Tuesday, July 31, 2018

Zero Waste: Pengalaman 1 Minggu (part 2)

Selama seminggu ini pun aku banyak mencari-cari lebih dalam di internet, apa saja sampah yang bisa menjadi "waste". Ternyata banyak karena hampir semua di hidup kita apalagi di Indonesia ini ada packagingnya meski tidak semua terbuat dari plastik, namun berbakat menjadi sampah. Jadi seminggu ini aku bisa menyimpulkan kalau untuk Zero Waste itu bisa dibagi menjadi beberapa tahap, karena perjalanan masih panjang brooo. Paling tidak, tahap ini yang bisa aku kategorisasikan sebagai pijakan aku menuju Zero Waste.

Tahap 1. Memilah Sampah
This is a MUST. Benar-benar aku amazed, ketika kita mulai memilah sampah, kita menjadi lebih aware terhadap jumlah sampah kita, jenis sampah kita dan printilan sampah kira. Aku belajar bahwa sebenarnya aku cukup banyak membuang bahan makanan, apalagi nasi karena nasi cepat keras. Aku jadi lebih aware untuk menghabiskan makanan, dan menolak makanan yang pada akhirnya tidak akan aku makan (contoh: tomat, nangka, lalapan). Because food waste is the most riddiculous wasteAku juga mulai belajar meal prep, bisa dibaca di sini. Seringkali dengan alasan bahan makanan belum diolah dan aku buru-buru, aku jadi malas masak dan akhirnya bahan makanan tersebut jadi cepat busuk dan dibuang. Dan itu yang selama ini aku sayangkan huhu, maafkan aku, makanan..

Tahap 2. Mengganti Produk Sekali Pakai dengan Produk Sustainable
Alhamdulillah, ternyata banyak juga usaha lokal yang memproduksi barang-barang package free dan sustainable. Maka dari itu aku mendedikasikan page baru di blog ini yaitu Zero Waste Life untuk usaha-usaha mereka. Dengan membeli produk-produk sustainable ini, dalam seminggu aku bisa mengurangi cukup banyak sampah terutama plastik dan kantung plastik. Contoh barang itu adalah sedotan stainless, beeswax wrap, produce bag, sikat gigi bambu, cotton pad, food container, dsb. Jenis-jenis produk sustainable aku share di post ini.

Tahap 3. Membuat Kompos
Nah, ini yang aku masih bingung caranya dan belum siap. Pasalnya, aku dan suamiku masih belum klop dan masih struggle dalam transisi memilah sampah. Kalau harus ditambah dengan membuat kompos kayaknya masih terlalu beban untuk kami. Aku putuskan untuk pending dulu, karena jujur sepertinya aku tidak bisa melakukannya sendiri, minimal aku butuh suamiku yang sigap untuk bantu aku membuat kompos. Aku juga ingin mencari komunitas atau mentor untuk membuat ini, karena aku masih belum tahu proses dan hasil akhirnya harus diapakan :")

Tahap 4. Menolak Produk Kemasan
Susah? Lumayaan. Masalahnya, di Indonesia ini hampir tidak ada yang namanya Bulk Store. Bulk store adalah toko yang menjual bahan makanan dan produk refill, sehingga kita hanya tinggal membawa wadah sendiri dan tanpa packaging yang akan menjadi sampah. Kalau tokoh-tokoh Zero Waste di luar negeri cukup menarik karena mereka ada Bulk Store dan rata-rata mereka vegan dan bisa makan cuma biji-bijian dsb. Bulk store di Indonesia paling isinya snack curah :"). Nah paling kalau di Indonesia kita harus beralih lagi pada pasar tradisional, dimana kita bisa menyodorkan wadah ke pedagang agar tidak diberikan plastik/bungkus untuk produk yang kita beli. Kalau di supermartket...aduh jangan harap tempat sampah pilahnya kosong ya hihi. Alternatif lain adalah membuat produk makanan sendiri seperti snack, yoghurt, dsb. Semoga makin banyak Bulk Store yang terjangkau lokasinya di Indonesia. 
Image result for bulk store
Bulk Store di Luar Negeri (source)
Tahap 5. Membuat Produk Kebersihan Sendiri
Nah, ini menurutku paling sulit transisinya. Karena, kita terbiasa beli alat kebersihan langsung jadi, seperti sabun, detergen, pembersih dapur dan sebagainya. Belum lagi kalau sudah cocok dengan produknya, masalah gengsi, dan sebagainya. Namun, selain mereka hadir dalam kemasan yang bisa menjadi sampah, ternyata mereka juga berbahaya bagi pencemaran lingkungan. Ya, selain memikirkan sampah packaging, ternyata ada juga PR untuk memikirkan sampah limbah, karena justru limbah itulah yang akan diserap tanah dan air yang akan berputar menjadi air yang kita minum atau gunakan sehari-hari. Di tahap ini, kita mulai membuat produk kebersihan sendiri seperti moisturizer, makeup, cairan pembersih dari EcoEnzyme, deterjen alami dari lerak atau pakai eco-laundry ball, dan sebagainya. Itu semua bisa dilakukan! Berbagai resep pembuatanya sudah bertebaran di internet, hanya tinggal kemauan dalam diri kita saja.

