Thursday, April 9, 2015

Di Balik Hutan Kabut

Di suatu hutan di Sumatera, hidup makhluk-makhluk di dalam hutan yang keberadaannya membuat orang-orang bertanya-tanya. Orang-orang di sana bilang mereka adalah makhluk halus, iblis, monster, dan hal-hal mistis lainnya. Tak sedikit yang enggan masuk ke hutan karena takut hal-hal buruk menimpanya akibat makhluk-makhluk tersebut. Sesungguhnya mereka itu peri. Peri-peri wanita dan pria yang hidup saling melindungi hutan. Mereka dipimpin oleh seorang ratu yang menciptakan mereka, dan menguasai seluruh bagian hutan.
Pada suatu musim kemarau, ratu hutan memanggil salah satu peri wanitanya. Kulit peri itu halus mengkilap, bajunya hijau seperti warna daun segar yang hampir transparan ditubuhnya, menutupi hingga setengah pahanya. Rambutnya putih perak dihiasi dengan bunga kuning yang dijepitkan pada salah satu sisi kepalanya. Ratu hutan berkata pada peri tersebut, “Bahaya datang, Utari. Jagalah hutan ini. ”Instruksi itu dipahami oleh Utari. Ia tahu, ialah yang dipercaya oleh sang ratu. Utari kembali pada rumahnya, tubuhnya menembus salah satu pohon di hutan itu. ***

Keheningan hutan begitu kontras dengan keramaian di tengah kota 30 kilometer jauhnya. Di sebuah gedung kantor pencakar langit, Malik sedang duduk dalam ruang rapat. Bos, pria tua berperawakan gemuk dan berpakaian kantor yang rapi dan mahal itu memimpin kumpulan orang dewasa yang berkeliling pada sebuah meja bundar. Malik, pegawai teladan, matanya tak bergerak pada sang pemimpin, hingga di akhir rapat sang pemimpin rapat menatap balik Malik.
“Kau bersedia menjadi kepala proyek ini, Malik?” Tanya Bos.
“Eh? Ehm..benarkah? Maksud saya, saya? Bagaimana dengan Arif di sana, dia lebih berpengalaman.” Ujar Malik kebingungan. Yang bernama Arifmenarik garis bibirnya ke atas.
Bos tertawa, “Wah, mungkin sekarang giliranmu. Aku sudah melihat catatanmu, Malik. Kau teladan, sudah sepantasnya sekarang kau yang menjadi pemimpin. Proyek ini akan meraup keuntungan 10 triliyun, dan itu akan jadi milikmu, Malik.  Bagaimana?”
Ruangan hening. Malik yang gelisah karena dipandang oleh seluruh orang dalam ruang bulat itu, akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Ruangan itu sekarang bergemuruh tepukan tangan.***

Ratu hutan, sosok wanita yang memakai jubah berupa susunan daun menutupi memiliki kulit yang juga terlihat bersisik seperti deretan daun, menunggu kedatangan makhluk yang ia panggil. Rambutnya cokelat panjang dan di puncak kepalanya terdapat mahkota terbuat dari daun-daun emas yang berjejer. Utari muncul dari pepohonan, lalu berlutut dihadapan sang Ratu sambil tertunduk. “Gagalkan rencana mereka, Utari. Lindungi hutan ini.” ***

Segerombolan buldozer dan orang-orang bertopi kuning yang membawa gergaji mesin berdatangan ke tepi hutan.
“Kita mulai dari sini.” Suara Malik memerintahkan semua anggotanya teredam lebatnya hutan. Seorang pegawai terlihat lesu karena hutannya begitu lebat.
“Pak, apakah tidak lebih cepat jika kita membakar saja hutannya?”
Mendengar itu, Malik tertawa. “Wah, saya tak ingin mencoba bermain api. Lagipula, kalian akan di bayar untuk ini. Segera kerjakan tugasmu.”
“Baik pak.” Pegawai itu pergi bersama gergaji mesinnya.Malik buru-buru berseru pada pegawai itu.
“Hei, tenang saja. Kurasa dengan semua alat dan orang yang kita punya. Penebangan ini akan selesai cepat. Target kitasepuluh hari.”
Malik yang memantau pengerjaan itu terlihat puas. Ia tidak tahu dibelakangnya ada mata cokelatyang juga sedang memantau. ***

“Mereka akan selesai dalam sepuluh hari, ratu.” Suara Utari lembut hampir tidak terdengar. Sang ratu gusar, matanya yang melotot membuat siapapun di hutan tak berani menatapnya. Sang ratu berdeham.
“Hutan ini sangat berarti bagiku, kau tahu itu, Utari?” Utari tidak menjawab. Tentu itu bukan pertanyaan untuk dijawab. Ia menunggu sang ratu melanjutkan.
“Dulu aku bertemu seorang lelaki. Ia sahabatku sejak kecil. Kami berasal dari desa yang berseberangan. Sayangnya, desa kami saling bermusuhan. Orangtua kami tidak setuju kami bersama. Kami pun menumbuhkan pohon-pohon ini, diantara dua desa itu, memisahkannya, namun menyatukan kami. Pohon-pohon ini tumbuh bersama kami, hingga ketika kami dewasa, kami bisa berdua bersama di dalam pepohonan ini tanpa ada orang yang tahu. Aku jatuh cinta padanya, Utari. Aku tahu ia juga mencintaiku. Di hutan, ia mengajakku menikah. Kami berencana hidup di pepohonan ini berdua. Ya, hanya kami berdua.”Derik jangkrik begitu nyaring, menambah suasana sepi hutan itu.
“Suatu hari, saat aku akan bertemu dengannya di hutan, ia tak kunjung datang. Aku menunggunya di hutan ini, hingga 7 hari ia tak kunjung datang. Aku pun membubuhi tubuhku dengan daun-daun, lalu aku menyamar masuk ke desa tempat cintaku tinggal.Aku berhenti di sebuah rumah kecil, berdiam seperti semak-semak sungguhan, hingga aku mendengar percakapan seorang pedagang roti dan pelanggannya.” Suara sang ratu sedikit bergetar.
“Pedagang roti itu berkata bahwa ia kehilangan pelanggannya. Cintaku. Tukang roti itu menyebut nama cintaku. Katanya ia mati karena berandal kejam merampoknya ketika ia mau mengunjungi hutan. Oh. Aku bahkan lupa nama cintaku, namun aku akan selalu ingat wajahnya, tubuh tegap, dan senyumannya.“ Sang ratu berkata dengan nada yang tidak bisa dimengerti. Sebuah nada sedih dan kemarahan menjadi satu.
“Oh Utari, hatiku sekelam kabut sejak aku kehilangannya. Hingga aku tidak enggan membunuh berandalan itu ketika mereka mendekat ke hutan. Saat itu aku bersumpah, akan menjaga hutan ini selamanya.”Suara ratu menjadi lebih nyaring. “Suatu hari, sang matahari dan bulan sepakat untuk menjadikanku pelindung di hutan ini.”
“Tolonglah Utari, kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang.” Suara sang ratu berubah menjadi lebih berat.
“Baik, baginda ratu.” Utari berbalik badan masih menunduk. Satu kerlipan tetes air mata terlihat mengalir di pipinya. ***

