Friday, January 30, 2015

Aku Ingin Hidup Sederhana

Salah satu temanku di F. Psikologi, semester lalu mempresentasikan materi pada kelas Psikologi Konseling. Ia mendapatkan tugas mengenai konseling pada Lansia. Kebetulan, ia mewawancara seorang kakek tua yang berprofesi sebagai tukang ojek di daerah Kampus. Teman saya tersebut berulang kali menyampaikan pesan penting yang kelompok teman saya dapatkan, yang katanya selalu diucapkan berulang kali oleh bapak tua tersebut.

"Hiduplah sederhana"

Sederhana. Sederhana itu tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Tidak terlalu kaya, tidak juga miskin, tidak terlalu berbahagia dan tidak terlalu bersedih. Hidup di tengah-tengah. Kenapa? Teman saya mengutip dari bapak tua tadi. Hiduplah sederhana, ibarat sebuah garis vertikal, hidup sederhana berarti berada di tengah-tengah garis tersebut. Jika kita berada di atas, ketika kita 'terjatuh', hidup akan jauh terpuruk. Jika kita berada di bawah, ketika mendapatkan keuntungan, akan lebih mudah untuk sombong atau takabur. Hidup sederhana membuat kita tidak terlalu sakit ketika sedang terjatuh, dan tidak tinggi hati ketika kita berada di puncak kejayaan.

(source)
Seringkali kita berusaha melakukan sesuatu, untuk mencapai puncak, mencapai kejayaan, kekayaan, dan yang katanya, kebahagiaan. Tapi tahukah, apakah kebahagiaan hanya bisa didapatkan di 'puncak'? Seringkali dengar kalimat "Bahagia itu sederhana?" Iya, sesederhana berkumpul dengan keluarga, teman-teman, orang yang dicintai, mengelus kucing, memakan coklat. Seperti kutipan di gambar yang saya tempel di atas, kesederhanaan memberikan pada kita ruang untuk berpikir lebih dalam tentang kehidupan. Buat apa kita terus mencari kekayaan tapi tidak mengerti makna dari segala proses yang kita lewati setiap harinya? Tanpa sadar, kita kehilangan makna hidup, kehilangan kebahagiaan karena terlalu sibuk mencari kekayaan, mencari yang katanya kebahagiaan itu sendiri.

Aku ingin hidup sederhana. 

Aku tidak mau punya terlalu banyak harta, yang membuatku menjadi sombong, menjadi selalu was-was akan kehilangan hartaku, selalu pusing membeli ini itu agar orang lain memandangku berduit, mencari respek orang lain. Bukan berati aku juga ingin jadi miskin, yang membuatku pusing memikirkan usaha apalagi yang harus aku lakukan untuk bisa makan, berhutang sana sini untuk hidup.  Buat apa uang banyak, jika hanya disimpan di dalam bank, padahal banyak orang lain membutuhkan, atau membeli produk bukan atas dasar kebutuhan, tapi mencaci kenapa biaya sekolah mahal. Bukan berarti aku mau punya uang yang hanya cukup untuk membeli makan.

Buat apa rumah besar, jika membuat orang di dalamnya harus teriak-teriak untuk hanya memanggil nama, boro-boro meneriakkan kata sayang, gengsi keleus. Bukan berarti aku ingin rumah kecil, yang membuat aku dan keluarga tak nyaman untuk berselonjor. Buat apa mobil banyak, jika mobil malah membuat anak cucu keturunan kita tidak bisa merasakan segarnya oksigen, hanya ada asap kotor. Bukan berarti aku ingin hidup tanpa transportasi, apa-apa berjalan kaki, meski 100 kilometer, jalan kaki sampai mati.

Aku ingin hidup sehat.

Menurutku, hidup sederhana itu juga salah satu pola hidup sehat. Baik sehat fisik maupun sehat mental. Secara fisik, hidup sederhana membuat kita tidak berlebihan dan tidak kekurangan pula dalam makan. Hidup sederhana tidak membuat kita banyak menyediakan makanan di rumah. Membuat kita membeli segala macam makanan, bahkan sampai belum habis dan malah basi dan mubazir. Sederhana tidak membuat kita terus menyuapi nafsu kita, membuat kita sakit jantung karena obesitas. Tapi bukan juga hidup sederhana hanya dengan memakan nasi, sehingga malah kekurangan gizi. Contoh hidup sehat lainnya yakni hidup sederhana dengan kendaraan. Misalnya, pergi ke warung depan jalan rumah dengan berjalan kaki, itu lebih sehat daripada naik motor kan? Tidak perlu gengsi "pejabat kok jalan kaki?" Syukuri kaki dan tanahmu. Gunakan tanah untuk berpijak, sebelum kamu kembali ke tanah.

Tentang kesederhanaan ini, mungkin ada yang bingung dan bertanya, "Tapi bagaimana jika kita sakit? Nanti kalau sederhana, malah gak bisa bayar untuk rumah sakit." Mungkin kita perlu tahu bahwa Allah itu memberikan cobaan pada hambanya sesuai dengan kemampuan. Lagipula tadi kan dibilang, siapa bilang hidup sederhana itu artinya punya duit? Kalaupun kurang juga masih ada BPJS dan bantuan lain sebagainya, bantuan pasti ada, Allah itu ada.

Terus ada juga yang bilang, "Tapi saya sudah hidup sederhana masih saja dapat cobaan dari Allah. Lama-lama saya miskin juga." Allah itu memberikan cobaan agar hambanya bersimpuh, meminta ampun pada Allah, merefleksikan diri. Mungkin teman-teman lupa sama Allah, belum ikhlas, belum sabar. Pilihan hidup ini cuma dua, bersukur atau bersabar. Jika belum rejeki, bersabar, jika sudah ada, bersyukur. Jika masih diberikan cobaan, mungkin saat sehat kemarin kamu kurang bersyukur, maka bersabarlah, mungkin masih ada kecacatan dalam ibadah, amal dan akhlak (dikutip dari sebuah seminar yang lupa kapan, di mana dan oleh siapa ._.)

