Monday, April 15, 2013

Beban

"Ya kalau ditumpuk terus, lama-kelamaan akan jadi beban. Simple logic."


1. Untuk yang suka menunda
2. Untuk yang suka memendam
3. Untuk diri sendiri

Friday, April 12, 2013

Ada Saatnya

Ada saatnya
kau harus memulai
mencoba menggapai
yang ingin kau capai

Ada saatnya
kau harus berhenti
untuk lebih teliti
mencari yang pasti

Ada saatnya
kau harus berlari
lebih berani
mencari arti

Ada saatnya
kau harus menunggu
sendiri dan satu
meraungi waktu

Mungkin saatnya
selamat tinggal terkata
hingga pertemuan nanti
kapanpun nanti

Semoga
ada saatnya
kita bertemu lagi
saling mengisi hati

Song of the Day: Agnes Monica - Rindu 
Lagu buat karaokean di tengah UTS kemarin, yang entah kenapa #edisigalau :P

Monday, April 8, 2013

Merelakan


“Mira, cepat ke rumah gue. Gue depresi dan nggak tau harus gimana lagi. Rasanya kayak mau mati.”
Kata-kata itu muncul pada sebuah pesan singkat di layar Hp Mira, membuatnya terlonjak dan segera menghabiskan makan siangnya di rumah. Hujan gerimis dan angin dingin tak membuat Mira ragu untuk mengunjungi rumah yang hanya berjarak satu blok dari rumahnya. Hatinya gelisah sejak sahabatnya menceritakan kabar menyedihkan padanya kemarin siang. Mengingat hal itu, ia memantapkan langkahnya, halaman rumah besar yang luas dan penuh bunga menyambut dirinya.
Mira mengetuk pintu kayu pada rumah besar itu, pintu yang sekarang sudah pudar warnanya, tak seperti dulu sekitar 13 tahun yang lalu. Sudah sering sekali ia menunggu di depan pintu itu. Masih sama bentuknya, besar, penuh ornamen, dan ada bel yang tertempel di samping pintu. Mira tahu, orang di dalam rumah itu tak suka apabila tamu di luar membunyikan bel. Ketuk dahulu pintunya, dan jika masih belum dibukakan, baru boleh membunyikan bel.
Hanya sekitar 10 detik setelah Mira mengetuk, pintu dibuka oleh seorang wanita muda.
"Oh, neng Mira. Mari masuk aja, neng. Neng Debi ada di kamarnya." Kata wanita muda itu dengan ramah.
"Iya makasih, mbak."
"Mau minum, neng? Yang biasa? Sirup mangga, pake es?" Kata si mbak yang memang sudah hafal pesanan Mira jika berkunjung.
"Hmm..nggak deh, mbak. Terima kasih.”
“Oke deh. Kalau ingin sesuatu bilang ya, neng. Oh iya, mbak khawatir si neng Debi kenapa-kenapa. Dari tadi malam dia nggak keluar kamar, nggak mau makan juga. Besok kan sekolah, gimana kalau neng Debi juga nggak mau masuk sekolah ya?” Kata si mbak yang wajahnya terlihat cemas.
“Oh begitu, aku langsung ke atas aja ya, mbak."
Mira menaiki tangga melingkar ke lantai dua. Lantainya dingin, mungkin karena udara menjelang hujan. Setelah melewati tangga, hanya jalan beberapa langkah ia pun bertemu pintu di sebelah kanan yang bertuliskan "Debi's Castle”. Mira terdiam sebentar, tidak ada suara dari dalam, atau dari manapun. Rumah ini hening. Baru sekitar 10 menit yang lalu ia mendapat pesan singkat untuk segera datang dan ia sekarang sudah berada di sini, bingung harus melakukan apa.
"Deb.." Panggil Mira sambil mengetuk pintu.
"Iya, masuk aja, Ra." Sahut seorang perempuan dari dalam kamar.
Pintu kamar berderit seraya Mira masuk ke kamar bercat putih itu. Sebenarnya jika keadaannya sedang tidak seperti ini, biasanya Mira bahkan tak perlu mengetuk terlebih dahulu. Mereka sudah berteman sejak kecil, dan satu sekolah pula sampai SMA saat ini.
Kamar itu berukuran sedang, tak ada yang terlalu mencolok kecuali seprai kasur single yang bergambar Angry Birds dan juga rak buku yang berisi deretan novel fiksi terkenal.  Mira melihat sahabatnya sedang duduk di atas kasurnya sambil memandangi Hp di tangannya. Matanya sembab, ia masih menangis.
"Hai. Masih sedih?" Mira hanya bercanda. 
"Menurut lo?" jawab Debi dengan kesal.
"Ya.. kan gue nggak mau lo sedih. Jelek mukanya tuh, lihat." Ledek Mira.
"Tapi kan memang sedih, nggak bisa di tahan."
"Emang gimana sih, kok bisa?" Sebenarnya Mira sudah tahu kejadiannya. Mira kira dengan bertanya, Debi akan merasa lebih diperhatikan.