Di malam kemarau yang panas itu, Malik bermimpi dalam tidurnya. Ia mendengar suara lembut seorang wanita. Hentikanlah. Begitu kata suaranya. Ia memimpikan kaki berkulit putih yang berlari di balik batang-batang gelap pohon di hutan. Hentikanlah. Malik bergumam dalam banjir keringat di tubuhnya yang terlelap. Dering alarm kemudian membangunkannya. Satu jam kemudian, ia sudah berada di tempat kerjanya.
Di lokasi penebangan, Malik sulit berkonsentrasi. Rasanya ia mengenal hutan itu, suara itu, dan.. siapa yang dimimpi itu? Batinnya gusar.
“Pak, sudah waktu istirahat?” Malik tidak sadar sudah hampir tengah hari dan belum memberhentikan pekerjanya untuk beristirahat. Ia pun menginstruksikan pekerjanya untuk makan siang dan beristirahat. Ia duduk pada kursi di bawah tenda terbuka sambil menikmati kopinya. Tiba-tiba ia mendengar bisikan dari pohon-pohon yang berada di belakang tempat duduknya. Hentikanlah. Malik hampir tersedak mendengarnya. Itu suara yang sama dalam mimpinya. Malik menaruh cangkir kopinya. Perlahan ia menuju pepohonan di belakangnya.
“Halo? Ada orang?” Malikmemanggil tidak terlalu keras agar tidak ada pegawai yang mendengarnya. Malik masuk semakin dalam ke hutan, mencari sumber suara. “Halo?” Tiba-tiba ia melihat sesosok wanita cantik mengintip dibalik pohon. Kulit putihnya begitu mencolok di tengah batang-batang pohon yang gelap.
“Hei, apa kau tadi yang berbicara?” Malik bertanya, tapi wanita itu langsung lari secepat angin. Kakinya yang putih dan lincah berbalapan dengan batang-batang pohon yang coklat. Malik mengejarnya, ia berhenti ketika melihat wanita itu berdiri di depan dua batang pohon bersisian yang batangnya saling melengkung menyatu. Hati Malik tiba-tiba berdegup. Ia mulai mengingat sesuatu. Sesuatu yang telah lama ia lupakan.
            “Ta..Tari, apa itu kau?” Malik mengernyitkan matanya, berusaha mengingat.
            “Malik, hentikanlah.”
            “Hentik...tunggu,apa itu benar-benar kau, Tari?” Malik mendekat, ia tidak mengerti apa yang terjadi.
            “Tolong jangan mendekat. Aku bukan orang yang kau kenal lagi Malik.”
            “Tapi aku kira kau sudah..”
            “Mati. Ya. Ratu hutan menemukanku, dan sekarang tolong segera pergi dari hutan ini dan jangan pernah kembali. Kau dan semua orang dalam bahaya.”
            Terkejut dengan siapa yang berbicara dengannya, Malik seakan tidak menghiraukan peringatan peri itu. “Oh,Utari. Aku..aku ingat. Aku belum melupakanmu. Waktu itu..aku sangat, oh aku masih mencintaimu. Ngarai, bukan? Iya, di sini dulu ada ngarai.”
            “Dibagian hutan lainnya. Dengarlah! Kau harus berhenti. Kau tidak boleh menebang pohon lagi. Kau mengancam nyawa kami.”
“Kami?”
“Kalian tidak tahu apa yang hidup di balik hutan. Jadi hentikanlah.”
“Andai aku bisa, Utari. Bos...” Ucapan Malik terpotong.
“Hentikanlah. Atau kami yang akan menghentikanmu.”Utari memelototinya.
“Baiklah.” Malik tertegun, meskipun enggan, ia perlahan membalikkan badannya. Ia melangkah sedikit, ketika ia menengok ke belakang, Utari sudah menghilang. Kabut bermunculan di hadapannya. Malik kembali ke lokasi kerjanya.
“Pak, kemana saja?” Tanya salah seorang pekerja.
“Mari kita berhenti untuk hari ini.” Kata Malik, alisnya mengerutkan ragu dan juga bingung.
“Apa? Tapi pak, hari ini masih sedikit, masih jauh dari target.”
“Berhenti saja. Ayo semua bubar!”
Raut wajah para pegawai yang keheranan tidak membuat Malik berubah pikiran. Ia tahu apa yang dilakukannya. Ia berharap ia bisa kembali ke hutan, bertemu dengannya lagi. Utari.
Malam itu Malik kembali bermimpi buruk. Ia berada di atas ngarai besar di ujung hutan. Itu tempat favorit mereka, Malik dan Utari, mereka saling jatuh cinta 10 tahun yang lalu. Suatu saat ketika Malik berpaling untuk mengambil makan siang piknik mereka, Malik mendengar teriakan Utaridari belakang. Terkejut karena sosok Utari menghilang, ia menengok ke bawah ngarai. Tubuh Utari sedang bergelantungan dengan dua tangan pada batu besar yang mencuat. Dengan jaketnya, ia mencoba mencapai Utari, namun terlalu jauh. Malik membuka kemejanya dan memanjangkannya dengan jaket. Namun pegangan batu itu terlalu licin karena saat itu musim hujan. Tangan Utari terlepas, ia jatuh ke ngarai yang berkabut, tak tahu seberapa dalamnya. Malik! Itu teriakan terakhir yang didengarnya. Malik terbangun dari mimpinya. Ia teringat tujuh puluh lima jam konseling yang ia jalaninya untuk melupakan kejadian tersebut. ***