Setelah dievaluasi, sepertinya aku baru mencapai tahap ke 2, mengganti produk sekali pakai menjadi sustainable. Tapi tidak apa-apa nanti aku berusaha untuk meraih tahap-tahap selanjutnya. Targetku adalah sudah Zero Waste bersama suamiku di akhir tahun 2018, karena di bulan Januari InsyaAllah sudah kedatangan anggota baru di keluarga, aamiin :) Jadi ketika sudah terbiasa untuk ber Zero Waste, akan mudah menerapkan Zero Waste kepada orang lain juga.

Terakhir, dukungan itu penting. Pernah beberapa kali aku down dan ingin menyerah karena suamiku bilang aku ribet, atau banyak sampah-sampah suamiku yang harus aku pilah, atau menolak bawa food container ketika ingin membelikan makanan. Apalagi dengan aku sedang hamil jadi lebih moody dan lebih mudah lelah. Tapi karena aku percaya aku melakukan hal yang baik, aku tetap semangat. Aku sebenarnya heran, kenapa sekarang malah semangat melakukan hal ini, apa ini dorongan dari dedek dalam perut? Aku percaya kamu akan jadi anak sholeh/sholehah yang peduli dengan lingkungan sekitarmu, nak :)

Zero Waste: Pengalaman 1 Minggu (part 1)

Selama satu minggu ini aku telah mencoba gaya hidup Zero Waste. Susah? Iya! Mudah? Iya juga!. Jadi ini semacam love-hate relationship. Zero waste adalah proses yang sangat panjangMinggu ini, pastinya aku belum bisa menjalankan 100% Zero Waste. Kenapa begitu?

Pertama, aku belum bisa membuat kompos untuk mengolah sampah organik. Namun, aku mulai membiasakan memilah sampah di rumahku. Sampah organik sekarang aku pisahkan ke tempat sampah sendiri. Wadahnya masih menggunakan kantung plastik, karena tukang sampah hanya mau menerima sampah berkantung. Biasanya, karena tempat sampah bercampur dengan sampah lain dan sampah plastik, tempat sampah jadi cepat penuh, sehingga satu hari bisa menyetor 1 plastik. Bayangkan 1 minggu = 7 kantung plastik. Dengan kebiasaan baru memilah sampah, aku amazed, jika tempat sampah hanya berisi sampah organik, tempat sampah sekecil 5L pun bisa muat sampah organik sampai 3 hari (itupun masih berongga dan ingin segera dibuang karena mulai bau). Bayangkan jika semua jadi kompos? = 0 (nol) kantung plastik. (aamiin)

Kedua, aku masih banyak mengumpulkan sampah tisu. Hal ini karena aku belum punya banyak stok lap kain sebagai pengganti tisu. Namun, karena kebiasaan baruku memilah sampah, akupun amazed karena dalam satu minggu, sampah tisu bisa muat dalam satu kotak sampah 5L dan tidak bau. Hal ini karena absennya sampah plastik yang membuat penuh tempat sampah dan juga absen sampah organik yang membuat tisu menjadi basah dan bau. Minggu ini aku belum menyetor kantung sampah tisu ke tukang sampah karena aku rasa masih bisa diisi dan tempat sampahnya pun tidak bau :)