"Ya..gitu. Dia pergi begitu aja, ninggalin gue. Udah ah, nggak mau cerita lagi." Debi mulai terisak.
"Dia merasa kalo lo udah nggak sayang sama dia, mungkin?"
"Kalau gue nggak sayang, gue nggak akan nangis begini, Ra!" Debi makin tersedu, kesal dengan sahabatnya yang malah meledeknya.
"Eits, iya, iya, jangan ngamuk. Kan kadang, orang baru tahu kalo dia sayang sama sesuatu ketika sudah kehilangan. Mungkin aja waktu itu lo nggak terlalu menunjukkan rasa sayang dan perhatian lo ke dia, jadi dia pergi. Terus lo baru sadar deh ketika dia udah pergi."
"Ah, apaan sih, Ra. Jadi ini salah gue?" Debi agak kesal dengan temannya yang kadang sok bijak.
"Enggak juga sih, mungkin juga memang udah saatnya..."
Debi terdiam. Ia masih melihat-lihat foto-foto kenangannya di Hpnya. Foto Debi dengan kesayangannya. Mira sebenarnya turut sedih tapi ia tidak ingin memperburuk keadaan, ia hanya mengamati Debi.
"Susah move on, ya?" ledek Mira untuk memecah keheningan.
"Apaan sih, wajar dong! Kan udah 3 tahun gw sama dia. Huhuhu."
"Nanti pasti ada penggantinya kok." kata Mira meyakinkan.
"Tapi gue gak mau. Maunya cuma dia!"
"Kan dia udah pergi. Yakin nggak mau penggantinya? Mana tahu, dapat yang lebih baik. Lagi pula, dia kan udah tua. Hehe." Mira meledek lagi.
"Tapi nggak ada yang lebih baik selain dia." Kata Debi, masih menyangkal.
"Deb, lo kira di dunia ini isinya ada berapa makhluk hidup? Banyak Deb! Santai aja, lo mungkin belum jodoh aja sama yang satu ini." Kata Mira, sok bijak.
"Terus gimana gue bisa ngelupain Diko?"
"Gak harus dilupain sih, tapi direlakan. Kalau memang takdirnya pergi, ya lepaskan untuk pergi.“ Mira mulai sok bijak lagi untuk menghibur Debi yang sebenarnya menyadari hal itu.
Kemudian, suasana berduka dan agak canggung itu pecah begitu saja. Mereka terkejut mendengar sebuah suara dari luar jendela kamar Debi. Suara mengeong dari seekor anak kucing di luar. Mereka segera melihat keluar jendela, dan melihat kucing itu tepat di bawah jendela kamar Debi
"Ra, kucing, Ra!" seru Debi.
Mereka berdua segera keluar rumah, melihat anak kucing berwarna coklat sedang kebingungan dan mengeong-ngeong di tengah semak berbunga di bawah jendela kamar Debi. Debi dan Mira perlahan mendekati anak kucing itu. Anak kucing itu terlihat takut dan tetap berdiri diam.
"Hai kecil, mamamu mana?” Debi seakan bisa berbahasa kucing. “Sini, sama aku aja." Saat berbicara dengan kucing kecil itu, raut wajah Debi menjadi lebih ceria. Dengan lembut ia menggendong anak kucing itu. Langsung saja Mira menyahut.
"Tuh kan benar, pasti dapat penggantinya kan?" Mira menunjukkan cengirannya, membuat Debi hampir ikut tersenyum lebar, tetapi tidak jadi karena gengsi.
"Ah diam lo. Kucing ini mau gue rawat aja, kasian nggak ada mamanya." Kata Debi, galak. Seperti ibu-ibu pemarah yang sedang menggendong anaknya.
"Disayang ya, Deb. Jangan sampai pergi lagi."
"Ah tadi kata lo santai aja, kalau pergi berarti belum jodoh.” Ujar Debi, menirukan gaya bicara Mira dengan berlebihan. “Terus nanti akan datang lagi penggantinya. Jodoh kan gak kemana." Lanjut Debi.
"Tapi kan lo juga harus berusaha untuk menjaganya. Kalo nggak berusaha, lo nggak jadi jodoh siapa-siapa, single melulu hidup lo."
"Ih, malah topiknya jadi galau-galau cinta begini. Males ah. Gue single gini masih happy aja tuh." Sekarang Debi yang meledek Mira.
Kehilangan Diko, si kucing kesayangannya, memang berat bagi Debi. Tapi, tak ada yang bisa disalahkan. Kalau memang sudah takdir, apa yang bisa diperbuat?
Kedua remaja itu kemudian  masuk ke dalam rumah dan larut dalam kegembiraan baru dari si kecil pendatang baru. Kucing kecil itu akhirnya diberi nama “Dira”, ia seekor betina. Sampai sekarang, Dira selalu membawa kebahagiaan yang sama seperti dulu bersama Diko. Bahkan lebih besar, setelah Debi telah rela melepas Diko pergi.