“Beraninya kau menghentikan proyek ini?” Bos marah besar di ruangannya kepada Malikyang tetap diam di hadapannya. Malik tetap memandangi lantai.“Kau tidak tahu kerugian yang kau sebabkan. Aku tidak mau tahu. Besok, proyek ini kau teruskan.”
Malik tak bisa mengelak, jika ia menceritakan mengenai peri Utari, pasti Bos menganggapnya gila. Besok ia harus bertemu dengan Utari.***

Hutan tidak sama seperti biasanya. Meski terik matahari memancar, kabut menyelimuti hutan.
“Pak, banyak kabut hari ini, apa kita lanjutkan proyek?” Tanya seorang pegawainya.
“Bos bilang kita harus lanjutkan.” Jawab Malik.
Melihat para pekerja mulai asyik menebang pohon, Malik diam-diam menyelinap menuju hutan tempat ia bertemu Utari. Ia kesulitan menemukan arah tepat menuju tempat ia bertemu Utari karena kabut ini. Malik memanggil, “Utari! Utari keluarlah, ini aku, Malik.” Malik merasa dingin, kemarin sinar matahari menembus dedaunan hutan ini. Sekarang begitu gelap dan berkabut. Malik tidak punya senter karena ia bekerja di siang hari dan merasa tidak membutuhkannya.
Tiba-tiba ia melihat sosok Utari mengintip di balik pohon kecil. Utari berjalan keluar.Utari berseru, “Aku bilang hentikan.”
“Utari, aku tidak bisa. Bos telah marah besar jika proyek dihentikan. Dengarlah, aku tahu solusinya. Kami bisa memindahkan kau dan.. kalian yang ada di hutan ini ke hutan yang lain.”
“Tidak semudah itu,Malik. Di hutan ini jiwa sang ratu telah hidup, di setiap bagiannya.”
“Kalau begitu bisakah aku bertemu dengan sang ratu?”
“Hentikanlah, kumohon. Kalian dalam bahaya, karena kalian membahayakan kami.”
Malik mendesah, ia memutar otak, tapi tak tahu apa yang bisa ia lakukan. “Akan kucoba berbicara lagi pada Bos.”
Utari terdiam menatap Malik. Malik lupa betapa cantiknya Utari.. semasa itu. Kini ia masih sama cantiknya, dengan cara yang berbeda.
“Utari, apa kau masih mencintaiku?’
Utari terdiam menatap Malik, dan tubuhnya tiba-tiba hilang tertelan kabut. Malik menatap tarian kabut itu dengan lesu.***

“Proyek itu harus tetap berjalan!” Kali ini Bos benar-benar murka. “Malik, aku mempercayakan proyek ini kepadamu, dan kau mengecewakanku. Baiklah, jika kau ingin berhenti. Aku sendiri yang besok akan melanjutkan proyek itu. Kau tidak bisa menghentikanku.”***

Di tengah hutan, sang ratu semakin gusar.“Lakukanlah sekuatmu Utari.” Ia menyuruh Utari melakukan tugasnya.Utari berjalan lesu, menitikkan kerlipan air mata lagi di pipi mulusnya.***

Hutan hari ini lebih kelam dari kemarin. Bukan lagi tertutup oleh kabut, tapi ini.. asap! Pegawai proyek terbatuk-batuk memasuki kawasan tempat mereka bekerja. Bos berdiri dengan tegak menatap hutan, meskipun para pekerjanya mengeluh padanya.
“Pakai masker kalian. Proyek ini harus selesai.” Suara Bos tetap lantang dibalik maskernya. Malik datang mengampiri Bos.
“Bos, tolong hentikan ini, hutan ini berbahaya. Kabut kemarin adalah peringatan untuk kita. Sekarang mereka mengeluarkan asap, untuk mencegah kita.”
“Hah! Kau ini sudah gila? Mereka itu siapa? Kau bicara dengan pohon?”
“Berhentilah, Bos. Sebelum mereka membuat yang lebih parah daripada ini.”
“Omong kosong kamu! Aku akan buktikan sendiri. Aku akan menebang pohon-pohon ini sendiri. Minggir!” Bos langsung menaiki salah satu buldozer, mengendarainya menuju ke dalam hutan, ia menghantam pohon pohon kecil yang berada di depannya. Sosok Bos dan buldozernya semakin jauh dan tertutup oleh asap. Malik segera mengejar sosok itu. Ia harus menemui Utari, atau mungkin sang ratu.
Bos menabrak satu pohon besar. Dengan mengeluh, ia turun sambil membawa gergaji mesinnya. Ia mulai menyalakan mesin itu dan memotong kayu pohon di depannya. Ia tidak menyadari ada sulur akar yang mulai meliliti kakinya, dan naik hingga tubuhnya dengan erat. Bos berteriak meminta tolong, namun sulur-sulur itu telah menutupi kepalanya. Sekarang yang ada hanya suara gergaji mesin yang tergeletak di tanah.***

Di lokasi proyek penebangan, dua orang pekerja terbatuk-batuk dan pingsan. Salah satu pegawai lain panik dan mencari-cari atasannya. “Bos! Dua orang jatuh.” Pegawai itu celingukan tidak menemukan orang yang dicarinya.“Hei. Di mana Bos? Di mana Pak Malik?”***