Ketiga, aku masih menggunakan gaya hidup lama sehingga aku masih banyak membeli produk kemasan. Cukup sulit meninggalkan kebiasaan "jajan" seperti snack, yoghurt dan makanan kemasan. Jadinya, walaupun aku sudah memilah sampah organik dan anorganik, sampah plastik dan kemasan masih bertumpuk dalam satu kardus. Nah, sepengalamanku ini, untuk mengumpulkan sampah tersebut, kondisinya harus bersih, jadi bayangkan jika ada plastik bekas bungkus makanan yang berminyak, harus aku cuci dahulu selayaknya piring, dan aku jemur. Belum lagi yang plastiknya kecilkayak sambal sachet, snack kucing, potek-an bungkus, dll. PR banget! Dari pengalaman itu, aku berpikir memang lebih baik menolak daripada menerima tapi harus membersihkan seribet itu. Untuk plastik yang aku yakin tidak bisa direcycle misalnya rusak atau terlalu kecil, aku coba masukkan ke botol plastik bekas untuk dijadikan Eco Brick.


Eco Brick (source)
Dari hasil pengalamanku satu minggu, kira-kira inilah kesimpulan sampah yang berhasil aku pilah:
Sampah organik --> 3 bungkus plastik dalam seminggu (sudah dibuang)
Sampah tisu (anorganik) --> 1 bungkus plastik dalam seminggu (belum dibuang krn masih muat)
Sampah plastik dan kemasan (yang kira2 bisa direcycle)--> dibersihkan, dipilah dalam 1 kardus untuk disetor ke Bank Sampah)
Sampah plastik non-recycle --> dibersihkan, dipotong kecil-kecil dijadikan Eco Brick (saat ini baru 1 botol air mineral 600ml belum penuh)
Sampah kecil2 non-plastik non-recycle --> dikumpulkan dalam botol kaca (ini seperti contoh mason jar milik Lauren Singer)
Sampah baterai --> dikumpulkan terpisah (jika sudah banyak akan disetor ke agen Electronic Waste)
Minyak jelantah --> dikumpulkan dalam botol minyak bekas (jika sudah penuh dikirim ke agen upcycle minyak jelantah menjadi diesel ramah lingkungan)

Ternyata sampai seprintil itu kategori sampah, dan masih seminim itu pengetahuanku tentang kategori sampah dan cara pengolahannya. Tapi tetap, sampahku adalah tanggung jawabku. Walau terasa sepele, walau terasa "ah hanya sampah kecil", ternyata dampaknya besar. Kenapa? karena yang melakukan ada 8 milyar orang di Bumi ini. Bayangkan jika satu individu membuang 5 kg sampah setiap harinya, berapa ton sampah yag dihasilkan dalam satu tahun dikali jumlah penduduk? Jika kita, satu orang, bisa mengurangi sampah menjadi 0, kita akan merubah statistik sampah pertahun yang diproduksi. Minimal kita tidak menyumbang gunung TPA dan ombak sampah di laut.

Semangat pejuang Zero Waste! :)

Sunday, July 29, 2018

Zero Waste Lifestyle

Aku sedang mencoba memulai gaya hidup yang disebut Zero Waste. Pada dasarnya Zero Waste ini adalah ketika individu mengurangi, bahkan tidak memproduksi sampah sama sekali (Nol Sampah). Terdengar tidak mungkin? Mungkin awalnya iya, namun setelah mencari inspirasi dan referensi, banyak sekali orang-orang yang sudah melakukan hal tersebut bahkan di negaraku Indonesia, negara kedua penghasil sampah di laut. Jika mereka bisa, aku pasti bisa.

5R Zero Waste
Bagaimana caranya? Semua dimulai dari kebiasaan. Tidak sebentar aku harus mengedukasi diriku untuk memulai Zero Waste, searching web sana sini, nonton youtube, cari akun-akun Instagram. Apalagi juga butuh barang-barang pengganti produk sekali pakai yang berkontribusi menjadi sampah. Belum lagi mengumpulkan niat 100%. Memang, banyak persiapannya, tapi semua ini tergantung niat. Iya, niat aku untuk  menjaga Bumi ini, karena Bumi ini titipan Allah SWT. Pernah juga aku tulis di postingan aku sebelumnya, kalau aku ingin anak cucu aku tidak mendapatkan "warisan" sampah. Bayangkan misalnya aku hanya memakai kantong plastik hanya 30 menit, tapi plastik itu akan masih ada 200 tahun lagi untuk generasi cucuku yang kesekian karena belum terurai. 

