnya yang memiliki fitur reminder ulang tahun. Harusnya bersyukur dong? Siapa coba yang jaman sekarang masih ngiterin binder buat nyatet tanggal ulang tahun teman sekelas?

#MaapRandom

Tuesday, January 28, 2014

Horor: Cerita Orang Bodoh

Halo! Selamat liburan, hehe. Di liburan panjang ini, entah kenapa gw lagi suka banget nonton film horor/ thrill gitu. Pokoknya udah sering terpapar horor deh, biasanya nontonnya di channel Thrill. Di tengah liburan Thrill gw ini, adik gw memperkenalkan gw kepada sebuah game PC namanya Outlast. Game ini horor abeees. Namun, karena gw sudah gak ngegame lagi, dan tidak berani pula mainnya saking horornya, gw nonton walkthroughnya aja di youtube, cari deh "PewDiePie Outlast Walkthrough".

Singkat saja sih. Outlast ini ceritanya tentang seorang jurnalis yang berusaha mencari kebenaran di sebuah Asylum (tempat orang-orang yang dianggap gila) yang ternyata dalam Asylum tersebut telah terjadi eksperimen untuk suatu hal yang supranatural. Sisanya baca/ nonton sendiri ya hehe. Ini game keren banget sebenernya tapi horor banget, hehe.

Nah, di postingan ini gw ga pingin ngebahas game itu, tapi mau ngebahas tentang horor. Jadi, gw lagi ngobrol sama teman gw tentang game ini. Trus gw bilang kalo misalnya gw sebel banget kenapa si jurnalisnya itu mengunjungi Asylum itu pas malam hari, padahal kan bisa siang hari. Terus dari situ  terjadilah percakapan semacam ini:

Gw: Kenapa sih dia gak ngunjunginnya pagi-pagi aja gitu? Kan masih terang..
Teman: Kalo pagi-pagi gak jadi game horor
Gw: Tapi kan secara logika itu bego banget gitu. Film horor juga gitu, pemeran utamanya suka bego gitu keluar malem-malem, sok-sok berani ngecek rumah hantu, padahal lagi malem-malem. Jadinya dia dikejar-kejar deh, udah gitu temen-temennya jadi mati, padahal dia yang salah.
Teman: Tapi kalo gak ada pemeran utama yang bego itu, gak ada yang namanya film horor.
 
Jadi intinya, film horor itu ada, karena kebodohan pemeran utamanya. Sekian.

Ohya, yang mau nonton Walkthroughnya Outlast, atau paling engga, ngerti mainnya, coba liat video berikut. Gak serem kok soalnya ada si pemainnya, si PewDiePie. Dia itu youtuber yang lucu banget, ngelawak sambil main game horor (atau main game horor sambil ngelawak?). Pokoknya kocak!


Ini gw kasih link aja soalnya front image videonya serem banget, ngejelekin blog gw aja, nanti ga ada yang baca, haha. Selamat menonton!

NB: Gak usah pake headset,  terus volumenya setengah aja. :P

Wednesday, December 25, 2013

Gak Iya Iyalah

Ok, jadi ceritanya di tengah malam gulita, gw baru tau kalo ada video Senam Yang Iya Iyalah edisi jatuh cinta.

Pertama-tama, mari kita tonton dahulu:



Seperti lirik yang tertera di video, gw cuma mau mengungkapkan aja kalau kali ini gw kurang setuju dengan senam yang Iya Iyalah versi jatuh cinta ini. Bukan gak setuju tentang pernyataannya, tapi gak setuju kalau pernyataan itu "Iya Iyalah" alias, pasti banget bisa terjadi.

Aku pikir sih teman lalu tahu tahu, jatuh cinta!

Menurut gw ini gak iya iyalah. Dalam konteks pertemanan yang melibatkan hubungan antara laki-laki dan perempuan, gak semua hubungan teman itu ujung-ujungnya jatuh cinta. Gw sering kok, menyaksikan dua orang berlawan jenis yang bersahabat. Bahkan gw pernah mengalaminya. Hmm. Tapi gatau sih, kalau misalnya salah satu pihak itu sempat jatuh cinta, itu Wallahua'lam ;)

Curhat tentang cinta, kok rasanya aneh, jatuh cinta!

Sebenernya kurang tahu makna lirik yang ini. Antara curhat tentang cinta kepada teman biasa, atau curhat tentang cinta dengan orang yang kita cintai. Tapi intinya, curhat tentang cinta itu gak selalu aneh, bahkan menyenangkan. Aneh itu kalo misalnya cerita ke orang tua, atau cerita cintanya memang aneh. Yaa, setiap orang beda-beda sih persepsinya. Kembali lagi pada diri masing-masing, hehe.