“Bos! Bos! Di mana kau?” Malik berlari mencari bosnya, namun ia juga harus mencari seseorang. “Utari, aku kau di mana?” Malikmelihat warna kuning bulldozer di tengah adatnya kabut dan mendengar deruan mesin penggergaji kayu. Malik mendekat, ia tidak melihat Bos, dimatikanya mesin gergaji itu. Dari belakang, Utari menghampirinya.
“Pergi dari sini Malik. Cepatlah.” Wajahnya sedih dan panik.Malik berbalik badan.
“Utari, aku harus mencari Bos. Aku harus bertemu ratu. Aku harus menyelesaikan semuanya.”
“Kau tidak bisa. Oh cepatlah pergi dari sini, asap ini beracun.” Peringatan dari Utari. Tiba-tiba Malik merasa pusing.“Sebentar lagi kau dan orang-orangmuakan tidak sadarkan diri. Kau bisa mati!”
“Utari, aku akan pergi, tapi aku harus mencari Bos. Bantulah aku.” Seraya berbicara, Malik merasa badannya sedikit melayang.
“Ratu menangkapnya. Kau tidak bisa menolongnya.”
“Utari, aku harus!” Utari tetap terdiam. Malik memperhatikan sekitar, otaknya mulai berputar. “Jika kau tidak mau membantu, aku bisa melakukannya sendiri. Aku tahu caranya.” Malik langsung berlari ke antara dua pohon yang saling melekuk. yang berjarak lima kaki dari dirinya. Itu tempat ia pertama bertemu dengan Utari. Ia tahu itu gerbang menuju sesuatu yang lain.
Menembus di antara dua batang pohon itu, sepersekian detik tubuhnya serasa melayang. Ia telah berpijak pada dunia yang berbeda. Di hadapannya, ia disambut oleh ratu yang sedang mengamati tubuh Bos yang terlilit di sebuah pohon. Bos terbelalak melihat Malik, tapi ia tetap tidak bisa berbicara karena mulutnya tertutup sulur akar.
“Wahai baginda ratu, hentikan semua ini. Kita bisa mendiskusikan jalan keluarnya.”Malik langsung tahu bahwa yang ditatapnya adalah sang ratu.
“Jalan keluar? Tak ada lagi yang bisa kau lakukan. Minggir saja jika tidak ingin mati bersama si gendut ini.” Mendengar itu, geraman Bos terdengar samar dibalik sulur. “Si gendut ini akan membayar apa yang telah ia lakukan. Tubuhnya akan diserap oleh akar-akarku, dan membiarkan darahnya menumbuhkan pohon-pohon baru, sebagai ganti atas pohon-pohon yang mati karena ulahnya.”
“Tolong hentikan. Jangan bunuh dia.” Malik makin merasa pusing, nafasnya. Utari muncul dari gerbang ajaib, ia menatap Malik.Malik saling bertatap dengan Utari. “Jadikan aku sebagai gantinya.”
Utari berteriak, “Jangan Malik. Jangan!“
“Aku sudah gila melihatmu mati saat itu, Utari. Sekarang aku ingin bersamamu.”
“Tidak Malik, kau tidak bisa. Pergi saja dari hutan ini. Aku telah membuat kabut dan asap ini, agar kau pergi. Maafkan aku.”Utari mulai menangis.
“Ambil saja tubuhku, wahai Ratu. Lepaskan pria itu.” Malik menyerahkan dirinya.
Sang ratu tersenyum, “Baiklah, jika itu maumu.” Sulur yang meliliti Bos pun berpindah pada tubuh Malik, menjeratnya.Utari berteriak.
“Tidak! Wahai Ratu, jangan bunuh Malik.”
“Diam, Utari. Mereka manusia sama saja.”
“Ingatlah, dulu kau juga manusia. Apakah kau akan sekejam ini?”
“Diamlah kau. Kuhancurkan ia saat ini juga.” Sulur pohon semakin erat, Malik meringkih kesakitan. Ujung sulur mulai menancap ke kulitnya.
Utari menangis. Ia pun mendekat dan berbisik di telinga Malik sambil menangis.
“Ya, aku masih mencintaimu, Malik.” Utari memeluk Malik yang terlilit oleh sulur. Sulur-sulur itu menyala. Sesaat tubuh Malik berkedip bersamaan dengan tubuh Utari. Kini, di dalam sulur adalah tubuh Utari dan sulur itu memakan tubuh mengkilapnya. Sang ratu terperangah, ia terhempas karena kilauan cahaya yang sangat terang, lalu ia menghilang.
Malik berbaring di tanah di sebelahnya, melihat cahaya berkelap-kelip, dadanya sesak. Malik! Suara bergema di telinganya, namun ia telah tak sadarkan diri. Hujan turun membasahi tubuhnya di tanah yang membecek. ***

Malik membaca koran pagi ini. Berita utama menyebutkan bahwa ada kebakaran hutan yang menyebabkan asap membuat beberapa pegawai pembangunan proyek tak sadarkan diri, namun seluruh pegawai berhasil diselamatkan. Berita itu menyebutkan kebakaran padam karena turunnya hujan pertama di awal musim hujan yang datang.
Malik menyeruput kopinya, ia bersyukur dirinya tidak gila. Wanita tercintanya yang telah lama mati, menjadi peri yang telah menyelamatkan dirinya. Hutan itu hingga saat iniselalu berselimut kabut. Para peneliti bilang,munculnya kabut itu disebabkan tanah bekas terbakaryangterkena hujan. Namun Malik tahu, hutan itu berkabut jika ada niat jahat yang mengancam bahaya makhluk di hutan itu. Arwah Utari akan selalu melindungi hutan itu dengan kabutnya. Sampai sekarang, hutan itu tetap berkabut, karena memang masih banyak pikiran-pikiran jahat orang serakah yang ingin melahap hutan itu.
***

Tuesday, February 10, 2015

What Blogger Am I? - Gratis Resep Telur Darplok

Hai netizens. Gw lagi kepikiran satu hal nih karena suatu hari, ada teman gw yang menanyakan ketika gw bilang kalau gw itu suka nulis blog. Dia tanya, "Lu blogger apa, Syak?" Gw ngerti maksud pertanyaannya adalah gw itu blogger jenis apa (macam kucing aja ada jenisnya). Apakah gw food blogger, travel blogger, beauty blogger, fashion blogger, techno blogger, atau segala macam lainnya? Di saat itu gw hanya bilang, "Blogger biasa aja. Banyakan cerita, random, kadang bikin cerpen/puisi". Intinya: gw itu gak jelas! Haha. Di saat itu ada rasa malu juga sih. Tapi yah gw sih bodo amat, yang penting gw bisa nulis, keluarin unek-unek, berbagi cerita.