Aku pernah dengar kata orang, "Hiduplah dan dapatkan rejeki lebih, agar kita masih bisa memberi dan memberi manfaat pada orang lain." Ya, mungkin nasehat orang itu benar. Bukan berarti hidup sederhana itu punya rejeki yang kurang. Sebut saja rejeki itu uang ya. Kita juga perlu punya uang cukup, untuk menghidupi keluarga dan juga membantu orang lain. Tapi bukan berarti kita terus orientasinya punya uang banyak. Punya uang banyak itu bahaya lho, nanti aku jelasin. Intinya, gak perlu uang banyak untuk bisa memberikan manfaat. Seorang tukang semir sepatu di Amerika aja bisa menyumbang sebuah Yayasan Yatim Piatu senilai 2 miliyar lho! Siapa bilang harus kaya untuk bisa memberi kebaikan, memberi manfaat?
 
Sayangnya, saat ini di dunia ini, uang adalah segalanya. Mendengar kata "rejeki" aja pikirannya uang, bukan? Padahal uang itu buatan manusia, rekayasa manusia, ya kan? Dulu orang bikin benda yang 'sengaja' diberi nilai biar bisa tukar-tukaran barang. Sekarang benda yang 'dinilai' itu jadi rebutan semua orang. Kenapa orang gak berebutan untuk mendapatkan apa buatan Allah, surga gitu misalnya? Mungkin kalau uang bukan segalanya saat ini, kalau semua orang mau hidup sederhana, hidup akan jadi lebih enak. Gak ada orang bunuh-bunuhan karena uang, gak ada orang yang korupsi, gak ada pencurian, masuk penjara, bunuh diri karena hutang, dan lain-lain. Benar kan, uang itu bahaya?

Nah ini, yang maksudku bahwa hidup sederhana itu pola hidup sehat untuk mental. Mungkin aku belum jadi orang dewasa yang harus cari uang menghidupi keluarga dan diri sendiri. Mungkin pada bilang aku sok tau, tau gimana. Tapi ini harapanku. Aku tidak ingin hidup karena uang, atau dihidupi hanya dengan uang. Aku tidak ingin stres, sedih, marah karena uang. Bahkan aku tidak ingin bahagia karena uang. Aku ingin bahagia karena hidup sederhana. Aku ingin bahagia ditemani oleh orang-orang tercintaku, melakukan apa yang senang kulakukan. Menjadi manusia yang seutuhnya, mengaktualisasikan diri, beriman, betakwa. Aku yakin, jika kita hidup sederhana, tentunya ditambah dengan dua pilihan tadi, 'bersabar dan bersyukur', uang hanya menjadi benda yang 'diberi nilai' yang mengalir saja untuk membuatku hidup di dunia, bukan harta karun yang harus selalu dicari lalu disimpan hingga bertumpuk-tumpuk. Karena hidup kita sebenarnya itu di akhirat, buat apa pusing-pusing mikirin benda dunia.

Aku ingin bahagia.

Sekian dulu, ocehan saya. Semoga bisa menjadi sebuah renungan. Semoga berbahagia ;)

Tuesday, January 6, 2015

Kuliah Psikologi: Tentang Kode

Gak terasa sudah empat tahun saya menjalani kuliah di Fakultas Psikologi. Banyak yang menanyakan saya, "kenapa masuk psikologi?" Dulu waktu jaman maba, lebih sering lagi mendengar pertanyaan "dari jurusan IPA kok pindah ke IPS?", apalagi dari keluarga. Jawabannya: suka-suka saya dong mehehe. Kepikiran aja, saya gak pernah membuat post tentang menga[a saya memilih jurusan kuliah saya, padahal dulu jaman maba sudah booming banget.

Saya itu dari kecil suka sekali bermain game. Pertama kali kenal game itu sejak papa membeli laptop pertamanya, dengan windows di dalamnya. Jaman-jaman laptop super tebal dan super panas. Game komputer favorit saya dulu adalah Chip's Challenge. Kegemaran saya ini berlanjut hingga ke tahap PS1, PS 2 serta game PC. Saya menghabiskan banyak waktu saya untuk bermain game, sehingga yaa prestasi saya memang bisa dibilang tidak terlalu baik saat di sekolah. Namun, saya selalu amazed, mengapa orang bisa membuat such game seperti itu yang membuat orang bisa menghabiskan waktunya untuk bermain game dan membuat senang. Saya pun bercita-cita untuk menjadi pembuat game, dengan berencana kuliah di fakultas ilmu komputer.

(source)
Dulu saya telat banget, masuk SMA saya belum tahu apa-apa tentang dunia perkuliahan. Saat masa-masa kelas 3 SMA, tentu banyak informasi yang saya dapatkan tentang perguruan tinggi dan jurusan di dalamnya. Setelah saya lihat dan pelajari, ternyata jurusan komputer itu memang tempatnya anak-anak super pinter yang prestasi di sekolahnya baik. Saya mencoba memasuki fakultas tersebut melalui jalur SNMPTN undangan, dan tentunya saya tidak lolos, karena nilai saya memang pas-pasan. Saya pun merasa putus harapan.

Saya baru menemukan yang namanya profesi psikolog saat kelas tiga SMA. Dari dulu, saya kira ini bukan sebuah profesi formal, tapi hanya seperti apa ya, 'staf pengurus orang sakit jiwa'. Tapi entah kenapa saya menjadi tertarik mempelajari ini, karena ilmu ini gak mainstream. Maksudnya, kalo dokter atau perawat, pasti akan belajar biologi lagi, di teknik atau MIPA, akan belajar fisika matematika lagi. Nah psikologi, belajar apa? Sosiologi kayaknya ga seberapa ada di Psikologi. Dengan keingintahuan tentang manusia, saya pun ingin mempelajari hal itu lebih dalam.