***

Yang telah pergi, pasti akan kembali, walaupun tidak selalu akan sama. Misalnya seperti ketika kita bersedekah. Rezeki yang kita biarkan pergi, pasti akan kembali, bisa dalam bentuk pahala, atau rezeki lainnya, atau bahkan dua-duanya. Jika kita merelakan, bahkan yang kembali itu bisa jadi lebih baik karena sebenaranya hal yang terjadi, yang baik ataupun tidak baik itu tergantung bagaimana kita memandangnya, dan sejauh mana kita merelakannya. Jadi, relakanlah :)

* Terinspirasi tweets para jejaka Psilabus (@PsikoUI2011) edisi #merelakan
* Mohon maklum kalau versinya agak sinetron/teenlit gini, hehe

// Mengenang Chiko

Sunday, April 7, 2013

7 April 2013

 

Happy birthday Fasya, the tall pinky girl.
Keep your neuroticism in good control.
Enjoy your far-but-so-close relationship :3
Have a blast!

Tuesday, April 2, 2013

Sunday, March 31, 2013

Resensi - Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street #1: Misteri Kematian Bintang Sirkus

Judul: Sherlock Holmes & Laskar Jalanan Baker Street #1: Misteri Kematian Bintang Sirkus
Penulis: Tracy Mack & Michael Citrin
Penerbit: Qanita

Saat membeli buku ini, di tengah pencarian saya terhadap buku-buku Sherlock Holmes, saya kira ini adalah buku Sherlock Holmes yang di tulis langsung oleh Sir Arthur Conan Doyle. Saat sampai rumah saya baru sadar bahwa penulisnya adalah Tracy Mack dan Michael Citrin. Ya, ini salah satu kebiasaan buruk saya ketika sudah berada ditoko buku, apalagi kalau sedang bersama orangtua, asal ambil #malahcurcol. Setelah saya lihat judulnya, ternyata ada tulisan di bawah judul "Sherlock Holmes", yaitu "& Laskar Jalanan Baker Street". Buku ini mengisahkan tentang petualangan Sherlock Holmes dan (yang saya baru tahu bahwa ternyata ia juga memiliki) 'asisten-asisten kecil' yaitu anak jalanan dengan latar belakang berbeda-beda. Kata Mack dan Citrin, memang mereka hanya sedikit disebut di satu-dua karya Sir Doyle. Mereka adalah anak-anak tunawisma-yatim piatu. Mereka adalah Wiggins (dan Shirley, rubahnya), Rohan, Osgood, Elliot, Alfie, Alistrair, Barnaby, Shem, Fetcher, Simpson, James dan Pete.  Disebut Laskar Jalanan Baker Street karena mereka tinggal di sebuah  gudang pabrik yang terbengkalai di pinggiran Baker Street yang dijuluki "Kastel", dan  Baker Street (khususnya nomor 221 B) itu sendiri merupakan nama jalan di mana Sherlock Holmes tinggal.