Sebenernya kalaupun gw mau menyepesifikkan jenis blog gw, gw sendiri bingung. Gw itu suka banyak hal. Gw suka makan, gw suka jalan-jalan, gw suka dandan, suka nyoba-nyoba aplikasi, baca buku dan lain-lain. Makanya mungkin judul blog gw ini cukup menjelaskan isi blog gw, mychocolateshake. Shake, artinya kocok, artinya tercampur-campur. Meskipun tercampur-campur, tapi itu tetep terbuat dari cokelat, jadi tetep enak, enak dibaca (i feel like punching myself). Karena meskipun suka-suka, ya ada lah beberapa postingan yang 'laku' digoogle. Sampai-sampai gw pernah diemail orang buat nanyain gimana cara bikin sesuatu di makalah, gara-gara postingan gw tentang Makalah Rapi. Padahal gw maunya jadi S.Psi :")

Ok, jadi inti post ini adalah, gw mau mendeklarasikan diri gw sebagai Random Blogger. *distant applause* Gw akan ngepost apa aja yang gw pikirkan, baik itu kenangan, pengalaman, review buku, film, musik, cara bikin apapun, liqo online, dan lain lain. For all random bloggers out there, let's just do random things in our blog!

FYI. Sesuai janji di judul postingan ini, gw mau ngasihtau aja, ini yang terjadi jika gw menjadi food blogger:

Hello food lovers. Kali ini gw akan membagi resep sederhana andalan gw untuk makan kapan saja, bisa pagi, siang, sore, malam, dhuha, terbenam matahari, sepertiga malam terakhir, dan waktu lainnya. Namanya Telur Darplok, alias dadar ceplok! Gw tuh suka banget sama telur, menurut gw telur itu enak aja diapain mau dibalado, ceplok, gulai, opor dll. Makanan apa aja yang dikasih telur pun jadinya enak, kayak orak arik atau omelet apa aja. Nah kalo ditanya gw suka telur dadar atau ceplok, gw bingung jawab apa, karena gw suka dua-duanya! Gw suka aroma telur dadar setelah digoreng, tapi gw juga suka banget sama kuning telur. Makanya gw bikin yang namanya telur darplok, atau dadar ceplok! Biar gw bisa menghirup aroma telur dadar dan merasakan kuning telur layaknya telur ceplok, uumm yummy. Yuk simak resepnya. You won't die ;)

Bahan:
- Telur 2 butir
- Garam secukupnya


Cara Membuat:
1. Ambil satu telur, pecahkan lalu kocok seperti saat mau membuat telur dadar.
 
2. Pecahkan telur kedua, dan pisahkan kuning dan putih telur. Masukkan putih telur dalam kocokan telur pertama, kocok kembali hingga merata. Sisakan kuning telurnya
3. Panaskan minyak pada teflon anti lengket, tuang kocokan telur ke dalam teflon, dengan api kecil. Akan terlihat seperti membuat telur dadar. Brace yourself for the next!

4. Masukkan segera kuning telur yang tersisa di tengah gorengan telur dadar. Masakan bisa ditutup pakai tutup panci sampai kedua sisi matang, atau dibalik setelah bagian bawah sedikit kering. (In my case, telurnya dibalik. Yang rapi ya ngebaliknya, biar kuning telurnya perfecto, yummm)


5. Setelah matang, angkat dan telur Darplok siap dihidangkan bersama nasi goreng! (Well in my case, ini nasi pake kecap hehe)


YAP. I COMPLETELY EMBARASSED MYSELF. BYE.

Darplok asli kayak gini: Link

Friday, January 30, 2015

Aku Ingin Hidup Sederhana

Salah satu temanku di F. Psikologi, semester lalu mempresentasikan materi pada kelas Psikologi Konseling. Ia mendapatkan tugas mengenai konseling pada Lansia. Kebetulan, ia mewawancara seorang kakek tua yang berprofesi sebagai tukang ojek di daerah Kampus. Teman saya tersebut berulang kali menyampaikan pesan penting yang kelompok teman saya dapatkan, yang katanya selalu diucapkan berulang kali oleh bapak tua tersebut.

"Hiduplah sederhana"

Sederhana. Sederhana itu tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Tidak terlalu kaya, tidak juga miskin, tidak terlalu berbahagia dan tidak terlalu bersedih. Hidup di tengah-tengah. Kenapa? Teman saya mengutip dari bapak tua tadi. Hiduplah sederhana, ibarat sebuah garis vertikal, hidup sederhana berarti berada di tengah-tengah garis tersebut. Jika kita berada di atas, ketika kita 'terjatuh', hidup akan jauh terpuruk. Jika kita berada di bawah, ketika mendapatkan keuntungan, akan lebih mudah untuk sombong atau takabur. Hidup sederhana membuat kita tidak terlalu sakit ketika sedang terjatuh, dan tidak tinggi hati ketika kita berada di puncak kejayaan.