Saya pun Alhamdulilllah masuk ke dalam jurusan ini. Memang jodoh sepertinya. Setelah dijalani, ternyata saya jatuh cinta dengan ilmu ini. Entah kenapa saya merasa bangga, bisa lebih tau tentang manusia, bisa dianggap bisa 'baca orang', dibilang 'tempat curhat yang baik'. Meskipun kadang suka diejek karena kerjaannya bikin makalah terus. Saya merasa ilmu ini sangat aplikastif. Istilahnya, selama masih ada manusia, ilmu psikologi akan masih ada.

Keinginan saya jadi bertolak belakang ya, tadinya ingin mempelajari komputer, sekarang jadi ingin mempelajari manusia. Padahal sebenernya masih pingin bisa mempelajari keduanya, hehe. Tadinya pengen masuk ke jurusan yang mempelajari komputer. Belajar mengenai kode-kode matriks dan segala macam. Tapi, di psikologi juga bisa ternyata mempelajari kode-kode, yaa, kode kode itu adalah perilaku manusia. Di sini lah keahlian orang-orang psikologi yang katanya bisa "baca orang" padahal sih kita itu behavioral scientist, yaitu mempelajari perilaku.

Iya, perilaku manusia itu bisa dilihat dari kode. Perilaku apa yang dimunculkannya, ekspresi, body language, postur, dan sebagainya. Tapi sebenarnya kerjaan anak psikologi itu gak sesimpel 'baca orang'. Tentu ada banyak peminatan di Psikologi seperti psikologi perkembangan, psi klinis, psi industri dan organisasi, psi sosial, dan psi pendidikan. Semua bidang peminatan itu tentunya berbeda-beda cara memandanga orangnya. Beda-beda kode yang harus ditangkapnya. Misalnya dalam psikologi perkembangan, tingkah laku manusia dilihat dari tahap-tahap perkembangan manusia. Psikologi sosial, perilaku dilihat dari fenomena sosial atau dinamika di sebuah kelompok. Dan segala macamnya. Intinya, gak beda sama ilmu komputer, anak psikologi juga belajar kode yang berbeda-beda. Hemm jadi tulisan saya ini semacam penerimaan diri atas kegagalan saya masuk jurusan ilmu komputer, hehe. 

Jujur deh, kayaknya alasan 'kenapa masuk psikologi' baru saya dapatkan ketika sudah lama berkecimpung dalam hal ini. Dulu, kalo ditanya, saya cuma jawab, pengen tau tentang ilmu manusia. Atau kayak kebanyak teman-teman "sering jadi tempat curhat". Tapi ternyata, alasan saya, jauh lebih dari itu. Apalagi ketika kamu sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, contohnya saya sendiri ikut Kuliah Kerja Nyata, mengajar anak-anak kurang mampu, dan sebagainya. Saya ingin bisa berbuat lebih kepada masyarakat, kepada dunia, dengan ilmu saya. Saya ingin membuat dunia ini menjadi lebih baik. Karena saya yakin bisa. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubah dirinya sendiri kan? Nah siapa yang bisa membantu mengubah perilaku individu-individu itu? Iya, orang dengan ilmu psikologi.

Sekian dulu dari saya, semoga yang mau masuk Psikologi lebih dikuatkan lagi. Buat yang bingung, semoga diluruskan niatnya, dan gak malah berobat jalan di Fakultas Psikologi hehe.

Sunday, December 14, 2014

Snowball and Letter of Love

Kalian tau snowball? Yap, bola salju! Selamat kalian lulus bahasa inggris! :P Kalo kalian sering nonton kartun kayak Tom and Jerry, Mickey Mouse atau Donal Duck, pasti pernah tuh melihat adegan dimana jika karakternya jatuh dari puncak gunung salju dan menggelinding ke bawah, karakter tersebut akan menjadi bola salju yang semakin lama semakin besar.

Nah, yang saya suka adalah konsep snowball yang semakin lama semakin membesar ini di aplikasikan nih menjadi sebuah permainan kecil untuk memberikan feedback, komentar, atau ucapan semangat. Pertama kali saya mengetahui snowball ini adalah ketika akhir dari rangkaian PDKM Psikologi UI 2011. Sebelum kembali ke Depok lagi, kami satu kelompok mentoring diminta untuk menuliskan pesan.

Caranya, masing-masing orang memegang kertas, dan kertas diberi nama sendiri. Kemudian dalam lingkaran, putar kertas kepada orang di sebeleh searah jarum jam, dan kertas yang kita pegang sekarang menjadi kertas milik orang lain. Disitulah kita harus menulis pesan pada orang yang punya kertas tersebut dalam waktu yang singkat, sekitar 30 detik sampai 1 menit. Nah, putar terus dengan waktu pertukaran yang serempak, hingga kertas punya kita kembali ke kita. Don't be amazed, di kertas kita nanti ada banyak pesan yang unik, tak terduga, menyentuh, sampai apapun itu rasanya :")

Nah, sampai sekarang, saya ketagihan nih sama snowball ini! Karena, isinya bisa bener-bener bikin semangat walaupun hanya tulisan "semangat yaa!" tapi memang ada kekuatan tersendiri untuk menaikkan mood saya dan memberi semangat. Sampai saat ini sudah banyak snowball yang saya lakukan, baik dari teman2 satu organisasi maupun satu bidang kepanitiaan.

Kalo lagi badmood, kesel, males, sedih, biasanya saya suka nih iseng buka lagi koleksi snowball saya. Dan hasilnya, bener-bener bikin saya senyum kembali, dan langsung seneng, kadang juga terharu karena merasa ada orang yang perhatian sama kita. Kadang suka lucu juga ternyata dulu kita orangnya beda, dan impresi orang kepada kita beda banget.