Benci benci, aku benci kamu, jatuh cinta!

Nah, ini apalagi, orang bilang memang benci bisa jadi cinta, tapi sampai saat ini gw belum pernah menemukan hal ini secara nyata. Malah gw sering nemunya, (dan sempat merasakan) kalau gara-gara cinta, jadi benci. Nahloh. Mungkin hal benci-benci ini cuma ada waktu SD kali ya, yang ceweknya suka diledekin cowok, padahal sih karena cowoknya naksir, tapi ceweknya benci gitu, eh lama-lama ceweknya seneng diledekin, terus kangen kalo gak diledekin. Kayak film Sherina gitu, haha. Tapi kayaknya kalo SD, namanya bukan cinta kali ya.

Haha apasih gue. Di sini gw cuma bilang ketiga poin lirik di atas itu memang bisa saja terjadi tapi gak Ya Iya Iyalah. Gak se Iya Iyalah kalo kaki kiri ke depan kaki kanan ke depan, bisa jalan! hehe.

Mau nanya aja, ada yang lagi ngalamin salah satu dari baris lirik di atas? ;)

Not Sure If

 

Anyone?

Sunday, December 22, 2013

A Trip

Me: I'm so bored i'm gonna make a time machine!
*Le time machine is done*
Me: let me have fun in the future for a while
*Le flashing light appear*
Future me: Hey, who are you?
Me: Ah, you must be the future me!
Future me: You're me? What are you doing here?
Me: I was bored, so i decided to take a trip to the future. Gees, you seem horrible. *take a look around* Why's the future so ugly?
Future me: That's because of what you're doing now, avoiding the present.
........................



*Thought about this right after i thought about avoiding some of my urgent duties
**Can anyone make an illustrative version of this conversation? No, it's not a trap to avoid the present. Oh, I wish I can draw :"

Monday, October 21, 2013

Tentang Perubahan, Tentang Batu Es

Suatu kepanitiaan yang saya jalani di Psikologi yang membuat saya terkesan dan makin gemar dengan psikologi adalah kepanitiaan tersebut menggunakan teori psikologi sesungguhnya dalam penerapannya. Ya, mungkin itu yang berbeda dari kepanitiaan-kepanitiaan di fakultas lain. Dalam kepanitiaan yang saya ikuti kali ini, kami memiliki tujuan yaitu membuat perubahan. Perubahan pada orang yang baru masuk di lingkungan kampus dengan asumsi bahwa mereka memiliki sebuah tingkah laku dan konsep berpikir yang tetap yang sebenarnya belum cocok dalam kehidupan kampus.

Teori perubahan yang dipakai adalah Kurt Lewin's change theory. Dalam proses perubahan ini terdapat tiga tahap yaitu Unfreezing, Moving dan Refreezing. Suatu tingkah laku dan konsep yang melekat pada manusia itu diianggap merupakan sesuatu yang telah beku sebelumnya. Misalnya es batu tersebut adalah berbentuk kotak, namun, kamu ingin es batu tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang bulat, maka kamu harus mengubahnya menjadi bulat dulu bukan? Apa yang harus dilakukan? Ya, cara paling baik adalah dengan melelehkan terlbih dahulu es batu tersebut lalu dibentuk ke bentuk yang diinginkan lalu dibekukan kembali.

(source)

Unfreezing. Proses ini bertujuan untuk memberi pengetahuan bahwa perubahan yang akan dilakukan itu penting untuk menghadapi hal yang akan datang. Atau konsep yang sebelumnya sudah membeku di dalam kepala sudah tidak cocok lagi untuk menghadapi apa yang ada di masa depan. Maka perlu adanya pengetahuan akan 'ketidaksesuaian' itu dengan memberikannya disonansi kognitif, yaitu ketidaksesuaian antara kenyataan dengan pemahamannya. Contohnya, pada perilaku mencontek yang sudah tertanam kokoh di benak anak-anak SMA. Pada tahap ini anak-anak akan diberi pengetahuan mengenai konsekuensi plagiarisme di perguruan tinggi, yakni di DO. Hal ini akan memunculkan disonansi kognitif di mana ia menyadari bahwa perilaku menconteknya tidak benar dan ia harus berubah.

Moving. Setelah dia 'cair' maka perlu adanya proses untuk membentuk ulang es tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran seperti ceramah, mentoring, bahkan concrete experience. Misalnya setelah dia ingin berubah, mahasiswa baru diberikan pengetahuan bagaimana membuat esai yang baik dan tidak plagiat, bagaimana strategi belajar agar tidak nge-blank dan tidak mencontek.