(source)
Seringkali kita berusaha melakukan sesuatu, untuk mencapai puncak, mencapai kejayaan, kekayaan, dan yang katanya, kebahagiaan. Tapi tahukah, apakah kebahagiaan hanya bisa didapatkan di 'puncak'? Seringkali dengar kalimat "Bahagia itu sederhana?" Iya, sesederhana berkumpul dengan keluarga, teman-teman, orang yang dicintai, mengelus kucing, memakan coklat. Seperti kutipan di gambar yang saya tempel di atas, kesederhanaan memberikan pada kita ruang untuk berpikir lebih dalam tentang kehidupan. Buat apa kita terus mencari kekayaan tapi tidak mengerti makna dari segala proses yang kita lewati setiap harinya? Tanpa sadar, kita kehilangan makna hidup, kehilangan kebahagiaan karena terlalu sibuk mencari kekayaan, mencari yang katanya kebahagiaan itu sendiri.

Aku ingin hidup sederhana. 

Aku tidak mau punya terlalu banyak harta, yang membuatku menjadi sombong, menjadi selalu was-was akan kehilangan hartaku, selalu pusing membeli ini itu agar orang lain memandangku berduit, mencari respek orang lain. Bukan berati aku juga ingin jadi miskin, yang membuatku pusing memikirkan usaha apalagi yang harus aku lakukan untuk bisa makan, berhutang sana sini untuk hidup.  Buat apa uang banyak, jika hanya disimpan di dalam bank, padahal banyak orang lain membutuhkan, atau membeli produk bukan atas dasar kebutuhan, tapi mencaci kenapa biaya sekolah mahal. Bukan berarti aku mau punya uang yang hanya cukup untuk membeli makan.

Buat apa rumah besar, jika membuat orang di dalamnya harus teriak-teriak untuk hanya memanggil nama, boro-boro meneriakkan kata sayang, gengsi keleus. Bukan berarti aku ingin rumah kecil, yang membuat aku dan keluarga tak nyaman untuk berselonjor. Buat apa mobil banyak, jika mobil malah membuat anak cucu keturunan kita tidak bisa merasakan segarnya oksigen, hanya ada asap kotor. Bukan berarti aku ingin hidup tanpa transportasi, apa-apa berjalan kaki, meski 100 kilometer, jalan kaki sampai mati.

Aku ingin hidup sehat.

Menurutku, hidup sederhana itu juga salah satu pola hidup sehat. Baik sehat fisik maupun sehat mental. Secara fisik, hidup sederhana membuat kita tidak berlebihan dan tidak kekurangan pula dalam makan. Hidup sederhana tidak membuat kita banyak menyediakan makanan di rumah. Membuat kita membeli segala macam makanan, bahkan sampai belum habis dan malah basi dan mubazir. Sederhana tidak membuat kita terus menyuapi nafsu kita, membuat kita sakit jantung karena obesitas. Tapi bukan juga hidup sederhana hanya dengan memakan nasi, sehingga malah kekurangan gizi. Contoh hidup sehat lainnya yakni hidup sederhana dengan kendaraan. Misalnya, pergi ke warung depan jalan rumah dengan berjalan kaki, itu lebih sehat daripada naik motor kan? Tidak perlu gengsi "pejabat kok jalan kaki?" Syukuri kaki dan tanahmu. Gunakan tanah untuk berpijak, sebelum kamu kembali ke tanah.

Tentang kesederhanaan ini, mungkin ada yang bingung dan bertanya, "Tapi bagaimana jika kita sakit? Nanti kalau sederhana, malah gak bisa bayar untuk rumah sakit." Mungkin kita perlu tahu bahwa Allah itu memberikan cobaan pada hambanya sesuai dengan kemampuan. Lagipula tadi kan dibilang, siapa bilang hidup sederhana itu artinya punya duit? Kalaupun kurang juga masih ada BPJS dan bantuan lain sebagainya, bantuan pasti ada, Allah itu ada.

Terus ada juga yang bilang, "Tapi saya sudah hidup sederhana masih saja dapat cobaan dari Allah. Lama-lama saya miskin juga." Allah itu memberikan cobaan agar hambanya bersimpuh, meminta ampun pada Allah, merefleksikan diri. Mungkin teman-teman lupa sama Allah, belum ikhlas, belum sabar. Pilihan hidup ini cuma dua, bersukur atau bersabar. Jika belum rejeki, bersabar, jika sudah ada, bersyukur. Jika masih diberikan cobaan, mungkin saat sehat kemarin kamu kurang bersyukur, maka bersabarlah, mungkin masih ada kecacatan dalam ibadah, amal dan akhlak (dikutip dari sebuah seminar yang lupa kapan, di mana dan oleh siapa ._.)

Aku pernah dengar kata orang, "Hiduplah dan dapatkan rejeki lebih, agar kita masih bisa memberi dan memberi manfaat pada orang lain." Ya, mungkin nasehat orang itu benar. Bukan berarti hidup sederhana itu punya rejeki yang kurang. Sebut saja rejeki itu uang ya. Kita juga perlu punya uang cukup, untuk menghidupi keluarga dan juga membantu orang lain. Tapi bukan berarti kita terus orientasinya punya uang banyak. Punya uang banyak itu bahaya lho, nanti aku jelasin. Intinya, gak perlu uang banyak untuk bisa memberikan manfaat. Seorang tukang semir sepatu di Amerika aja bisa menyumbang sebuah Yayasan Yatim Piatu senilai 2 miliyar lho! Siapa bilang harus kaya untuk bisa memberi kebaikan, memberi manfaat?
 
Sayangnya, saat ini di dunia ini, uang adalah segalanya. Mendengar kata "rejeki" aja pikirannya uang, bukan? Padahal uang itu buatan manusia, rekayasa manusia, ya kan? Dulu orang bikin benda yang 'sengaja' diberi nilai biar bisa tukar-tukaran barang. Sekarang benda yang 'dinilai' itu jadi rebutan semua orang. Kenapa orang gak berebutan untuk mendapatkan apa buatan Allah, surga gitu misalnya? Mungkin kalau uang bukan segalanya saat ini, kalau semua orang mau hidup sederhana, hidup akan jadi lebih enak. Gak ada orang bunuh-bunuhan karena uang, gak ada orang yang korupsi, gak ada pencurian, masuk penjara, bunuh diri karena hutang, dan lain-lain. Benar kan, uang itu bahaya?