Dengan lifestyle baru aku ini, aku ingin membuka page baru di blog ini yaitu:


Isi page tersebut adalah list referensi toko atau inspirasi untuk menjalankan hidup Zero Waste. Buatku sendiri yang anaknya suka nge-list, minimal laman ini sebagai catatan aku pribagi untuk membantu menjalani gaya hidup baruku. Aku gak mau sendiri dalam Zero Waste ini dan aku mengajak teman-teman untuk mulai hidup Zero Waste dari hal-hal yang mudah. Semoga teman-teman juga bisa mendapatkan manfaatnya dari page ini.

Perlu diingat, bahwa untuk menjadi Zero Waste itu proses ya, proses panjang sekali, jadi jangan menyerah untuk terus berubah dari hal-hal kecil. Berikut ini beberapa swaps, atau alternatif yang bisa teman-teman gunakan untuk memulai Zero Waste, baik itu produk maupun kebiasaan (sumber: @thenugrohouse dengan tambahan).

Barang sekali pakai yang bisa diganti menjadi lebih sustainable:
  • Tisu --> Lap kain
  • Plastik Wrap --> Beeswax Wrap
  • Kantong Plastik --> Reusable bag/totebag/produce bag
  • Baterai biasa --> Baterai Rechargeable
  • Sedotan, alat makan, sumpit --> pakai yang reusable (metal or bambu)
  • Cotton buds --> Cotton bud bambu yang compostable
  • Pembalut --> Cotton menstrual pad atau menstrual cup
  • Toilettries kemasan kecil --> Ganti ke ukuran besar agar bisa refill, atau beralih ke Bar soap, atau bikin sendiri 
  • Popok sekali pakai --> Popok kain
 Contoh kebiasaan yang bisa diubah:
  • Pilah sampah minimal organik dan non organik. This is a MUST dan fundamental banget untuk Zero Waste. 
  • Biasakan sampah plastik, kertas, logam, dibersihkan dan dipisahkan, lalu dikumpulkan dan disetor ke Bank Sampah atau lembaga yang merecycle jenis sampah tersebut.
  • Kumpulkan minyak jelantah, jangan sering memasak deep fried. Tipsnya bisa dilihat di sini
  • Belajar membuat kompos untuk mengolah sampah organik atau membuat lubang biopori
  • Bekal di tas: totebag, sedotan-garpu-sendok reusable, botol minum reusable, food container (kalau mau jajan)
  • Membuat EcoBrick untuk mengumpulkan sampah plastik sisa atau yang tidak bisa direcycle.
  • Belajar membuat EcoEnzyme yaitu membuat cairan pembersih alami dari cuka dan kulit jeruk/bahan organik lain.
  • Jauhi produk berkemasan. Bisa dengan belanja di Bulk Store atau membuat produk sendiri.
  • Beli barang-barang secondhand jika bisa, dan perbanyak donasi untuk barang-barang yang tidak terpakai
Aku bukan guru Zero Waste atau ahlinya, aku juga masih belajar, sooo kita sama-sama belajar bagi yang pemula. Kalau ada yang sudah lebih ahli boleh banget sharing ke aku dan ajarin aku, ajak community juga boleh khususnya di Bandung ni karena aku sekarang tinggal di Bandung :)

Nih, inspirasi buat teman-teman :)

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/OuABgFsv5pw" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe>


Thursday, November 2, 2017

Untung Saja Menikah

Aku berfikir, melihat fenomena jaman sekarang ini, banyak anak-anak muda yang begitu dekat sekali terjerumus dalam bahaya virus merah jambu. Virus merah jambu memang wajar, tapi pasti ada bahayanya, dan mereka begitu dekat dengan hal itu. Jadi, kalau aku melihat ada anak-anak yang sudah pacaran lama, bermesra-mesraan lama, lalu menikah, saya sendiri entah kenapa merasa lega begitu, "untung mereka menikah". Bisa jadi kan salah satu ada yang sudah dirugikan lalu mereka tidak jadi menikah? Bisa jadi pula keduanya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya sebelum menikah? Makanya saya berfikir, "Untung saja mereka menikah".