Refreezing. Setelah ia terbiasa dengan bentuk konsep dan perilaku barunya dan sudah merasa nyaman, maka lama kelamaan bentuk baru tersebut akan menetap dan menjadi 'batu' lagi. Dan saat itulah perubahan telah terjadi. Perlu adanya reinforcement atau penguatan juga agar konsep baru itu tidak 'meleleh' lagi. Jika dimasukan dalam konsep orientasi mahasiswa baru, pengautan ini dapat diberikan seperti apresiasi pada esai yang telah baik, atau diberi nilai bagus pada masa orientasinya.

Sesimpel itu sebenernya, tapi aslinya susah. Eh, tapi gampang juga sebenernya kalo kita bisa membuat orang yang ingin diubah menjadi mau ngejalaninnya. Jika konteksnya adalah mengubah diri sendiri, butuh keinginan dan usaha yang kuat untuk melakukan itu. Kita perlu berpikir lebih dalam, mengevaluasi apa yang sudah kita perbuat, apa yang salah dan harus diubah agar menjadi lebih baik.

*Maaf gak pake referensi hehe. Cari sendiri yah >,<

Saturday, July 20, 2013

Tentang Blog Ini

Sering terpikirkan olehku, pikiran orang lain, tentangku. Ya, aku terlalu sering mempermasalahkan hal itu di kepala. Pernah terpikirkan olehku, tentang blog ini. Apakah orang-orang yang sudah membaca blog ini menyukai atau membencinya?

Sebenarnya aku sedikit bersikap ambivalen tentang eksistensi blog ini. Aku bukan tipe orang yang suka mengumbar segalanya, tapi aku suka bercerita. Aku malu jika orang lain mengetahui sangat banyak tentangku, tapi tidak tahan untuk tidak membagi apapun yang ada di duniaku. Jadilah blog ini. Blog yang tidak banyak dikenal orang lain, bahkan teman-temanku sendiri. Kubiarkan siapapun yang memang memerlukan untuk mengetahui tentang diriku mencari sendiri tentang blog ini. Toh aku tidak menyembunyikannya, hanya saja aku tidak mengumbarnya.

Pernah terpikirkan olehku. Apakah orang lain, tentu saja yang sedikit peduli, menginginkan sesuatu yang lebih dari blog ini? Sesuatu yang lebih berbobot misalkan. Seperti sikap tentang pergerakan mahasiswa, atau isu nasional, atau puisi-puisi keren, dan hal-hal 'berat' lainnya. 

Sesuatu yang aku dapatkan dari situs 9gag, sebuah gambar yang sayangnya tidak bisa aku temukan. Tapi aku masih ingat, kira-kira seperti ini ilustrasinya. Jika semua orang mengikuti kata orang tua untuk menjadi dokter. Di dunia ini semua orang adalah dokter, dan semua orang akan menanyakan kepada satu sama lain "Apakah kamu sakit?" "Tidak. Apakah kamu sakit?" "Tidak".

Menurutku, hal itu juga berlaku di dunia tulis menulis ini. Jika semuanya menulis mengenai hal-hal yang kebanyakan orang inginkan, misalnya orang-orang hanya menginginkan tulisan berbobot, atau orang-orang hanya menginginkan sastra yang indah, di mana kesenangan membaca itu?

Lagipula, ada kan orang-orang yang hanya ingin melihat kehidupan orang lain, atau hanya seperti apa tipe orang tersebut, menganalisis kepribadiannya mungkin? Orang-orang seperti aku. Dan biarlah orang-orang seperti aku itu bersenang-senang di blogku.

Dan dengan ini aku akan bilang mengenai apapun yang kutulis di blog ini:

FOR GOD SAKE I DON'T CARE. I JUST WANNA WRITE

Sunday, July 14, 2013

Sockologist

Some conversations I got from a tv series*. Something like this:
Kid: Dad, can you be on my class tomorrow to tell about your job?
Dad: Sure!
Kid: Great! Now you have to prepare what sock you're wearing!
Dad: Wha..? Why I have to prepare my socks?

Kid: Because you're a sock-ologist
Dad: What? I'm not a sockologist, I'm a psycho-logist. I solve people's problems
Kid: ...... Why?? (seriously, why??)
Mom: Honey, your dad helps people.
Kid: Like a superhero?
Dad: ..... Yeah.
Kid: Coool!
Yeah, I'm gonna be a superhero like your dad, kid. Or else, I'm gonna be a Sockologist.

*from Disney Channel: Dog With A Blog

Perjalanan

"Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalanku."
- Paul Thereoux (dalam Eric Weiner, The Geography of Bliss)

Ya. Tapi aku tetap ingin berjalan bersamamu..