Nah ini, yang maksudku bahwa hidup sederhana itu pola hidup sehat untuk mental. Mungkin aku belum jadi orang dewasa yang harus cari uang menghidupi keluarga dan diri sendiri. Mungkin pada bilang aku sok tau, tau gimana. Tapi ini harapanku. Aku tidak ingin hidup karena uang, atau dihidupi hanya dengan uang. Aku tidak ingin stres, sedih, marah karena uang. Bahkan aku tidak ingin bahagia karena uang. Aku ingin bahagia karena hidup sederhana. Aku ingin bahagia ditemani oleh orang-orang tercintaku, melakukan apa yang senang kulakukan. Menjadi manusia yang seutuhnya, mengaktualisasikan diri, beriman, betakwa. Aku yakin, jika kita hidup sederhana, tentunya ditambah dengan dua pilihan tadi, 'bersabar dan bersyukur', uang hanya menjadi benda yang 'diberi nilai' yang mengalir saja untuk membuatku hidup di dunia, bukan harta karun yang harus selalu dicari lalu disimpan hingga bertumpuk-tumpuk. Karena hidup kita sebenarnya itu di akhirat, buat apa pusing-pusing mikirin benda dunia.

Aku ingin bahagia.

Sekian dulu, ocehan saya. Semoga bisa menjadi sebuah renungan. Semoga berbahagia ;)

Tuesday, January 6, 2015

Kuliah Psikologi: Tentang Kode

Gak terasa sudah empat tahun saya menjalani kuliah di Fakultas Psikologi. Banyak yang menanyakan saya, "kenapa masuk psikologi?" Dulu waktu jaman maba, lebih sering lagi mendengar pertanyaan "dari jurusan IPA kok pindah ke IPS?", apalagi dari keluarga. Jawabannya: suka-suka saya dong mehehe. Kepikiran aja, saya gak pernah membuat post tentang menga[a saya memilih jurusan kuliah saya, padahal dulu jaman maba sudah booming banget.

Saya itu dari kecil suka sekali bermain game. Pertama kali kenal game itu sejak papa membeli laptop pertamanya, dengan windows di dalamnya. Jaman-jaman laptop super tebal dan super panas. Game komputer favorit saya dulu adalah Chip's Challenge. Kegemaran saya ini berlanjut hingga ke tahap PS1, PS 2 serta game PC. Saya menghabiskan banyak waktu saya untuk bermain game, sehingga yaa prestasi saya memang bisa dibilang tidak terlalu baik saat di sekolah. Namun, saya selalu amazed, mengapa orang bisa membuat such game seperti itu yang membuat orang bisa menghabiskan waktunya untuk bermain game dan membuat senang. Saya pun bercita-cita untuk menjadi pembuat game, dengan berencana kuliah di fakultas ilmu komputer.

(source)
Dulu saya telat banget, masuk SMA saya belum tahu apa-apa tentang dunia perkuliahan. Saat masa-masa kelas 3 SMA, tentu banyak informasi yang saya dapatkan tentang perguruan tinggi dan jurusan di dalamnya. Setelah saya lihat dan pelajari, ternyata jurusan komputer itu memang tempatnya anak-anak super pinter yang prestasi di sekolahnya baik. Saya mencoba memasuki fakultas tersebut melalui jalur SNMPTN undangan, dan tentunya saya tidak lolos, karena nilai saya memang pas-pasan. Saya pun merasa putus harapan.

Saya baru menemukan yang namanya profesi psikolog saat kelas tiga SMA. Dari dulu, saya kira ini bukan sebuah profesi formal, tapi hanya seperti apa ya, 'staf pengurus orang sakit jiwa'. Tapi entah kenapa saya menjadi tertarik mempelajari ini, karena ilmu ini gak mainstream. Maksudnya, kalo dokter atau perawat, pasti akan belajar biologi lagi, di teknik atau MIPA, akan belajar fisika matematika lagi. Nah psikologi, belajar apa? Sosiologi kayaknya ga seberapa ada di Psikologi. Dengan keingintahuan tentang manusia, saya pun ingin mempelajari hal itu lebih dalam.

Saya pun Alhamdulilllah masuk ke dalam jurusan ini. Memang jodoh sepertinya. Setelah dijalani, ternyata saya jatuh cinta dengan ilmu ini. Entah kenapa saya merasa bangga, bisa lebih tau tentang manusia, bisa dianggap bisa 'baca orang', dibilang 'tempat curhat yang baik'. Meskipun kadang suka diejek karena kerjaannya bikin makalah terus. Saya merasa ilmu ini sangat aplikastif. Istilahnya, selama masih ada manusia, ilmu psikologi akan masih ada.

Keinginan saya jadi bertolak belakang ya, tadinya ingin mempelajari komputer, sekarang jadi ingin mempelajari manusia. Padahal sebenernya masih pingin bisa mempelajari keduanya, hehe. Tadinya pengen masuk ke jurusan yang mempelajari komputer. Belajar mengenai kode-kode matriks dan segala macam. Tapi, di psikologi juga bisa ternyata mempelajari kode-kode, yaa, kode kode itu adalah perilaku manusia. Di sini lah keahlian orang-orang psikologi yang katanya bisa "baca orang" padahal sih kita itu behavioral scientist, yaitu mempelajari perilaku.

Iya, perilaku manusia itu bisa dilihat dari kode. Perilaku apa yang dimunculkannya, ekspresi, body language, postur, dan sebagainya. Tapi sebenarnya kerjaan anak psikologi itu gak sesimpel 'baca orang'. Tentu ada banyak peminatan di Psikologi seperti psikologi perkembangan, psi klinis, psi industri dan organisasi, psi sosial, dan psi pendidikan. Semua bidang peminatan itu tentunya berbeda-beda cara memandanga orangnya. Beda-beda kode yang harus ditangkapnya. Misalnya dalam psikologi perkembangan, tingkah laku manusia dilihat dari tahap-tahap perkembangan manusia. Psikologi sosial, perilaku dilihat dari fenomena sosial atau dinamika di sebuah kelompok. Dan segala macamnya. Intinya, gak beda sama ilmu komputer, anak psikologi juga belajar kode yang berbeda-beda. Hemm jadi tulisan saya ini semacam penerimaan diri atas kegagalan saya masuk jurusan ilmu komputer, hehe. 