Koleksi Snowball dan Love Letter Saya

Ada lagi nih konsep lain dari snowball, yaitu love letter. Intinya sih sama, memberi pesan kepada orang yang kita ingin berikan. Tapi kalo love letter ini dibuat untuk cakupan yang lebih besar, misalnya satu angkatan atau satu kepanitiaan besar. Caranya, sediakan banyak amlop masing-masing berisi nama tiap orang orang anggota, amplop ini kemudian ditempel di tembok. Lalu, siapapun bisa mengisi amplop tersebut dengan surat semangat, bahkan hadiah kayak permen.

Nah kelebihannya adalah, kita bisa menulis selama yang kita mau dan sepanjang apapun. Tapi kekurangannya adalah, bahwa gak semua orang bisa dapet love letter, biasanya sih emang tergantung seberapa kenal dan dekat orang yang menulis love letter dengan yang akan diberinya. Kalau emang satu orang bener-bener sayang semua orang sih, mungkin mau-mau aja nulis surat ke semua orang. Kemudian untuk penulisan love letter juga perlu ada jangka waktu yang lebih lama, misalnya seharian amplop love letter dipajang, atau biasanya lebih dari satu hari untuk acara yang nginep-nginep, atau bahkan satu paruh kepengurusan (dipajang di ruang student center atau ruang kesekretariatan organisasi).

Banyak hal sih selain snowball atau love letter yang bisa digunakan untuk memberi pesan. Misalnya pesan dari rapot kepengurusan organisasi, atau dari PSDM organisasi. Ada juga pesan yang dibuat karena ada promosi barang dagangan, misalnya kamu titip pesan dengan membeli cokelat untuk orang yang akan kamu beri pesan. Jadi nanti cokelatnya tiba-tiba datang ke orang itu dengan pesan anonim yang bikin ge er. Semacam itulah, beragam cara kita bisa kasih pesan ke orang lain.

Well, itu saja dari saya yang emang secara berkala suka membuka-buka kembali koleksi love letter dan snowball saya untuk penyemangat. Semoga buat kalian yang belum, bisa mengaplikasikan permainan ini kepada orang-orang tersayangnya. Yang sudah pernah, jangan dibuang, dikoleksi aja :)

Sunday, November 23, 2014

Most Romantic Movie Scenes (My Version)

After i had the saddest movie scenes post. Now i want to share my most romantic movie scenes i've ever watch. No, this do not include Titanic scenes. I'm more like a disney girl than a Titanic one.

1. Pride and Prejudice - "You have bewitched me, my body and soul"
I don't know what to say. Mr. Darcy is such a handsome, shy and aaargh. He had a hard time to tell his love to Elizabeth, but when he came to that, he's so stunning and charming, and whatever he is. Just listen to him. "You have bewitched me, my body and soul." Oh british!

2. Disney Tangled - Flying lantern scenes

I love flying lanterns on the dark sky. This scene is romantic because Flynn is actually make Rapunzell dreams come true, and he even bought (or stole?) a candle for her. The song is also the best of Tangled.

3. 50 First Dates - Ending Scene

50 First Dates is like my favoite romatic comedy movie. It contains such psychological disorder caused by brain damaged, anterograde amnesia. The romantic part is this ending scenes. I mean, how romantic a guy is when you have amnesia and he makes video for you every single day before you even got up in the morning.  

It's all i have for now. I'll post another later :)

Saturday, November 22, 2014

Thank You Facebook

"Yaelah, paling dia inget ultah lo gara-gara liat Facebook."

Itu kata-kata dari salah satu teman saya. Tapi menurut saya, gak apa-apa tuh orang ngucapin ulang tahun gara-gara lihat di facebook. Ya masa satu orang bisa inget sih ulang tahun sebanyak itu temannya. Harusnya malah berterima kasih karena banyak orang yang tahu kalau sedang berulang tahun. Malah baik kan kalau banyak yang mengucapkan dan mendoakan?

Mau terima kasih dulu sama Mark Zuckerberg, pencipta Facebook yang bisa bikin orang diingatkan akan ulang tahun teman, keluarga dan sahabatnya. Lebih mending mana, ingat karena Facebook atau tidak ingat sama sekali? Yang parah itu kalau sudah diingatkan Facebook tapi tetap gak mengucapkan dan gak mendoakan.

Mungkin memang esensi mengingat hari ulang tahun ini jadi sedikit tereduksi karena kecanggihan teknologi. Jaman dulu bahkan gw dan teman-teman sebaya suka mengumpulkan tanggal ulang tahun teman-teman gw di binder atau orji (masih jamannya orji), terus diurutkan selama satu tahun. Tapi, sekarang lebih dimudahkan dengan adanya Facebook atau jejaring sosial lainnya yang memiliki fitur reminder ulang tahun. Harusnya bersyukur dong? Siapa coba yang jaman sekarang masih ngiterin binder buat nyatet tanggal ulang tahun teman sekelas?

#MaapRandom

Tuesday, November 11, 2014

Halo..?