Monday, July 1, 2013

Tentang "Daleman"

Assalamu'alaikum. Halo! Sudah liburkah anda? :D

Di tengah liburan, ceritanya gw punya pemikiran yang entah cuma gw doang yang merasa gini atau ada orang lain juga. Ini random banget, jadi jangan kaget atau merasa aneh dengan postingan ini. Nah, mungkin postingan ini agak feminim, karena akan lebih terasa buat mbak-mbak sesama pemakai jilbab, atau yang mengerti hijab-hijaban.

Ceritanya, gw merasa kalo daleman kerudung atau yang ngetrennya sekarang namanya 'ciput', itu tidak pantas untuk diperlihatkan. Maksudnya adalah, seharusnya pengguna ciput (gue misalnya) malu kalau ciputnya mulai keluar-keluar kerudung dan kelihatan. Beda dengan gaya-gaya sekarang yang memperlihatkan ciputnya di bagian jidat, atau di leher untuk pemakai ciput ninja, dsb. Makanya ciput banyak kan yang warna-warni, supaya bisa di mix and match sama kerudung dan bajunya. Cantik kok, rapi juga kok.. Tapi, yaa tetap saja gw merasa aneh dengan ciput yang diperlihatkan ini. Karena itu, gw sendiri tidak pernah memakai kerudung dengan model yang menampakkan ciput, sekalipun gw pakai ciput ninja.

Entah kenapa, menurut gw doang nih kayaknya, memperlihatkan ciput itu sama kayak memperlihatkan baju/celana dalam. Loh kenapa? Well, sebelum mengenal kata 'ciput', benda itu kan namanya 'daleman kerudung'. Sesuatu yang berada di dalam kerudung. Daleman kan? Bra/kaus dalam sama celana dalam juga namanya daleman, malu kan buat diperlihatkan? Jadi, kenapa ciput tidak malu untuk diperlihatkan? Ciput itu fungsinya menjaga rambut agar tidak keluar-keluar kan? Nah, bra dan kawan-kawan juga punya sesuatu untuk dijaga, if.. you know what I mean. Lantas kenapa ada perbedaan hak dari sesama daleman tersebut?

Celana dalem: Ini gak adil! sama-sama daleman, tapi kenapa gw gak bisa eksis kayak ciput? Kenapa? Kenapa?
Bra: Sis, sabar sis. Gw juga ga bisa eksis coy! Si ciput kenapa beruntung banget sih. Eh tapi masih mending lu tau. Lu masih bisa eksis tuh kalo misalnya yang make lu pake baju kependekan, trus doi nungging.
Celana dalem: Ah, itu kan gak disengaja. Si pemake pasti malu kalo gw keliatan. Cuma si ciput tuh! Kayaknya anak kesayangan banget, yang make gak perlu malu, bangga pula si ciput ada di luar. Masuk youtube pula! Gak adil! Kan kita sama-sama daleman. Harus ada kesetaraan HAD (Hak Asasi Daleman)
Ciput: Berisik! Sirik aje lu lu pada...
*cut*

Ok, it's going too far and absurd.

Ehm, jujur aja, sebenernya terbesit untuk memulai postingan ini adalah ketika sedang melihat-lihat video tutorial hijab, a.k.a hijab gaul yang notabennya cuma gw pake kalo gw jalan-jalan doang. (Yah malu, ketauan kerjaannya ngapain). Trus, tiba-tiba gw merasa aneh aja, sama mbak-mbak yang memperagakan tutorial hijab tersebut. Tiba-tiba gw kepikiran, adegan pertama yang pasti ada dalam tutorial hijab adalah adegan di mana mbak-mbaknya hanya memakai ciput ninja, bukan? Lalu dengan step by step, mereka mengajarkan cara pakai kerudung. Entah tiba-tiba kepikiran, menurut saya, mengajarkan memakai jilbab bukannya sama seperti mengajarkan memakai baju? Maksud saya sama saja kan dengan ketika anda hanya memakai tank top lalu anda mengajarkan cara memakai baju?

Loh kenapa begitu? Coba deh, kalo lagi di luar, di tempat kuliah, atau di tempat kerja, trus tiba-tiba merasa gak sreg sama kerudungnya, merasa kerudungnya sudah tidak simetris, terus pingin benerin kerudung. Malu ga sih kalau buka dan benerin kerudung di tempat itu juga, walaupun pake ciput ninja? Pasti benerin kerudungnya di kamar mandi kan? Nah, kenapa di video tutorial hijab, ga apa apa banget cuma pake ciput ninja? Ya.. Menurut saya itu sama kayak cuma pake baju dan celana dalem aja sih, belom pake baju. Oke, beberapa orang hanya memperlihatkan sebagian ciput, misalnya di bagian jidat atau di leher, biar warna ciputnya keliatan. Samakah itu seperti memperlihatkan warna tali bra? Tau kan, memperlihatkan hanya tali bra melalui model baju yang lebar? 