Jujur deh, kayaknya alasan 'kenapa masuk psikologi' baru saya dapatkan ketika sudah lama berkecimpung dalam hal ini. Dulu, kalo ditanya, saya cuma jawab, pengen tau tentang ilmu manusia. Atau kayak kebanyak teman-teman "sering jadi tempat curhat". Tapi ternyata, alasan saya, jauh lebih dari itu. Apalagi ketika kamu sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, contohnya saya sendiri ikut Kuliah Kerja Nyata, mengajar anak-anak kurang mampu, dan sebagainya. Saya ingin bisa berbuat lebih kepada masyarakat, kepada dunia, dengan ilmu saya. Saya ingin membuat dunia ini menjadi lebih baik. Karena saya yakin bisa. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubah dirinya sendiri kan? Nah siapa yang bisa membantu mengubah perilaku individu-individu itu? Iya, orang dengan ilmu psikologi.

Sekian dulu dari saya, semoga yang mau masuk Psikologi lebih dikuatkan lagi. Buat yang bingung, semoga diluruskan niatnya, dan gak malah berobat jalan di Fakultas Psikologi hehe.

Sunday, December 14, 2014

Snowball and Letter of Love

Kalian tau snowball? Yap, bola salju! Selamat kalian lulus bahasa inggris! :P Kalo kalian sering nonton kartun kayak Tom and Jerry, Mickey Mouse atau Donal Duck, pasti pernah tuh melihat adegan dimana jika karakternya jatuh dari puncak gunung salju dan menggelinding ke bawah, karakter tersebut akan menjadi bola salju yang semakin lama semakin besar.

Nah, yang saya suka adalah konsep snowball yang semakin lama semakin membesar ini di aplikasikan nih menjadi sebuah permainan kecil untuk memberikan feedback, komentar, atau ucapan semangat. Pertama kali saya mengetahui snowball ini adalah ketika akhir dari rangkaian PDKM Psikologi UI 2011. Sebelum kembali ke Depok lagi, kami satu kelompok mentoring diminta untuk menuliskan pesan.

Caranya, masing-masing orang memegang kertas, dan kertas diberi nama sendiri. Kemudian dalam lingkaran, putar kertas kepada orang di sebeleh searah jarum jam, dan kertas yang kita pegang sekarang menjadi kertas milik orang lain. Disitulah kita harus menulis pesan pada orang yang punya kertas tersebut dalam waktu yang singkat, sekitar 30 detik sampai 1 menit. Nah, putar terus dengan waktu pertukaran yang serempak, hingga kertas punya kita kembali ke kita. Don't be amazed, di kertas kita nanti ada banyak pesan yang unik, tak terduga, menyentuh, sampai apapun itu rasanya :")

Nah, sampai sekarang, saya ketagihan nih sama snowball ini! Karena, isinya bisa bener-bener bikin semangat walaupun hanya tulisan "semangat yaa!" tapi memang ada kekuatan tersendiri untuk menaikkan mood saya dan memberi semangat. Sampai saat ini sudah banyak snowball yang saya lakukan, baik dari teman2 satu organisasi maupun satu bidang kepanitiaan.

Kalo lagi badmood, kesel, males, sedih, biasanya saya suka nih iseng buka lagi koleksi snowball saya. Dan hasilnya, bener-bener bikin saya senyum kembali, dan langsung seneng, kadang juga terharu karena merasa ada orang yang perhatian sama kita. Kadang suka lucu juga ternyata dulu kita orangnya beda, dan impresi orang kepada kita beda banget.


Koleksi Snowball dan Love Letter Saya

Ada lagi nih konsep lain dari snowball, yaitu love letter. Intinya sih sama, memberi pesan kepada orang yang kita ingin berikan. Tapi kalo love letter ini dibuat untuk cakupan yang lebih besar, misalnya satu angkatan atau satu kepanitiaan besar. Caranya, sediakan banyak amlop masing-masing berisi nama tiap orang orang anggota, amplop ini kemudian ditempel di tembok. Lalu, siapapun bisa mengisi amplop tersebut dengan surat semangat, bahkan hadiah kayak permen.

Nah kelebihannya adalah, kita bisa menulis selama yang kita mau dan sepanjang apapun. Tapi kekurangannya adalah, bahwa gak semua orang bisa dapet love letter, biasanya sih emang tergantung seberapa kenal dan dekat orang yang menulis love letter dengan yang akan diberinya. Kalau emang satu orang bener-bener sayang semua orang sih, mungkin mau-mau aja nulis surat ke semua orang. Kemudian untuk penulisan love letter juga perlu ada jangka waktu yang lebih lama, misalnya seharian amplop love letter dipajang, atau biasanya lebih dari satu hari untuk acara yang nginep-nginep, atau bahkan satu paruh kepengurusan (dipajang di ruang student center atau ruang kesekretariatan organisasi).

Banyak hal sih selain snowball atau love letter yang bisa digunakan untuk memberi pesan. Misalnya pesan dari rapot kepengurusan organisasi, atau dari PSDM organisasi. Ada juga pesan yang dibuat karena ada promosi barang dagangan, misalnya kamu titip pesan dengan membeli cokelat untuk orang yang akan kamu beri pesan. Jadi nanti cokelatnya tiba-tiba datang ke orang itu dengan pesan anonim yang bikin ge er. Semacam itulah, beragam cara kita bisa kasih pesan ke orang lain.

Well, itu saja dari saya yang emang secara berkala suka membuka-buka kembali koleksi love letter dan snowball saya untuk penyemangat. Semoga buat kalian yang belum, bisa mengaplikasikan permainan ini kepada orang-orang tersayangnya. Yang sudah pernah, jangan dibuang, dikoleksi aja :)

Popular Posts