Image result for children couple photography

Di satu sisi aku sangat bersyukur sekali mereka sudah menikah, sudah halal. Namun di lain sisi aku memikirkan kalau mereka punya anak, duh, kayaknya jangan dulu deh. Aku merasa mereka belum matang, belum siap, masih labil. Aku tidak berhak menjudge, tapi tentunya dari postingan-postingan mereka di medsos aku bisa menilai seperti apa mereka kan? Seawam-awamnya aku sebagai anak psikologi, pasti mengerti 'usia mental' seseorang dari postingan media sosialnya.

Bingungnya, sudah jadi budaya orang Indonesia kalau ada orang menikah langsung ditanya "sudah isi?". Tak jarang pula yang menjudge "jangan menunda anak, nanti sulit punya anak". Seakan Tuhan jahat banget kalau nunda anak apapun alasannya, jadi dipersulit. Jadinya orang yang baru menikah merasa tidak nyaman, dan siap ga siap mereka memutuskan punya anak. Aku sebenarnya kasihan, mereka dipaksa melakukan sesuatu yang mereka sendiri belum paham resikonya.

Memang, dalam agama kita memang tidak boleh takut punya anak, karena Allah akan menjamin rezekinya. Tapi bukan masalah keuangan, toh biasanya anak-anak itu juga sudah mapan, bahkan lebih mapan daripada orangtuanya, tapi ini masalah tanggung jawab agama, moral, dan pendidikan anaknya. Aku melihat anak zaman sekarang begitu ingin eksis di sosial media, ingin berkeliling dunia, masih belum mengerti jati diri. Jadilah banyak anak-anak yang ditelantarkan (secara emosi), tidak memiliki kedekatan emosional dengan orangtuanya, karena orangtuanya begitu workaholic atau sosialita. Meskipun, anak-anak itu hidup dalam kecukupan dan pendidikan yang baik, namun ia menjadi bully di sekolah atau bergaul dengan anak-anak yang kurang baik, tidak paham moral dan agama. Ketika mereka dewasa mereka juga menjadi anak-anak yang aku bilang "untung saja mereka menikah". Cycle-nya jadi berputar-putar.

Tapi, besides all of that. Lagi-lagi, untung saja mereka sudah menikah. Daripada punya anak tapi belum menikah. Hehe.

Sorry, Old Me

Aku ini orangnya penyayang. Maksudnya teh suka "sayang" sama hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan atau sejarah hidup. Jadinya, anaknya suka hoarding, mengumpulkan barang-barang lama sampai bulukan dan gak tau gunanya buat apa, karena sayang untuk dibuang. Akupun juga merasa tidak rugi untuk menyimpan semua barang itu, toh semuanya berkesan, menyimpan cerita dibaliknya, mengingatkan pada memori.

Image result for writing diary.png
(source)

Aku punya diary kecil, dulu namanya orji, dan hits banget di kalangan anak SD. Orji yang kertasnya bagus-bagus lucu-lucu aku koleksi dan ditukarkan dengan teman-teman aku. Tapi kertas yang biasa saja dan banyak, aku jadikan buku diary. Jangan salah, dulu aku rajin sekali menulis diary. Meskipun dulu aku bodoh dan lugu (tapi tetap imut), dan gak bisa mengambil insight dari apa yang terjadi dalam hidup, aku begitu tulus dalam menuliskan hal-hal yang terjadi dalam sehari-hariku. Saat kubuka kembali orji masa kecilku, terkadang aku tertawa sendiri "bodoh, begini doang ditulis". Aku lebih banyak menulis bagaimana kegiatanku dari bangun pagi sampai tidur, dibandingkan apa yang aku alami hari itu. But hey, bebas toh? namanya juga anak kecil. Ya meskipun dulu aku anak kecil bodoh, aku ingat kok dulu ada teman aku yang lebih rajin lagi setiap hari nulis diary nya panjang banget kayak novel. Tapi, menulis diary itu menyenangkan sekali.

Disamping kebodohan itu aku melihat di sekeliling orjiku, begitu banyak tempelan-tempelan kolase yang menghias buku orjiku. Bahkan aku sampai kagum sendiri, "dulu aku bisa ya bikin begini?". Begitu detail dan rapi karayaku di orji itu. Aku jadi ge-er, ternyata aku ada bakat kreatif (tsaah). Yah, ga nyangka aja dulu aku bisa bikin prakarya seperti itu, kepikiran dari mana gitu. 