Sebuah telepon genggam berwarna merah tergeletak di bawah bangku peron stasiun. Layarnya menampilkan sebuah wajah seorang perempuan. Telepon genggam itu tak terlihat oleh kerumunan orang di sekitarnya yang panik dengan kejadian yang barusan terjadi. Kerumunan itu semakin banyak membuat telepon genggam tadi semakin terabaikan dan masih mengeluarkan suara “Halo..? Halo..?”
***
Keringat Adira bercucuran seraya ia berjalan menapaki trotoar di bawah matahari yang terik. Hari itu hari yang panas di bulan Oktober. Seharusnya sekarang bermusim hujan, namun udara saat itu entah kenapa masih panas dan lembab. Sudah 3 hari berturut-turut awan tidak mengeluarkan air matanya. Mungkin ini efek global warming. Pikir Adira. Namun cuaca seperti itu tidak menurunkan semangat dan detakan jantungnya yang berdebar-debar untuk segera ke laboratorium komputer di kampusnya.
Adira adalah gadis rantau dari kampungnya di Jogja. Menjadi murid teladan dari SMA-nya, pantas ia diterima menjadi mahasiswi di kampus ternama di Jakarta. Adira menyewa sebuah kamar kost murah dengan kamar mandi bersama, di sekitar kampusnya. Sehari-hari ia berjalan kaki ke kampus, untuk menghemat uangnya yang tidak terlalu banyak. Maklum, anak rantau.
Sesampainya di laboratorium komputer kampusnya, Adira langsung menghampiri komputer paling ujung dan membuka sebuah situs. Hatinya semakin berdebar dan tangannya dingin seraya membuka berita yang akan sangat mengubah hidupnya. Matanya melihat layar komputer dari atas kebawah. Jarinya terus memutar roda pada mouse di tangan kanannya.
Tiba-tiba, sorot mata Adira terpaku diam, jantungnya terasa terhenti, nafasnya terhembus kencang dan matanya mulai basah. Ia tidak lolos pada beasiswa yang ia ajukan. Padahal Adira sangat butuh biaya tambahan, karena Adira berkuliah dengan memakai uang sendiri. Keluarganya mana mampu membiayainya.
Raut wajah Adira sangat lesu, ia kesal sekali. Padahal proses wawancara tujuh hari yang lalu sangat meyakinkan, pewawancaranya terlihat sangat antusias terhadap Adira. Dasar interviewer PHP (pemberi harapan palsu)! Adira membatin. Ia pun pulang berjalan kaki kembali menuju rumah kostnya, melewati trotoar yang terhubung dari kampusya.
Pikirannya kacau, beasiswa mana lagi yang harus ia ajukan. Dana bantuan yang sudah Adira terima hanya cukup membiayai kuliahnya yang itu pun sudah diberi keringanan, namun itu belum cukup untuk membiayai hidupnya. Ah! Kenapa sih aku harus membiayai kuliahku sendiri? Enak sekali orang-orang yang orangtuanya masih bisa membiayainya dan bisa seenaknya menggunakan uangnya untuk membeli makanan dan barang-barang yang diinginkannya. Pikiran Adira kian meracau. Ia tak lagi memperhatikan jalan, hingga akhirnya sesuatu terjadi.
Ciiiiiiitttt......braaakkkkk!!!
Kecelakan. Sebuah kecelakaan sungguhan terjadi di tengah jalan yang Adira lewati. Ia persis berada di trotoar di samping dua motor yang bergeletakan di jalan. Ia melihat seorang perempuan tergeletak di samping motornya, diikuti dengan seorang pria tua yang mulai mencoba berdiri kembali pada motornya. Perempuan yang mungkin merupakan mahasiswi juga seperti Adira, tidak sadarkan diri.
Adira sangat terkejut, jantungnya hampir copot. Belum pernah ia melihat kecelakaan sedekat ini. Saat itu hanya ada dia di trotoar yang melihat kejadian itu. Adira panik, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Bagaimana ini? Ia bukan dokter yang bisa tahu kondisi si korban perempuan, dan...bagaimana jika ternyata gadis itu... mati?
Tak lama kemudian, beberapa pengendara motor dan mobil yang melihat kecelakaan itu, berhenti untuk menolong kedua korban. Untunglah. Ketegangan Adira berkurang setelah kedua korban telah dibantu orang lain. Adira masih kaku dalam posisinya di trotoar, berusaha untuk tidak terlihat. Ia ingin meneruskan perjalanannya ke rumah kost, namun tiba-tiba ia melihat sesuatu berwarna merah tergeletak di dekat kakinya.
Sebuah telepon genggam. Hp siapa ini? Pikir Adira. Hp itu merupakan Hp kelas atas yang mungkin harganya sekitar lima juta rupiah. Adira menerka siapa pemilik Hp tersebut. Ia melihat sebuah tas jinjing yang terbuka dan berserakan isinya, satu meter dari sang gadis yang menjadi korban. Gadis itu sedang digotong menuju mobil salah satu orang yang mau menolongnya. Mungkin punya gadis itu. Untuk memastikan, Adira melihat korban yang lainnya yaitu si bapak tua, dan melihat ke saku celananya. Ada sedikit bentuk menyembul bentuk telepon genggam dari celana bapak itu. Berarti Hp ini memang milik si gadis korban.
Adira ragu untuk merenggut Hp tersebut, ia takut terlibat apa-apa dalam kecelakaan itu. Dengan tangan yang dingin, akhirnya ia mengambil Hp tersebut dan melihat layar depannya. Benar, gambar seorang perempuan yang mirip gadis korban tadi. Segera, ia melangkah ke arah jalan untuk mengembalikan Hp tersebut.
Baru satu langkah ia menuju kerumunan orang, ia terdiam. Sebuah pikiran baru melayang di benaknya. Hp ini bisa dijual untuk membeli keperluan sehari-hariku. Ha! Mungkin ini balasan karena ia tidak diterima beasiswa. Hp ini masih bagus, dan bisa laku sekitar..mungkin tiga juta!.  
Adira menahan agar ia tidak memunculkan ekspresi apapun itu yang muncul di wajahnya, karena ia tidak tahu apa yang ia rasakan, apakah itu takut, cemas, atau senang. Ia masih berpura-pura menjadi gadis pejalan kaki baik yang tidak sengaja lewat dan tidak berurusan apa-apa dengan kecelakaan itu.