Saat itu hidup mereka tengah membosankan karena Master mereka, Sherlock Holmes, belum lagi meminta bantuan mereka untuk membantunya memecahkan masalah. Hingga suatu hari, Master mereka menaiki kereta kuda ke istana Buckingham di Inggris dan anak-anak itu mengikutinya. Melihat Master mereka mengamati sisi-sisi istana, merekapun menjadi bergairah karena mereka tahu ini adalah waktunya mereka beraksi lagi. Ya, mereka senang dengan dibayar beberapa pound untuk membantu memecahkan suatu kasus, karena bayaran sesungguhnya adalah keseruan dalam menyikap kejahatan. Di sisi lain, di sebuah festival sirkus Grand Barboza, 3 pemain akrobat tali, Walenda bersaudara terjatuh dan mati saat melakukan aksinya. Tali saat pertunjukannya putus secara misterius. Ternyata hal itu berhubungan pula dengan kejahatan terhadap pencurian harta kerajaan, The Stuart Chronicle di Istana Buckingham. Dengan bantuan Laskar Jalanan Baker Street yang khususnya Wiggins, Osgood, dan Rohan, oh ya, kamu juga Shirley, dan teman Gypsi mereka dari sirkus Barboza, Pilar, mereka dapat memecahkan misteri.

Dari segi penulisannya, memang berbeda dengan karya Sir Doyle yang asli. Menurut saya, ya, menurut saya saja mungkin, buku ini kurang bisa menggambarkan kejeniusan Sherlock Holmes. Bahkan Sherlock terlihat kurang jenius, karena anak-anak ini sangat membantunya. Di buku ini juga Watson tidak banyak muncul dan bahkan tidak terlibat dalam penyikapan kejahatan, dengan alasan dari Sherlock ketika berbicara dengan Laskar Jalanannya, "Masalahnya benar-benar rahasia--dan pengetahuan kallian tentang hal itu bisa membahayakan diri kalian. Itulah alasan mengapa aku tidak lagi melibatkan Watson dalam kasus ini. Aku khawatir dia akan menulis kisah tentang ini."  Di buku ini, entah kenapa Watson juga terlihat kurang pintar, dan lebih emosional. Keberadaannya didominasi anak-anak kecil Baker Street tersebut yang mungkin terlihat lucu. Entah karena memang ceritanya seperti itu atau karena penulisannya, buku ini juga kurang membuat berpikir. 

Namun, di buku ini terdapat bagian-bagian unik, seperti sewaktu saya membaca buku ini, saya melihat beberapa huruf ada yang tiba-tiba besar dan beda sendiri terselip di tengah-tengah kata. Saya yakin itu adalah kode, dan saya sempat mengikuti huruf-hurufnya sampai 4 huruf. Namun, karena kebiasaan buruk saya yang selalu tertidur ketika membaca buku, saya lupa akan huruf-huruf itu dan akhirnya terlalu malas untuk mencari lagi dan tetap melanjutkan membaca dengan optimisme bahwa penulis akan menuliskan rangkaian huruf tersebut, dan saya juga berusaha menahan rasa ingin tahu dengan tidak membuka halaman akhir buku itu. Ternyata benar, huruf-huruf itu terangkai di bagian akhir buku menjadi sebuah kode yaitu Professor Moriarty Will Return. Saya tidak bermaksud membuat ini menjadi spoiler karena seperti yang kita tahu, professor Moriarty memang selalu hilang, muncul dan kabur lagi dengan suksesnya, jadi tidak heran jika dia tiba-tiba ia muncul lagi walaupun kabar sudah menyatakan ia mati.

Bagian unik lainnya dari buku ini adalah seperti wawancara antara Tracy Mark dan Michael Citrin dengan Sherlock Holmes di awal buku. Ada juga daftar kata-kata slang, dan cara membuatnya agar kita bisa belajar untuk membuat kalimat kode (#asik) tanpa bisa diketahui orang lain. Ada juga bagian belajar menarik kesimpulan dan seni penyamaran a la Sherlock Holmes. Di beberapa halamannya juga ada foto-toto dari film Sherlock Holmes and the Baker Street Irregulars, yang bahkan saya baru dengar. #norak

Orang berkemampuan rata-rata tidak tahu apa-apa yang lebih tinggi daripada dirinya. Tapi, orang berbakat selalu bisa menyadari suatu kegeniusan - Sherlock Holmes

By: Syakira Rahma

NB: Maaf kepanjangan, saya gangerti cara nulis resensi, hehe :P

Thursday, March 21, 2013

Rindu


(source)
Tidak biasa
Semua tiba hampa
Mengingatkanku bahwa
Aku rindu rasanya..
Angin menghembus jiwa
Hangat tajam sang surya
Harum menawan bunga
Merdu nada rimba
Sepertinya 
Aku rindu dia. 
 

Popular Posts