---

Hari ini aku sedang membersihkan file laptopku. Kebetulan laptopku baru saja sembuh dari rusak yang cukup lama dan sekarang sudah kembali bisa digunakan seperti laptop baru (caiillaaah). Aku melihat file-file lamaku. Aku dulu suka menulis cerpen, tidak banyak yang aku publish di blog, kebanyakan cerpen-cerpen gagal menang lomba di koran atau blog competition. Pada intinya, banyak yang aku simpan sendiri. Tapi entah mengapa aku heran sendiri, iseng aku baca satu dua cerpenku, aku merasa tidak pernah menulis itu. Aku merasa membaca tulisan orang lain, tapi yang gaya bahasa dan penulisannya sama denganku. Kadang bahkan aku terharu atau tertawa sendiri membaca yang katanya tulisanku itu.

---
Bahkan aku baru ingat, aku punya blog yang lain selain ini, yang merupakan kumpulan puisi-puisi buatanku. Lagi-lagi, aku tak percaya kalau aku pernah membuatnya. Aku seperti, "apa ya yang dulu aku pikirkan?". Kubaca satu dua, tak menyangka bagus juga. Ada juga sih yang aneh dan terlalu dipaksakan, tapi ternyata kumpulan puisi itu bisa dibilang cukup banyak untuk memenuhi suatu blog yang sepi. Kalian bisa lihat halaman itu di dashboard My Other Pages.

---
Sungguh aku heran. Pertama, apakah dulu aku memang orang yang cukup kreatif dan produktif sehingga bisa membuat karya-karya yang bahkan diriku sekarang tidak percaya aku bisa membuatnya.
Kedua, apakah diriku yang dulu tidak kecewa dengan aku yang sekarang? Pemalas, tidak termotivasi, mudah menyerah, dan paling penting, tidak produktif. Plakk.

Duh ada yang bisa tampar aku?

Hehe.. maaf ya aku yang dulu, aku yang sekarang terlalu sibuk, seakan semua badan digerakkan bukan oleh otak, tapi oleh dengkul. Otaknya hampir mati, mengerjakan rutinitas, yang juga tidak terlalu ia cintai. Semoga kamu tidak kecewa ya, aku yang dulu.

Wednesday, April 19, 2017

Jadi Ibok yang Baik

Salah satu pertimbangan yang muncul berbarengan dengan pertimbangan ketika akan menikah pastinya berhubungan dengan anak. Iya, sudah paket namanya ketika akan menjalani suatu pernikahan, pasti juga harus memikirkan tentang anak. Entah itu insyaAllah diberikan rezeki cepat, maupun nanti, intinya pasti suatu saat ada rencana untuk memiliki anak.

Bagi anak-anak (jjiaaah anak-anak, hehe) zaman sekarang, rasanya ideal banget nikah muda dan langsung punya anak sehat pintar macam Kirana gitu. Pasti pada pengen bisa cepet-cepet ngasuh anak, jadi ibu yang baik yang bisa nerapin psikologi keluarga. Tapi kok aku engga ya. Aku emang dari dulu anaknya biasa aja sama yang namanya ngelihat anak, ngelihat bayi. Kalo orang bilang mungkin "kurang luwes" sama anak-anak. Meskipun aku suka ngajar anak-anak, itu ya karena aku cukup aware sama pendidikan anak, buka serta-merta suka anak-anak. Aku sebel juga kadang sama anak-anak kenapa begini begitu, tapi aku sadar kalau mereka memang masih anak-anak. Kadang heran yang bilang kalau Syaki itu keibuan banget orangnya. Aduh salah deh kayaknya, tapi di-Aamiin-in aja deh, hehe.

Image result for return of superman triplet
(source)

Kenapa ya, apa aku yang emang kelainan, atau kurang tereksposure sama media sosial. Habisnya aku melihat anak-anak jaman sekarang begitu mengidolakan Iboknya Kirana, atau bapak Song-Il di Return of Superman. Bagus memang sih, mereka bisa memberikan contoh parenting yang baik, jadi orang-orang ikut belajar. Mungkin orangtua lain jadi bersemangat, untuk jadi orangtua yang baik juga untuk anaknya nanti, jadi punya rencana juga apa yang baik-baik dilihat di media, akan diterapkan juga.