Wait, saya tidak bilang kalau memperlihatkan ciput itu tidak syar'i. Di samping itu semua, yang penting kita tahu model hijab seperti apa yang syar'i. Tidak akan saya bahas, saya yakin kamu sudah tau, dan sudah banyak sumber jika kamu mau cari di google. Sekian dari kerandoman saya. Maaf kalo agak frontal. Don't judge me. No hard feelings. Gw masih mengapresiasi kok mbak-mbak yang mau mengajarkan tutorial hijab. Apalagi semua ukhti-ukhti dan teman-teman gw yang cantik-cantik dengan model hijabnya masing-masing. Sekali lagi, ini semua hanya perasaan saya saja.  Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini hanya yang terlihat di mata saya dan ada di perasaan dan kognisi saya. Saya tidak menyatakan benar atau salah, karena saya bukan ahlinya. Ini hanya pendapat, bahkan hanya perasaan yang teramat subjektif, okay? Peace :)

Song of the Day: Disney Hercules OST - I Won't Say I'm In Love
Because it's too cliche....

Wednesday, June 19, 2013

Why? (Sebuah Cerita Penggemar Video Games)

Hey guys, who loves video games? I do! 

Sebelumnya gw mau mengingatkan dulu bahwa di post ini mungkin hanya ada bebrapa orang tertentu yang akan mengerti, biasanya yang tertarik dan suka bermain video games dan/atau pernah main banyak video games. Jadi bagi yang tidak tertarik video games mungkin bisa lanjut ke postingan selanjutnya, hehe.

Kali ini gw akan membahas sesuatu tentang vgames yang sebenarnya sudah lama gw renungkan. Bagi yang menyukai bermain video games, ngerasa gak sih kalau vgames itu semakin lama semakin mudah untuk dimainkan? Misalnya, Games X 1 sudah pernah kamu mainkan, ketika sudah muncul games X 2, kamu merasa bahwa games itu tidak ada bandingannya dengan yang pertama. Semacam effortless untuk menyelesaikannya. Hal ini saya rasakan untuk hampir semua games yang pernah saya mainkan. "Syak, mungkin karena lo udah terbiasa main yang pertama, jadi selanjutnya lo merasa mudah di seri selanjutnya." Well, engga juga, karena ga sedikit games yang gw mainin itu seri lanjutannya dulu baru seri pertamanya.

Salah satu contohnya, games favorit masa kecil gw yaitu Crash Bandicoot. Tau? Seri petualangan Crash Bandicoot ada 3. Nah, pertama kali gw main itu adalah Crash Bandicoot 3, jujur gw baru berhasil menamatkan games ini saat kuliah, karena waktu kecil gw terlalu takut untuk menghadapi satu level yang penuh kegelapan sehingga gw memutuskan untuk berhenti. Tapi, level kegelapan itu adalah level bagian akhir game, yang intinya adalah gw berhasil sampai sejauh itu waktu gw kecil. Kemudian, waktu kecil setelah gw menyerah akan Crash Bandicoot (CB) 3, gw mendapatkan games CB 1 dan 2, dan beeeh susah banget bro! Gw kayak baru mainin semacam 1 pulau di CB 1, dan 2 dunia di CB 2, dan gw udah menyerah karena segitu susahnya. Kemudian, kedua permainan ini gw  coba mainkan lagi ketika gw kuliah dan hasilnya tetap sama.

Crash Bandicoot 
(source)

Awal keinginan gw untuk menuliskan post ini adalah setelah gw bermain Temple Run. Pasti tau dong, games di smartphone yang satu ini? Gratis pula! Nah, gw merasa, sangat merasa Temple Run 2 itu jauh lebih mudah dibandingkan Temple Run 1. Hal itu terlihat dari highscore yang gw dapatkan yaitu Temple Run 2 lebih tinggi 5 juta daripada highscore gw di Temple Run 1. Lagi-lagi, gw masih gangerti kenapa bisa seperti itu. Apa mungkin emang penghitungan score nya beda? Misalnya 1 juta di TR 1 itu sama dengan 5 juta di TR 2? I'm too lazy to find out, yang jelas gw merasakan keduanya sebanding penghitungannya tapi yang kedua lebih mudah.