Kerumunan orang semakin berkurang, korban sudah digotong ke mobil dan pergi, mungkin langsung ke rumah sakit. Bapak tua yang tadi menabrak sang gadis korban terlihat baik-baik saja meskipun menahan sakit pada kakinya. Bapak itu cukup panik dan akhirnya mengikuti mobil pembawa badan sang gadis korban ke rumah sakit menggunakan motornya. Jalanan pun kembali sepi.
Adira merasa seperti menonton film, begitu terpaku dan baru sadar bahwa yang ditontonnya sudah berakhir. Apa yang aku lakukan? pikir Adira. Tak ada yang memperhatikan keberadaan Adira. Tangannya masih memegang Hp yang ia pungut tadi, dan sekarang tiba-tiba tangannya gemetar. Badannya lemas, dan tubuhnya mulai muncul keringat dingin. Oh, sial. Apa yang kau lakukan Adira? Sekarang Hp korban kecelakaan ada di tanganmu dan kamu berencana untuk menjualnya? Adira tidak habis pikir. Jantungnya berdegup kencang dan ia merasa seperti akan pingsan.
Adira memusatkan perhatiannya kembali, mengatur nafasnya. Ia teringat kembali mengapa ia tidak jadi mengembalikan Hp tersebut. Akan ia jual Hp itu dan mencukupi kebutuhannya untuk, yah.. mungkin sekitar 3 bulan. Adira sedikit merasa lega dan mulai merencanakan sesuatu. Hari ini ia akan menghapus semua memori dari Hp itu dan besok ia akan menjualnya. Ia pun bergegas kembali ke kamar kostnya, menggendong Hp itu di dalam ranselnya.
Sesampainya di kamar kost, Adira langsung berbaring di kasur dan mulai memejamkan matanya, ia sangat lelah. Ia telah lupa akan kejadian yang baru saja disaksikan dan ia lupa tentang Hp di tasnya. Mata Adira mulai terpejam. Dalam benaknya, ia membayangkan telah mendapatkan beasiswa penuh dari perusahaan yang dia inginkan. Ia punya uang tabungan berlebih dan bisa membeli telepon genggam merek terkenal yang sedang tren. Adira sedang menggenggam Hp barunya itu, lalu Hp tersebut membunyikan nada deringnya...
Adira membuka mata dan mengecek tangannya. Barusan adalah mimpi. Adira bernafas lega dan mencoba untuk tidur kembali. Namun Adira terkejut ketika nada dering di mimpinya berbunyi kembali. Itu nyata. Adira tidak familiar dengan bunyi itu. Ia memang punya Hp, sudah jelek memang, tapi masih bisa berbunyi dan bunyinya..tidak seperti itu. Adira teringat kembali kejadian sebelum ia kembali ke kamar kost. Hp itu! Saking letihnya, tak terpikirkan olehnya untuk mencabut kartu telepon Hp itu. Adira merogoh-rogoh tas mencari Hp itu dan kini sudah ada digenggamannya.
Sebuah foto gadis sebaya Adira disertai nama “Putri” muncul pada layar telepon. Adira panik bukan main karena nada dering itu berisik sekali, ia tau harus segera mengambil tindakan. Segera, ia menekan tombol merah pada Hp tersebut. Nada dering berhenti, Adira menghembuskan nafas lega.
Beberapa detik kemudian, dering telepon tadi berbunyi kembali. Sial. Adira seharusnya mematikan Hp itu, tapi jika dimatikan, kemungkinan akan ada kata sandi yang dipakai untuk menyalakan Hp tersebut. Jika demikian, ia tidak akan bisa menghapus memori Hp itu dan tidak bisa menjualnya tanpa ketahuan. Adira bingung dan panik.
Tiba-tiba ia terbenak sesuatu. Bagaimana jika ia berpura-pura menjadi gadis korban dan menjawab telepon. Ia hanya harus bilang kalau ia sedang sibuk dan tidak bisa dihubungi beberapa waktu. Setelah itu ia akan menghapus memori dan segera menjual Hp itu. Beres! Dengan percaya diri ia mengangkat panggilan tersebut. Suara tangisan perempuan muncul di telinga Adira.
“Ha...Halo..?” kata suara itu memanggil dengan tersedu.
“Ya..halo..” Mendengar suara dibalik telepon, raut wajah Adira berubah. Adira membalas salam dengan penuh tanda tanya.
“Win, aku mau bunuh diri” Terdengar suara isakan yang mengeras di telefon.
“Hah? Kenapa.. umm.. Putri..?” Adira kaget mendengarnya, ia berbicara seakan kenal dengan penelponnya. Rencananya tadi buyar semua. Adira panik, nyawa seseorang akan hilang jika ia salah bicara.
“Winda, aku nggak tahan lagi. Dendi makin kasar, hari ini dia meminta untuk berhubungan lagi. Tapi aku nggak mau. Tapi Dendi malah mukul-mukul aku dan terus memaksa aku, dan aku nggak bisa ngapa-ngapain. Begitu terus setiap hari! Aku nggak kuat, Win. Badanku sakit semua.”
Adira bingung harus mengatakan apa. Ia tidak kenal dengan Putri, si penelepon. Ia cemas, tangannya mulai dingin, berpikir akan melakukan apa. Beberapa detik berlalu, saluran telepon itu tetap hening.
“Halo..? Halo..?? Winda..?” Terdengar suara penelepon makin terisak.
Pada akhirnya Adira memberanikan diri untuk langsung menutup panggilan itu. Tut. Adira bernafas sebentar. Ia menunggu beberapa lama, dan ia lega karena si penelepon tidak menelepon lagi. Mungkin ia berpikir jika yang ditelponnya sedang sibuk. Adira lega. Ia berfikir untuk segera menjual Hp itu hari ini saja. Semakin cepat semakin baik.
Adira berjalan keluar dari kamar kostnya, segera menuju pasar terdekat yang bisa membeli Hp bekas dengan harga yang cukup mahal. Itu tandanya ia harus berjalan kaki dulu ke stasiun kereta api, lalu pergi dengan kereta menuju ke Jakarta. Tidak apa-apa, semakin cepat semakin baik. Pikir Adira yang cukup panik dan sangat berharap telepon tadi tidak berdering lagi. Telepon genggam itu dijejalkan kembali ke tasnya. Adira mulai melangkah ke stasiun kereta terdekat.