Namun di lain sisi, kayaknya aku cukup skeptis sama media. Habis, yang dipampang yang bagus-bagus doang. Kenapa sih engga ada acara atau media/akun parenting yang menampilkan anak yang diasuh oleh keluarga muda yang masih tinggal di kontrakan kecil gitu. Ga banyak mainan-mainan bagus untuk tumbuh kembang anak, ga ada apartemen luas untuk lari-larian anak dan yang punya banyak kaca dengan pemandangan langit dari atas. Kenapa engga ada akun yang menampilkan gimana usaha orangtua menengah ke bawah untuk mengasuh anak-anaknya. Gak perlu kok pake acara sedih-sedihan dan nangis-nangisan, emangnya orang kayak gitu harus selalu dikasihani? Atau mungkin akun orangtua dengan anak berkebutuhan khusus?

Entahlah, menurutku malah agak kejam, menampilkan video pengasuhan anak yang sebenarnya orangtuanya sudah memiliki banyak kemudahan, seperti anak sehat, apalagi pintar, dan juga cukup dari segi materi. Jadinya, anak-anak muda jaman sekarang, termasuk eyke kayaknya, jadi merasa harus bisa memiliki banyak hal agar anaknya bisa bahagia, bisa pintar. 

Ada, masa-masa aku overthinking, negative thinking.. "gimana kalau aku ga bisa jadi Ibu yang baik?", "Gimana kalau aku ga bisa memberikan apa yang terbaik untuk anak dan keluarga karena masalah finansial?" Bahkan aku itu orangnya paling sering menghilangkan aplikasi sosial media di gadget, biar itu, ga down dan ga takutan ga bisa seperti orang-orang bahagia di medsos. Lebih baik ga update kan daripada ga bahagia? hehe. Yasudahalah, kita bisa hanya ambil baik-baiknya saja kan? Soal nanti nasib kita akan bagaimana, itu urusan Allah SWT. Ambil dan lakukan yang positifnya aja, jangan ngiri, hehe.

Mau bagaimanapun nanti, semoga aku bisa jadi Ibok yang baik. Aamiin.

Sunday, February 19, 2017

Selingkuh

Eits, jangan salah dulu. Ini bukan aku yang cerita tentang selingkuh. Bukan juga tentang aku yang diselingkuhin. Baca dulu sampai akhir, karena plotnya akan berubah. Peace.

Image result for unhealthy relationship photography
(source)
Dari kecil, aku ga pernah begitu percaya sama yang namanya laki-laki. Makanya aku pacaran aja baru sekali itupun pas kuliah, pas aku udah agak "sadar sama kehidupan". Kedua kalinya sama orang yang bakal jadi calon suami aku nanti (aamiin). Sejak kecil, aku merasa seharusnya laki-laki itu tidak boleh dekat-dekat dengan perempuan. Meskipun di agamaku memang dianjurkan untuk seperti itu,  namun dalam lingkungan keluargaku tidak begitu mengekang aku untuk bergaul dengan laki-laki. Tapi aku sendiri juga sudah tidak ingin berdekatan dengan laki-laki. Aku merasa laki-laki itu sangat berbeda dengan perempuan, laki-laki itu menyebalkan, memiliki jalan pikir yang berbeda. Walaupun begitu, tetap saja terkadang aku bisa suka sama seorang laki-laki. Bahkan sama pacarku sekarang, aku masih merasa sebal dengan dia, ya karena dia laki-laki, tapi toh kenapa aku masih ingin menikahi dia? Padahal kalau dengar ceritaku selanjutnya, akan membuatku tidak habis pikir.

Aku tuh ngga habis pikir. Cerita tentang perselingkuhan begitu seringnya terjadi, bahkan bukan cuma cerita, tapi tindakan nyata, di lingkungan sekitarku bahkan lingkungan keluargaku. Dan hal ini membuat aku semakin tidak percaya dengan yang namanya: laki-laki. Bukan berarti aku merasa bahwa 'kaumku' adalah kaum yang paling baik diantara kaum laki-laki dan perempuan, tapi buktinya, banyak disekitarku wanita yang tersakiti karena suaminya selingkuh bahkan ketika sudah memiliki anak. Well, kalau yang selingkuh itu laki-laki, berarti ada juga pihak wanitanya kan? Berarti ada juga dong wanita yang selingkuh? Benar!