Kemudian apalagi ya? Mainan gw di PC saat gw sedang frustrasi misalnya, Hitman. Pernah main Hitman? Atau nonton filmnya aja deh, yang main ganteng lho! hehe. Hitman pertama yg gw mainkan adalah Hitman Blood Money yang merupakan seri lanjutan dari Hitman. Permainannya cukup sulit gw rasa. Kemudian saat itu teman saya meminjamkan seri sebelumnya dari Hitman yaitu Hitman Cotracts. Dan gw merasa bahwa Hitman Blood Money ga ada bandingannya, karena Hitman Contracts susah banget broo. Walaupun gw berhasil menyelesaikannya, tapi effortnya itu sangat, snagat besar. 

Selanjutnya ada game Spellforce. Games PC favorit gw waktu SD. Jujur lagi, gw baru menamatkan Spellforce 1 saat kuliah, karena waktu kecil lagi-lagi gw terlalu takut, untuk menghadapi suatu dunia yang penuh dengan medusa. Bagian itu sangat sulit, dan sebelum itu juga gw harus melewati perang-perang besar yang sulit. Saat SMA, gw sudah menamatkan Spellforce 2 terlebih dahulu, dan waktu kuliah saya baru bisa menamatkan Spellforce 1. Menurut saya memang ternyata Spellforce 2 gampang banget, karena gw bisa tamat dengan cepat.  Di Spellforce 1, kamu punya banyak pilihan, misalnya untuk selektif jual beli barang ini itu untuk memenuhi suatu objective, selektif masuk ke portal ini itu untuk memenuhi suatu quest. Tapi kalau di Spellforce 2, rasanya semua yang kamu lakukan itu sudah di arahkan, dan tidak perlu takut untuk mengambil sebuah keputusan karena semua tindakan yang kamu ambil akan berakhir pada jalan cerita yang sebenarnya (karena memang cuma ada satu jalan). Terus begitu pula dengan effort untuk membangun pasukan. Di Spellforce 2, rasanya semudah dan secepat itu membangun pasukan untuk melawan musuh, dan beban perangnya sedikit, kalo di Spellforce 1, kadang bisa berjam-jam membangun pasukan kuat dan bisa aja gagal perang dan lama lagi harus rebuild pasukan kamu. Di Spellforce 2 bahkan kalo karakter kamu mati, karaktermu bisa dihidupin lagi segampang itu! Kalo di Spellforce 1, kamu mati, enaknya langsung load games, karena kalo continue, experience points kamu berkurang. Gak ngerti ya? Coba deh main! hehehe

*berhenti sejenak* *hapus air mata* Gw jadi kangen masa-masa gw bisa meluangkan waktu untuk main games. Padahal gw udah minta laptop segede ini untuk main games, tapi tahun ini belum sempat main games. Saat ini gw sedang liburan dan semoga gw sempat main games ya  :')

Oiya, selain vgames semakin ke seri selanjutnya semakin mudah, menurut gw, vgames juga semakin lama semakin 'dimudahkan' oleh penciptanya. Makin ke sini, guide atau tutorial pada awal memulai sebuah games itu, makin gak penting banget, dan ganggu, karena kadang ada di mainscreen dan bikin distract. Terus banyak hints atau instruksi yang bisa sangat memudahkan kita dalam bermain games tersebut. Jadi gak ada tantangannya untuk berfikir. Coba liat video ini deh, gw setuju banget sama dia, khususnya bagian pembahasan yang ada grafik "Yeah I get it." Rasanya video ini sudah merepresentasikan apa yang mau gw omongin di sini, hehe.



Intinya, entah kenapa semakin lama pembuat games semakin menambahkan hints dan instruksi games yang bikin kita ga usah mikir lagi. Kita seperti orang bodoh yang harus dicekoki dengan sekian banyak hints dan instruksi, tanpa anggapan bahwa kita akan berpikir sendiri. Padahal, inti sebuah games adalah kita berpikir untuk mendapatkan jalan keluar. Kalo kata video di atas, "respecting the intelligence of human beings". Kalau sudah dikasih tau seperti itu, jatohnya adalah kita hanya melakukan aksi, tidak berpikir. Contohnya, games sangar Assassin's Creed yang gw kira gamesnya susah banget, tapi ternyata gampang banget. Lu tinggal loncat-loncat gedung sama ngebunuh orang. Kalo ada bagian-bagian tertentu yang mungkin menurut penciptanya susah, pasti akan muncul kode-kode baik itu arah, atau instruksi, atau begitu deh, padahal sih, "gue udah tau kalee."