Di tengah perjalanannya, telepon genggam itu berdering lagi, membuat Adira kaget dan mempercepat langkah. Adira merasa dering ini terlalu berisik, ia tadi sampai lupa untuk mengecilkan volume Hp tersebut. Sayangnya, ia melewati segerombolan orang-orang yang juga sedang memakai trotoar. Dengan enggan, ia mengorek isi tasnya dan menggenggam Hp itu kembali. Peneleponnnya masih sama. Setelah menghembuskan nafas, Adira mengangkat telepon tersebut.
“Halo..?” kata suara diujung sana.
“Halo..” Adira menjawab dengan enggan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Winda, kenapa tadi diputus?” Suara di telepon terdengar sudah membaik dari pertama kali menelepon. Terdengar lega.
“Maaf, Put. Aku lagi sibuk.” Hanya itu yng bisa dikatakan Adira.
“Oh, maaf. Tapi untungnya saat kamu tutup telepon, Dendi datang dan untungnya aku sempat keluar rumah. Sekarang aku bersembunyi di belakang rumah. Aku harus apa, Winda?” Kata Putri dengan nada bicara cemas. Adira sedikit lega karena si penelepon tidak jadi bunuh diri.
“Um.. kamu harus pergi dari sana, Put. Ya! Pergi.. secepatnya!” Saran yang sangat gampang yang bisa ditemukan di pikiran Adira hanya itu. Ia merasa pintar dan menjadi sangat meyakinkan ketika mengatakannya.
“Aku juga sudah memikirkan itu. Aku nggak kuat lagi!” Jawab orang di telepon. “Aku akan pergi sekarang. Umm..aku akan ke rumahmu ya, Winda.” Detakan jantung Adira sempat terhenti mendengar hal itu. Tapi ia tesadar bahwa si penelepon bukan sedang berbicara padanya, tapi pada Winda. Telepon terputus, Adira lega dan mempercepat langkahnya menuju stasiun.
Stasiun ramai seperti biasa, antrian tiket cukup panjang. Selama mengantri, tak sadar Adira menggoyang-goyangkan kaki karena cemas dan sangat terburu-buru. Ia takut nanti Hp itu berdering lagi di tempat umum seperti ini. Cukup lama waktu berselang, tiket kereta sudah berada di tangan Adira dan ia menunggu di bangku tunggu penumpang yang cukup jauh dari pintu masuk stasiun. Ia mencoba melemaskan dirinya dan bernafas lega.
Beberapa menit berlalu namun kereta tak kunjung tiba, hingga tiba-tiba Hp itu berdering lagi. Aduh.
“Halo..?” Nada suara dari penelepon berubah. Seakan si penelepon tidak pernah menangis sebelumnya.
“Ya.. halo..” Jawab Adira.
“Ini siapa?” Kata orang yang disebut Putri itu, bertanya di telinga Adira. Adira bingung mengapa si penelepon menanyakan itu. Apa jangan-jangan.. aku ketahuan? Dengan spontan, Adira menjawab sesuai dengan apa yang telah ia pelajari. “Ini..Winda..”
“Bohong! Aku tahu kamu bukan Winda!” Tadi aku ke rumah Winda dan katanya Winda sedang di rumah sakit karena kecelakaan. Sekarang aku sedang di stasiun utnuk pergi ke rumah sakit tempat Winda di rawat. Mengakulah kamu!”
Adira buru-buru mematikan panggilan itu. Ia tidak sempat mencerna perkataan si penelepon. Ia menjadi begitu panik. Beberapa detik kemudian, telepon itu berbunyi lagi. Kali ini ia sangat panik karena ia sudah ketahuan. Ia tidak ingin menjawab telepon tersebut, tapi ia ditatap beberapa orang yang sedang menunggu kereta yang sama seperti dia. Adira pun menjwab panggilan telepon itu lagi.
“Halo..? Heh pencuri, jangan kira kamu bisa lari. Aku bisa melacak keberadaan kamu sekarang.” Kata si penelepon, makin terdengar agresif.
“Ini aku kok, Put. Winda.” Adira panik hingga tak terpikir lagi untuk mengatakan apa.
Tiba-tiba suara pengumuman kereta berbunyi.
“Kereta tujuan Jakarta akan segera tiba di jalur dua.” Suara wanita pemberi pengumuman terdengar kencang di tempat tunggu penumpang.
Adira lega, itu keretanya. Dengan spontan ia berjalan mendekati jalur kereta. Tanpa sadar ia masih memegang telepon genggam itu di telinganya. Suara penelepon pun terdengar kembali.
“Aku dengar pengumuman yang sama, pencuri. Berarti kita berada di stasiun yang sama. Sekarang, di mana kamu!”
Adira panik bukan main. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang yang juga sedang memegang telepon genggam. Sekarang Adira  melihat ke seberang rel, ada perempuan yang sedang memegang Hp dan menatap kepadanya. Kereta Adira mulai terlihat kepalanya di ujung stasiun.
Perempuan itu berdiri lebih jauh dari padanya dan lebih jauh daripada pintu masuk stasiun. Itu dia. Adira melepas niatnya untuk menaiki kereta, dan segera mengambil kesempatan untuk keluar dari stasiun. Adira berjalan cepat menuju pintu stasiun yang cukup jauh dari tempatnya duduk tadi. Beberapa kali ia melihat ke arah perempuan tadi, yang kemungkinan adalah Putri si penelepon. Suara kereta mulai berderu kencang memasuki stasiun.
 Ketika Adira berjalan, perempuan itu masih menatapnya dan mulai berjalan ke arahnya. Walaupun berada di peron di seberangnya, Adira semakin berkeringat dingin melihat perempuan itu melangkah kepadanya. Ia mempercepat langkahnya tanpa memperhatikan orang-orang di depannya.
Adira sekarang mulai berlari, sambil terus menengok ke belakang, melihat perempuan itu masih berjalan ke arahnya. Terjadi begitu spontan, Adira menabrak seseorang di depannya. Badannya oleng ke arah jalur kereta, seiring dengan kereta yang sedang berderu memasuki stasiun. Kepala dan badan Adira bergesekan dengan badan kereta yang sedang melaju cepat namun melambat, berusaha berhenti di stasiun. 