Tapi kok gini ya, kebanyakan laki-laki yang selingkuh itu yang sudah beristri, beranak, atau terkadang istrinya sudah tidak cantik lagi menurut suaminya. Dan bisa-bisanya, kebetulan sekali ya, perempuan yang menjadi selingkuhan itu perempuan muda (atau terlihat muda), sudah bercerai atau belum menikah, atau memang sudah punya anak tapi dia ada pembantu buat ngurusin. Jarang kan ibu-ibu dewasa madya yang selingkuh sama laki-laki seumurannya apalagi lebih muda? Mungkin ada aja sih, tapi jarang kan?? *ngotot

Maksud aku, how could you?? Apakah itu karena kita kaum wanita yang kalau semakin tua semakin buruk rupa dan tidak mempesona sedangkan kalian kaum laki-laki semakin tua semakin kaya dan bisa memperdaya wanita muda nan cantik jelita? (jago banget gue bikin irama cem dangdut). Maksud aku, apa salah istrimu? Kalau masih muda belum kawin, ya gapapa deh, meski jahat juga sih namanya. Tapi ini kan udah beristri, sah, di mata Tuhan, beranak, memiliki tanggung jawab. 

Apakah kalian memang ingin memperbanyak keturunan, atau membuat keturunan yang beda mukanya dengan yang sudah kalian miliki? Kalau kalian ngerasa istrinya ngga cantik lagi, udah dikasih uang belum ke istrinya untuk ke salon dan beli skin care?  Apa istrinya segitu cerewetnya hingga kalian ga tahan lagi diatur biar rumah tangga beres? Apakah istrinya tidak penurut untuk melakukan semua hal yang kalian mau sedangkan istrinya juga harus melakukan banyak hal agar rumah tangga beres dan anak terasuh dengan baik disaat kalian kerja? Jujur sedih banget setiap mendengar ada kerabat-kerabat wanita yang tersakiti karena diselingkuhi suaminya. Padahal mereka masih sayang dengan suaminya, tapi suami mana yang masih sayang dengan istrinya kalau dia sudah tega untuk selingkuh. 

Actually, penelitian sudah banyak menjelaskan. Coba buka di sini. Yah, kenyataannya men cheat more than women karena memiliki dorongan seksual lebih tinggi. Banyak juga yang mengatakan bahwa pasangannya kurang menarik lagi. Ada juga karena kebutuhan emosionalnya kurang terpenuhi. But is this life is only about sex? Have you think about the women side? Penelitian juga mengatakan bahwa jika wanita selingkuh itu lebih karena kurang kebutuhan emosionalnya, dan merasa kesepian. Tapi secara kuantitas, sudah terbukti kalau laki-laki yang lebih banyak selingkuh daripada perempuan. So, it's not only about you guys.. Lagipula laki-laki bisa lebih mudah selingkuh karena bisa lebih beraksi duluan terhadap wanita kan? 

Aku sedih membayangkan jika aku nantinya yang akan ditinggal oleh suami karena ia bertemu wanita yang lebih dariku. Aku ga habis pikir sih, aku kira pernikahan itu janji. Why don't people just be loyal? Toh di penelitian disebutkan selingkuh itu bukan karena bosan akan rutinitas, tapi karena memang mencari kesenangan baru aja. Tapi kenapa sih ngga cari kesenangan baru sama pasangannya aja? Oke! Aku memang belum mengerti karena aku belum menikah, makanya wajar dong kalau aku ngga habis pikir?

Aku berpikir apakah memang itu kodrat laki-laki? Bahkan menikahi lebih dari satu istri diperbolehkan di agamaku. Apakah aku harus meminta suamiku nanti jujur saja apakah dia ingin menikah lagi atau tidak? Daripada dia selingkuh, mending dinikahin aja iya kan? Tapi, apakah aku akan rela dimadu? Jujur aku masih tidak memahami mengapa Tuhan menciptakan jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Berarti agar aku adil, aku harusnya memperbolehkan suamiku untuk menikahi wanita lain toh? Kan boleh, asal suami aku adil kan? Mungkin itu mulia, tetapi...apa aku sanggup?

Apakah aku juga nanti akan tergoda untuk selingkuh, jika suamiku tak sesuai harapanku? 

Naudzubillah.. mari luruskan niat. Menikah itu untuk ibadah.

Zero Waste: Pengalaman 1 Minggu (part 2)

Selama seminggu ini pun aku banyak mencari-cari lebih dalam di internet, apa saja sampah yang bisa menjadi "waste". Ternyata bany...