Baiklah, inti dari post ini adalah, "why?" Gw bingung dan masih bingung kenapa ada kecenderungan games untuk menjadi lebih mudah pada seri selanjutnya. Dan kenapa ada kecenderungan pencipta games untuk lebih memudahkan games yang ia buat di seri selanjutnya. Mungkin ada yang tau alasannya? Atau hanya sekedar setuju/ tidak setuju dengan pendapat saya? Atau punya pengalaman sama atau beda dengan games lain? Atau hanya sekedar bilang "sombong lu, syak kayak gini dibilang gampang"? Saya sangat senang dengan sharing anda! Monggo di share :D

Wednesday, May 29, 2013

Bukalah (2)

Kamu sih, sudah lama kamu menutup sebelah matamu. Ketika kamu membukanya, matamu sulit beradaptasi. Kaget ya? Jangan salahkan cahaya..

Monday, May 20, 2013

I Already Know That

Pernah tidak, kamu berada dalam "I already know that" moment? Momen itu ketika kamu lagi ngobrol bareng teman-teman trus membicarakan suatu hal yang menurut teman-temanmu adalah info baru, padahal kamu sudah mengetahuinya. Tapi sayangnya, kamu gabisa bilang "Aku udah tau itu!" atau "I already know that!" Dan kamu kemudian terjebak untuk meneruskan percakapan dengan berusaha menampilkan tampang 'baru tau'.

Kenapa sampe gak bisa bilang? Kadang memang ada hal-hal yang benar-benar bisa menekan kamu untuk tidak melakukan suatu tindakan di lingkungan sosial. Manusia cenderung ingin diterima di dalam lingkungan sosialnya sehingga manusia berusaha untuk melakukan hal-hal yang diterima oleh masyarakat. Saya rasa, dengan mengatakan "Aku sudah tahu itu!" dalam beberapa konteks akan membuat berkurangnya atau hilangnya penerimaan tersebut. Saya sendiri sering sekali merasakan dan mengalami momen seperti itu dan saya termasuk orang yang cukup concern dengan penerimaan diri di lingkungan sosial. Alasan-alasan yang saya rasa sesuai dengan yang saya alami yaitu:

Pertama, takut dikira sombong (sok pintar). Ini commonsense banget sih. Orang yang sudah tahu terlebih dahulu dibandingkan orang lain mungkin akan dianggap lebih pintar. Dan sepertinya, di negara kolektivis seperti ini, jika kita mengemukakan kepintaran kita sendiri, besar kemungkinan akan dikira sombong. Contohnya, kamu dan teman-temanmu sedang membicarakan mengenai suatu hasil penelitian baru yang ternyata kamu sudah baca sebelumnya. Tiba-tiba kamu bilang "eh iya gue tau tuh, gue pernah baca, katanya...blablabla", terus kemudian teman-temanmu bilang "ciyeee, tau deh yang pinter". Kemudian kamu bingung....

Kedua, takut dikira terlalu kepo. Haha. Ini masalah besar banget ya. Saat ini akses informasi sudah sangat luas. Coba deh sekali-sekali googling diri sendiri. Nah, adanya akses ini membuat orang-orang punya persepsi bahwa semakin tahu seseorang, maka ia semakin banyak melakukan akses ke informasi. Baik itu dalam hal informasi pengetahuan, sampai informasi pribadi seseorang. Makanya, kadang kalau kita ketahuan mengetahui mengenai informasi seseorang, kita akan dibilang: kepo!. Padahal bisa saja memang akses ke informasi tersebut terlalu mudah, bahkan memang diberikan sehingga orang lain bisa tahu dengan mudahnya. Kepo sendiri merupakan term 'keingintahuan tinggi' yang entah darimana asalnya. Contohnya, kamu tahu temanmu baru saja memenangkan sebuah lomba. Memang ia tidak banyak memberitahukan secara langsung ke orang lain, namun ia menulisnya dalam sebuah jejaring sosial. Kebetulan kamu melihatnya, dan besoknya kamu mengucapkan selamat. Karena temanmu itu merasa ia tidak pernah membicarakan hal ini, maka ia pun 'merasa dicari informasinya' dan ia pun berkata "wah kok tau sih, kepo ya!" instead of "terima kasih..."

Ketiga, takut dipersepsi berbeda. Apalagi yang berhubungan dengan lawan jenis. Biasa, manusia kan gak bisa berhenti berfikir. Dan fikiran itu kadang larinya cepat sekali. Apalagi kalau sudah ada konsep yang melekat didalamnya. Contohnya, orang lain punya konsep bahwa jika seseorang tahu tentang kehidupan seorang lawan jenis, akan dikira punya hubungan dekat dan biasa diasosiasikan dengan hubungan berbau romance. Ketika kamu sedang membicarakan seorang lawan jenis dengan teman-temanmu, kemudian teman-temanmu membicarakan informasi tentang orang tersebut, namun kamu tahu informasi tersebut salah. Lalu kamu bilang, "eh bukan tau, dia itu begini begini begini..." dan teman-temanmu malah berkata "ciyeee, kamu tau aja sih, suka ya?" Kemudian terjadi awkward moment. Apalagi kalo sampai orang yang kamu bicarakan tahu bahwa kamu tahu tentang dia. Padahal dia sendiri yang pernah memberitahumu informasi dirinya. Hal ini berkaitan dengan poin nomor dua tentang kepo, di mana sering orang mengasosiasikan bahwa jika kita tahu mengenai informasi orang lain, maka kita akan dikatakan kepo. Jadi, ada skema seperti ini: Kamu mengetahui informasi --> kamu dibilang kepo --> muncul salah persepsi (misalnya untuk lawan jenis, dianggap suka, atau 'ada rasa').