Adira terhempas di atas aspal peron kereta, tak sadarkan diri. Darah keluar dari kepala dan badannya. Orang-orang yang sedang berdiri menunggu pintu kereta terbuka, beralih mengerubunginya. Hp yang tadi Adira genggam terlempar tanpa disadari orang-orang yang panik melihat kejadian barusan. Hp itu tergeletak di bawah kursi peron stasiun, jauh dari kerumunan orang, masih menampilkan wajah seorang perempuan dan berbunyi “Halo..? Halo..?”

Tuesday, November 4, 2014

Makalah Rapi (3): Cara Membuat Cover dan Isi Makalah Dalam Satu File

Ceritanya, gw pernah tuh disalahin makalahnya gara-gara di halaman cover paling awal masih ada nomor halamannya. Sejak itu gw jadi memisahkan halaman cover dengan halaman isinya menjadi dua file terpisah. Rempong deh. Padahal, ada caranya lho! Sejak tau caranya, saya jadi tidak perlu memisahkan file cover dan isi, bahkan saya bisa pakai 2 jenis numbering dalam satu file :") *gayaklinik tongfang*. Gimana caranya? Check it out! 

Lihat Juga:
- Makalah Rapi (1): Cara Membuat Daftar Isi Otomatis 
- Makalah Rapi (2): Cara Membuat Daftar Tabel/Figur/Gambar Otomatis


CARA MEMBUAT COVER DAN ISI BERADA DALAM SATU FILE

1. Membuat Page Number pada Halaman-halaman Cover
Untuk membuat halaman, duh pastinya sudah pada khatam dong. Caranya buat dengan Insert, lalu klik page number . Nah kita coba untuk membuat halaman pada cover dan halaman-halaman awal makalah ya seperti daftar isi, kata pengantar dan sebagainya. Biasanya halaman ini menggunakan nomor romawi. Jadi, ketika mengklik page number, ada pilihan "Format Page Numbers". Di situ teman-teman bisa memiih jenis agka yang diinginkan. Mari pilih angka romawi.


2. Menghilangkan page number pada cover halaman pertama saja
Pertama, double klik pada header/ footer (tampilan harus sedang menampulkan header dan footer, jika belum, maka langkah selanjutnya belum bisa dilakukan), lalu klik Design pada menu bar lalu ceklis pada kotak Different first page. Nomor halaman pada cover hilang deh!

 

3. Membuat pemisahan antara halaman cover dan halaman isi
Kalau setelah membuat halaman cover dan nomor halamannya, nanti penomoran halaman pada halaman isinya gimana dong? Bisa kok! Lihat deh gambar di bawah ini. Pada halaman yang atas itu footernya tulisannya "section 1", dan di halaman bawahnya tulisannya "section 2" dan bisa mulai dari halaman 1 lagi. Caranya....


Pada halaman terakhir tempat halaman-halaman awal sebelum masuk ke halaman isi, beri break dengan mengklik page layout pada menu bar. Lalu lihat pada pilihan "Breaks". Pilih pada pilihan section breaks yang "Next Page". Voila! Jadi lah pembagian section 1 yaitu halaman-halaman cover awal, lalu section 2 tempat kamu menulis isi makalah kamu!

4. Membuat page number pada halaman isi
Untuk memulai membuat nomor halaman baru pada halaman isi yang sudah dipisah, caranya adalah. Double klik pada bagian header atau footer, lalu sama ketika membuat nomor halaman yaitu Insert, page number. Klik pada Format Page Numbers, kamu bisa memilih jenis angka seperti angka biasa untuk membedakan dari halaman-halaman cover, dan untuk memulai nomor halaman baru, pastikan pada page numbering terpilih pada "Start at 1"

CATATAN: Kalau kamu mau membuat format numbering berbeda di halaman isi, misalnya mau dibuat berbeda pada hanya halaman yang mengandung judul bab "Bab 1, 2 atau seterusnya". Kamu bisa mainkan pada pemisahan halaman menggunakan breaks. Jadi, sebelum mulai ke halaman yang ada judul BAB 1-nya, kamu buat breaks. Lalu diformat, misalnya pada halaman itu page numbernya ada di tengah. Kemudian pada halaman berikutnya, buat breaks lagi, dan bisa diedit sesuai dengan yang diinginkan. Agar halaman terus berurutan, pilih pilihan Page Numbering pada dialog box seperti di atas, yang Continue from previous section.

Naaah sekarang semuanya jadi deeeh! Format-format udah semua, kalo mau ngasih subbab baru gampang tinggal pencet Heading yang udah di custom. Kalo mau edit daftar isi tinggal update table. OMG Alhamdulillah jadi pas udah mepet deadline tinggal mikir nyelesaiin isi doang ga perlu mikir teknis smele smele! Haha. Semoga bermanfaat yaa. Tulisan sudah berusaha dibuat sesingkat dan sejelas mungkin. Selamat membuat makalah atau uhuk, SKRIPSI yaaa :P 

NB: Kalau ada pertanyaan, ada kesalahan penulisan atau masukan, boleh komen atau hubungi gw personal ya ;)

Popular Posts