Kejadian-kejadian di atas itu true story lho. Kenapa hidup saya serba salah ya. Tapi, memang kejadian-kejadian seperti itu sangat tergantung lingkungan sosial tempat kita berinteraksi. Mereka itu siapa dan apa latar belakang mereka, karena bisa segitu berpengaruhnya. Ada yang memang tidak berespon secepat itu. Ada yang memang terbuka terhadap informasi baru dengan menunda konflik konsep yang sudah ada di kepala. Ada yang memang tidak mudah percaya ketika sedang ngobrol-ngobrol gosip seperti itu, sehingga tidak mau berkomentar lebih lanjut. Lebih baik sih, emang jangan ngegosipin orang, nanti ghibah, hehe.

Tapi disamping itu, senang juga ya rasanya kalau kamu sudah mengetahui suatu informasi duluan, kemudian kamu bisa mendeteksi adanya kebohongan dari orang lain. Cari sendiri aja contohnya, hehe.

"Ha! I already know that. And you're lying" :))

*ini hanyalah sepik belaka, boro-boro pake literatur :')

Sunday, May 19, 2013

Bukan Cuma Tentang Jatuh

Mengapa orang begitu senang dengan topik terjatuh? Langsung aja, jatuh cinta misalnya. Mengapa hal seperti itu dikatakan jatuh? Apa yang begitu menarik dengan jatuh? Jatuh itu di bayanganku adalah hal yang negatif. Jika kamu diperintahkan untuk menggambarkan 'jatuh' dengan arah panah, kamu pasti akan menggambarkan anak panah ke bawah di benakmu. Bawah, bagian bawah. Padahal katanya orang suka meninggikan cinta. Coba saja hitung lagu yang membawa nama cinta.

Jatuh mungkin bukan hal yang menarik saat rapat kerja suatu perusahaan. Melihat panah ke bawah mungkin membuat peserta rapat mulai gelisah. Lalu kejatuhan itu menjadi alasan bagi anggota rapat tersebut saat mengeluh pada hidup di kemudian hari. Kejatuhan itu yang disorot terus menerus.

Kemudian bayangkan kamu melihat seseorang yang ingin bunuh diri. Ia berdiri di ujung atap gedung dan kemudian melompat dari gedung. Jatuh, hanya itu. Jatuhnya tidak bergaya, tapi kemudian kata jatuh ada di headline berita pagi hari.

Apa yang menarik dengan jatuh? Apakah jatuh itu menarik karena bisa menimbulkan secara langsung gejolak emosi pada orang yang melihatnya atau mengalaminya?

Bukannya lebih seru adalah bagian mendarat? Entah di permukaan empuk, permukaan keras, atau di air. Mendarat di trampolin misalnya seperti anak-anak yang sedang main-main, mendarat di air seperti perenang indah, atau bahkan mendarat di udara seperti orang yang sedang bungee jumping. Seru kan?

Bagaimana dengan bangkit? Bukankah itu lebih seru? Orang yang terjatuh, dan kemudian bangkit? Bukan seperti butiran debu yang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Melihat orang memiliki daya resiliensi yang baik. Kuat. Itu juga cukup menyenangkan, melihat teman kita yang telah mengalami masa-masa sulitnya, bersinar kembali, menjadi lebih baik. Itu seru.

Daripada bagian jatuh.

Mungkin ini cuma aku yang berpikir seperti ini. Emang anaknya suka random, dan suka melihat suatu hal dalam kehidupan dalam adegan-adegan tertentu. Aku sendiri, lebih suka bagian, siapa yang menangkap. Rela, gak rela, niat, gak niat, sengaja, gak sengaja. Ah, seru :)

*random tingkat akut

Thursday, May 9, 2013

Some People

Some people just don't know, that some of their words, some of their actions, hurt some other people. They just selfishly speak up their mind, doing what they feel they have to.

And some people are too concern about hurting some other people. They say nothing, they do nothing.

Some people want it all, but I don't want nothing at all. If it ain't you. If I ain't got you.. #oot

Popular Posts